Tujuh Destinasi Wisata Paling Hits di Kabupaten Ngada Flores NTT

NUSADAILY.COM-BAJAWA – Kekayaan alam di Provinsi Nusa Tenggara Timur sungguh berlimpah. Ketika mendarat di Pulau Flores, jangan lupa tinggal dan berwisata sejenak di Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kabupaten Ngada beribukota di Bajawa. Kondisi wilayah Kabupaten Ngada umumnya bergunung dan berbukit. Agak landai di bagian utara dengan luas wilayah mencapai 1.620,92 kilometer persegi.

Kabupaten Ngada memiliki potensi wisata yang sangat luar biasa untuk dikunjungi. Baik berwujud wisata alam maupun wisata budaya.

Tidak mengherankan bila daerah ini menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi wisatawan domestik maupun wisatawan asing.

Berikut ini tujuh lokasi wisata yang cantik dan bisa dijangkau ketika tinggal sejenak di Bajawa.

1. Taman Laut Riung 17 Pulau

Wisata alam Taman Laut Riung 17 Pulau terletak di Kecamatan Riung. Wilayah wisata ini mencakup beberapa desa/kelurahan. Yakni masuk Desa Tadho, Kelurahan Benteng Tengah, Kelurahan Nangamese, Kelurahan Lengkosambi, Desa Sambinasi dan Desa Latung.

Salah satu dermaga di Riung 17 Pulau (Foto: Hipwee)

Posisi di peta adalah sebelah utara wilayah Kabupaten Ngada. Jarak dari Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada, kurang lebih 75 kilometer. Untuk menuju ke taman laut ini, butuh waktu dua hingga tiga jam mengendarai kendaraan umum maupun pribadi.

Di kawasan ini terdapat 17 pulau besar dan kecil yang letaknya berdekatan satu sama lain. Pulau-pulau itu adalah pulau Pata, Bangko, Rutong, Bampa, Sua, Telu, Mborong, Kolong.

Lalu ada pulau Ontoloe (Pulau Kelelawar), Sui, Wire, Meja, Wawi, Batu, Taor, Laingjawa, Wingkureo.

Pulau-pulau tersebut dapat dilihat dengan berkeliling menggunakan speedboat selama kurang lebih dua setengah jam. Ongkosnya Rp350 ribu per kapal.

Perairan di kawasan ini memiliki beberapa jenis karang yang keras dan lembut. Juga ikan hias berwama-warni. Semua keindahan bawah taut tersebut dapat dinikmati dengan mata telanjang dari atas perahu. Waktu yang tepat adalah saat laut dalam keadaan tenang di pagi hari sekitar pukul 05.00 – 06.00 WITA.

Pulau kelelawar (Foto: ataflores)

Pulau Ontoloe disebut Pulau Kelelawar karena menjadi habitat ribuan kelelawar. Mereka bergelantungan di pepohonan yang rimbun di pulau itu.

Di sini juga terdapat kadal raksasa mirip komodo yang biasa disebut Mbou. Mbou masih satu jenis dengan Varanus komodoensis (komodo) di Pulau Komodo. Bedanya, warna kulit dari Mbou ini lebih menarik.

2. Pemandian Air Panas Mangeruda

Pemandian air panas Mangeruda berada di Desa Piga, Kecamatan Soa. Berjarak sekitar 25 km dari Kota Bajawa. Untuk menuju lokasi ini kamu bisa menggunakan sepeda motor atau mobil. Bentuk pemandian ini terdiri atas beberapa kolam.

Kolam air panas Mageruda (Foto: ayocerita2)

Masing-masing kolam memiliki tingkatan suhu yang berbeda. Ada yang tinggi, hingga 44 derajat Celcius dan juga anda yang hangat-hangat kuku.

Saluran air panas di kawasan ini bermodel layaknya sungai air panas yang mengaliri kolam.  Air panas di Mengeruda berasal dari sumber mata air dengan suhu 44 derajat celcius. Namun saat mengalir hingga ke kolam pemandian, suhunya menurun hingga 36 derajat celcius.

Sumber air panas di Mageruda (Foto: ayocerita2)

Untuk memasuki tempat ini, wisatawan hanya dikenakan biaya Rp 2.000 untuk anak-anak dan Rp 4.000 untuk wisatawan domestik. Sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenakan tiket masuk sebesar Rp 14.000 per orang.

3. Kampung Adat Bena

Kampung adat Bena terletak di kaki Gunung Inerie. Suhu udara di kawasan adat Bena ini sangat sejuk dan dingin.

Bentuk rumah adat di kampung tradisional ini sangat unik dan khas, seakan menghadirkan sebuah budaya yang tak lekang oleh waktu.

Masyarakatnya yang ramah mampu memberikan rasa nyaman, sehingga wisatawan semakin betah untuk tinggal lebih lama.

kampung bena
Kampung Bena (Foto: komodoheaventour.com)

Kampung Bena diperkirakan telah ada sejak 1.200 tahun silam. Hingga kini pola kehidupan serta budaya masyarakatnya tidak banyak berubah. Dimana masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.

Kampung Bena memiliki panjang 375 meter dan lebar 80 meter. Setidaknya ada lebih dari 45 rumah yang mengelilingi perkampungan ini. Ornamen-ornamen budaya megalit masih kental di perkampungan ini.

Kontur perkampungan ini bila diperhatikan mirip terasering. Ada sembilan tingkat ketinggian tanah di kampung ini. Ternyata perbedaaan ketinggian tanah itu sekaligus membedakan sembilan suku yang mendiaminya. Setiap satu suku berada dalam satu tingkat ketinggian tertentu.

Kampung Adat Bena terletak di Desa Tiwuriwu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Jarak kampung ini dari pusat Kota Bajawa sekitar 19 kilometer. Lokasi Kampung Adat Bena bisa diakses menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Kondisi jalannya saat ini sudah baik.

4. Wisata Air Terjun Ogi

Wisata alam air terjun Ogi terletak di Kelurahan Fobata, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada. Nama lain dari air terjun Ogi adalah air terjun Soaseso.

Air terjun Ogi (Foto: visitngada.com)

Posisinya terletak 8 kilometer dari pusat kota Bajawa, dengan waktu tempuh kurang lebih 15 menit. Medan yang harus ditempuh adalah jalanan menurun dan tanjakan.

Air terjun Ogi memukau dengan pemandangan alamnya yang menakjubkan. Pengunjung bisa menikmati keasrian hamparan sawah sepanjang jalan menuju ke lokasi.

5. Puncak Gunung Inerie

Gunung Inerie adalah salah satu gunung yang berada di Kabupaten Ngada Nusa Tenggara Timur. Gunung yang memiliki ketinggian 2.245 meter dari permukaan laut ini terbilang sangat unik.

Gunung Inerie (Foto: gunung-indonesia.com)

Bentuk Gunung Inerie kerucut seperti piramida di Mesir. Spot terbaik untuk melihat Gunung Inerie dari Aimere. Karena dari titik ini, pengunjung bisa melihat gunung Inerie dengan kedua sisinya, benar-benar lurus seperti piramida.

Bila ingin mendaki, titik awal pendakian gunung Inerie berada di Desa Watumeze. Lokasi desa ini dapat ditempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Bajawa.

Pemandangan dari puncak Gunung Inerie (Foto: gunung-indonesia.com)

Pendakian dari titik awal menuju puncak memerlukan waktu sekitar tiga jam. Medannya curam dan jalannya berpasir. Dari atas puncak Gunung Inerie, pengunjung bisa melihat Kota Bajawa yang dikelilingi oleh pegunungan dan hamparan hutan yang hijau. Pemandangan Laut Sawu di selatan gunung ini juga tampak dari Puncak Inerie.

6. Panorama Manulalu

Kampung Adat Bena adalah daya tarik utama di kaki Gunung Inerie. Tetapi, tak jauh dari sana, ada sebuah tempat yang tak kalah menarik.

Panorama Manulalu namanya. Manulalu berarti ayam jantan. Lokasinya berada di Bajawa, 20 menit dari tempat wisata Kampung Bena. Di Panorama Manulalu, pengujung bisa menikmati panorama alam Gunung Inerie dan lembah Kampung Adat Bena

Pemandangan dari vila Manulalu (tripadvisor.com)

Di Panorama Manulalu, ada sebuah vila yang bernama Vila Manulalu. Lokasinya persis di bawah bukit Manulalu yang rindang. Lokasinya tenang, sejuk, dan nyaman. Sangat pas bagi wisatawan yang ingin istirahat total.

7. Menikmati Senja di Puncak Bukit Wolobobo

Negeri di atas awan. Itulah sebutan warga net tentang Puncak Wolobobo. Ketika senja, awan seperti berada di bawah Puncak Bukit Wolobobo yang ada di Desa Turekisa, Kecamatan Golewa Barat, Kabupaten Ngada, Flores, NTT.

Panorama negeri di atas awan Bukit Wolobobo (foto: bikerjelajahnusantara)

Panorama dari atas Bukit Wolobobo terlihat begitu indah. Siluet Gunung Inerie yang tertutup kabut dan awan, serta hamparan hijau berselimut kabut sejauh mata memandang. Ditambah warna langit merah mudanya. Ini menciptakan pemandangan yang luar biasa. Angin di puncak bukit itu sangat kencang dan terasa dingin, menyegarkan.

Jarak dari Kota Bajawa ke Puncak Bukit Wolobobo kurang lebih 3 kilometer. Pengunjung cukup membayar tiket masuk Rp 5.000 per orang. Pengunjung lalu bisa berekreasi sepuasnya.

Jelang matahari tenggelam (Foto: bikerjelajahnusantara)

Fasilitas di puncak Bukit Wolobobo terbilang cukup lengkap. Terdapat lahan parkir kendaraan, tempat duduk, dan warung kopi. Untuk menuju puncak bukit sangat mudah. Akses jalan sudah beraspal, meski masih ada yang berlubang. Pengunjung perlu berhati-hati, karena jalannya agak menanjak dan berkelok-kelok khas perbukitan. (ven/yos)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *