KH Masjkur, Tokoh NU Singosari Dapat Gelar Pahlawan Nasional

IMPERIUMDAILY.COM-JAKARTA – Pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada enam orang saat Upacara Hari Pahlawan 10 November 2019 di TMP Kalibata Jakarta Selatan.

Presiden Joko Widodo membacakan penganugerahan itu usai prosesi upacara Hari Pahlawan.

Keenam orang itu adalah pendiri Universitas Islam (UII) Yogyakarta, Abdoel Kahar Moezakkir. Lalu rektor pertama Universitas Gadjah Mada Dr. Sardjito.

Selanjutnya ada eks Menteri Keuangan, Alexander Andries Maramis. Lalu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus eks Menteri Agama, Kiai Masjkur.

Dari kalangan jurnalis ada nama jurnalis asal Minang, Roehana Koeddoes. Terakhir, gelar pahlawan diberikan kepada putra daerah pemimpin perlawanan imperialisme Belanda di Kesultanan Buton, Sultan Himayatuddin.

Di antara keenam pahlawan itu, ada nama KH Masjkur. Beliau adalah putra asli Singosari, Malang, Jawa Timur.

KH Masjkur lahir di Singosari Malang, Jawa Timur, pada 1900. Beliau meninggal 18 Desember 1992 pada usia 92 tahun.

Dikutip dari Menteri-Menteri Agama RI : Biografi sosial-politik (1998), KH Masjkur dilahirkan dari pasangan Maksum dengan Maemunah (putri Kiai Rohim, Singosari). Maksum adalah seorang perantau yang berasal dari sebuah dusun di kaki Gunung Muria, Kudus, JawaTengah.

KH Masjkur adalah Menteri Agama Indonesia pada 1947-1949 dan 1953-1955. Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI periode 1956-1971 dan anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1968.

Keterlibatan KH Masjkur dalam perjuangan kemerdekaan menonjol di zaman pendudukan Jepang. Yakni sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

KH Masjkur juga tercatat sebagai pendiri Pembela Tanah Air (Peta). Organisasi Peta ini yang menjadi salah satu cikal bakal laskar rakyat dan TNI.

Ketika pertempuran 10 November 1945, namanya muncul sebagai pemimpin Barisan Sabilillah.

KH Masjkur juga menjabat Ketua Yayasan Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Dewan Kurator Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an(PTIQ), yang diembannya hingga akhir hayat.

Pendidikan

KH Masjkur mondok di Pesantren Siwalan Panci, Jawa Timur selama empat tahun. Lalu masuk Pesantren Tebuireng, Jawa Timur selama dua tahun.

KH Masjkur muda juga pernah mondok di Madrasah Mamba’ul Ulum, Jamsaren, Solo selama tujuh tahun. Juga ngangsu kaweruh di Pesantren Kiai Cholil, Bangkalan, Madura selama setahun. Lalu masuk di Pesantren Ngamplang, Garut, Jawa Barat dua tahun.

KH Masjkur aktif di Nahdlatul Ulama. Ia menjadi Ketua Cabang NU, Malang pada tahun 1926-1930. Lalu anggota PB NU (1930-1945). KH Masjkur juga menjadi Pimpinan Tertinggi Hizbullah Sabilillah (1945) dan Ketua Umum PB NU (1950-1956). Selain itu, banyak posisi yang dijabat oleh pahlawan asal Singosari Kabupaten Malang ini. (yos)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *