Black Friday, Belanja Diskon Besar-Besaran di Berbagai Penjuru Dunia

IMPERIUMDAILY.COM-AMERIKA SERIKAT– Hari ini, (29/11) warga Amerika Serikat tengah merayakan Black Friday, musim belanja di jumat pertama setelah pekan Thanksgiving.

Black Friday ini identik dengan diskon besar-besaran di berbagai pusat perbelanjaan. Mulai dari penjualan bahan makanan hingga peralatan elektronik. Dari toko di pinggir jalan, hingga toko online seperti Amazon, eBay, dan masih banyak lagi.

Black Friday biasanya jatuh di pekan terakhir bulan November. Tahun ini, Black Friday digelar pada 29 November 2019.

Menurut data dari National Retail, 114,6 juta orang akan berbelanja pada momen Black Friday. Penyebutan Black Friday sendiri berakar dari kehebohan belanja yang menimbulkan kemacetan lalu lintas hingga kekerasan.

Dikutip dari The Balance, Para polisi Amerika Serikat kemudian menciptakan frasa Black Friday untuk menggambarkan kekacauan yang terjadi di area pusat perbelanjaan saat diskon besar-besaran sedang terjadi.

USA Today melaporkan, mayoritas pembukaan toko saat Black Friday bervariasi. Seperti di Kmart dan Big Lots, pusat perbelanjaan Amerika Serikat yang sering mengadakan Black Friday, sudah buka sejak pagi hari.

Sedangkan di J.C. Penney di Merritt Island, Florida, baru dibuka pukul 2 dini hari waktu setempat. Namun, ratusan pembeli dikabarkan sudah mengantre sejak pagi untuk mendapatkan kupon gratis.

Banyak pembeli yang memanfaatkan momen Black Friday untuk mempersiapkan kebutuhan menjelang Natal. Beberapa bahkan rela berangkat lebih awal agar mendapatkan antrean pertama.

“Saya ingin memulai lebih dulu karena besok pasti akan panik. Saya tidak ada pekerjaan lain pagi ini, jadi ini (Black Friday) akan menjadi momen awal saya untuk belanja Natal,” jelas Aidan Sanchez, salah satu pelanggan yang sudah datang sebelum toko dibuka, dilansir dari USA Today.

National Retail juga memperkirakan, pembeli akan menghabiskan $728 miliar hingga $731 miliar pada bulan November dan Desember nanti.

Sebelum muncul istilah Black Friday, hari belanja setelah Thanksgiving sudah menjadi tradisi masyarakat Amerika Serikat sejak tahun 1950-an. Mereka bahkan menyediakan hari untuk tidak masuk kerja sehingga memiliki waktu yang lama untuk berbelanja.

Karena banyaknya karyawan yang mengambil izin, beberapa perusahaan akhirnya menjadikan Black Friday sekaligus sebagai hari libur.

Black Friday mulai dipopulerkan oleh Polisi Philadelphia karena terjadinya kemacetan panjang tepat pada hari belanja setelah pekan Thanksgiving tahun 1966. Di tahun yang sama, majalah The American Philatest kemudian menerbitkan iklan bertajuk ‘Black Friday’. Sejak saat itu istilah Black Friday mulai dikenal warga Amerika.

Mengutip The Telegraph, ketika nama Black Friday tersebar di seluruh Philadelphia, beberapa pedagang dan penggerak bisnis sempat merubah istilah ini menjadi Big Friday agar menciptakan konotasi yang positif, namun tetap tidak berhasil.

Saat Black Friday, para polisi di Amerika Serikat harus bekerja double shift untuk mengendalikan berbagai kericuhan yang dikhawatirkan terjadi.

Hingga kini, Black Friday semakin populer di penjuru dunia. Banyak negara mengadopsi istilah Black Friday untuk mengadakan diskon besar-besaran pula, namun dengan istilah yang berbeda-beda.

Semakin mudahnya akses internet, keuntungan Black Friday pun juga bisa dirasakan para pengguna jasa belanja online di seluruh dunia.(lna)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *