Kabupaten Malang Dorong Pengembang Beralih Bangun Rusun

NUSADAILY-MALANG – Pemerintah Kabupaten Malang mendorong developer atau pengembang perumahan untuk membangun gedung dan rumah tinggal secara vertikal.  Dorongan ini mulai digencarkan untuk mempertahankan lahan produktif yang menjadi aset berharga Kabupaten Malang.

Kepala BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Kabupaten Malang Ir Tomie Herawanto,MAP, Jumat (1/11) menerangkan, konsep rumah susun yang digalakkan Pemkab ini untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal warga sekaligus mengurangi penggunaan lahan produktif untuk bangunan.

Tempat tinggal merupakan kebutuhan pokok. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, permintaan rumah tinggal di Kabupaten Malang juga semakin tinggi.

Permintaan itu berbanding terbalik dengan ketersediaan lahan. Lahan yang diperuntukkan bagi permukiman terus berkurang. Akibatnya banyak lahan pertanian produktif seperti sawah yang seharusnya menopang ketersediaan dan ketahanan pangan, beralih fungsi menjadi kawasan perumahan.

Sehingga untuk mencukupi kebutuhan tempat tinggal dan menghindari semakin banyaknya alih fungsi lahan pertanian produktif, Pemkab Malang mendorong pembangunan rusun.

Dasar hukum, lanjut Tomie, membangun gedung vertikal telah ada dalam Perda 3/2010 tentang RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah).

“Pengembangan perumahan rakyat dengan konsep vertikal ke atas di Kabupaten Malang, sangat bisa. Regulasinya bahkan sudah ada, yaitu Perda RTRW. Salah satu arahnya memang untuk menekan alih fungsi lahan pertanian produktif,” terang Tomie.

Tomie mengatakan konsep vertikal tersebut harus terus dikembangkan. “Memang saat ini kita masih dalam posisi mengimbau kepada pengembang atau developer. Untuk menuju ke sana dengan pengharusan (aturan mengikat), belum. Ini nanti yang harus didiskusikan,” imbuhnya.

Melihat kondisi geografis Kabupaten Malang, tentu tidak semua wilayah bisa mengembangkan perumahan model susun. Ada daerah tertentu seperti Poncokusumo yang ada di ketinggian dan rawan gempa, tidak direkomendasikan untuk pembangunan rusun.

“Tentu harus melihat topografi wilyahnya, kalau sesuai regulasi, pengembangan rusun nanti di daerah lingkar kota. Misalnya Kepanjen, Lawang, Singosari atau Dau yang memiliki risiko gempa tidak terlalu besar,” jelas Tomie.

Satu hal lagi, yang tidak bisa ditinggalkan dalam konsep pembangunan rusun adalah ciri khas Kabupaten Malang. Meski ciri khas ini juga belum terkonsep secara jelas.

“Kita ingin membranding Kabupaten Malang, mungkin nanti aturannya bisa dituangkan melalui Perbub, bagaimana ciri khas bangunan di Kabupaten Malang, itu yang jangan ditinggalkan,” tegas Tomie.

Rencana Pemkab Malang mengembangkan konsep rusun untuk perumahan warga mendapat sambutan positif dari para pengusaha.

Wasekjend DPP REI Drs.H.M Tri Wediyanto, M.Si mengatakan “Untuk wilayah Kabupaten Malang sudah saat nya untuk bangun rusun sebagai pengganti RSS (rumah sangat sederhana). Mengingat lahan untuk RSS yang harga tanahnya tidak boleh lebih dari 200 ribu, sudah sulit didapat. Jadi memang saat ini pengembangan rusun sebagai RSS sudah sangat tepat,” ungkap Tri.

Namun lanjut Tri, untuk membangun sebuah rusun, ada hal-hal yang harus menjadi pertimbangan. Misalnya topografi wilayah.

“Dan satu yang penting, rusun harus dibangun dekat dengan sarana infrastruktur lain, artinya berada di dekat kota atau pusat keramaian,” jelas pemilik bendera PT Kharisma Karangploso ini.

Tri menilai semua pihak juga perlu memberi pemahaman kepada masyarakat. Karena selama ini persepsi masyarakat lebih menyukai rumah konvensional.

“Itu yang harus diubah mind set masyarakat kita masih nyaman dengan bangunan rumah secara utuh dengan ada halamannya. Jika itu (rusun) bisa dilakukan, dan ada yang memulai (membangun rusun), saya yakin animo masyarakat akan tinggi,” pungkas Tri. (jul/yos)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *