Kota Batu Menjadi Surga Para Pejuang Bersembunyi dan Mengatur Strategi

IMPERIUMDAILY.COM – KOTA BATU – Kota Batu dalam masa perang melawan kolonial Belanda, menjadi daerah yang sangat istimewa sebagai tempat pelarian dan bersembunyi bagi para pejuang untuk mengatur strategi. Selain tempatnya yang sangat strategis karena secara geografis berada diatas ketinggian, sehingga dapat memantau pergerakan lawan yang berasal dari arah Kota Malang maupun yang datang dari sisi Kediri.

Buktinya, Punden atau Makam, para pejuang masa perang Diponegoro maupun para petinggi Mataram Kuno banyak bertebaran di Kota Wisata ini. Punden Mbah Ngaglik, misalnya, berada di Jalan Abdul Gani Nomer 02 Kelurahan Ngaglik Kota Batu. Menurut penuturan juru kunci Purnomo, punden ini adalah makam nenek moyang pendiri kelurahan Ngaglik bernama Massayu Shinto Mentaram.

Konon, Massayu adalah seorang perempuan keturunan dari keraton Jogyakarta. Ia berkelana ke Jawa Timur pada masa perang Diponegoro. Massayu Shinto Mentaram turut menjadi bagian penting dalam pembukaan lahan awal kelurahan Ngaglik di tahun 1800-an.

Berjarak sekitar 15 meter dari Jalan Suropati, ada gapura bertuliskan Punden Massayu Shinto Mentaram yang sudah ada sejak Tahun 1818 silam.

Selain punden yang berwujud makam, beberapa arca batu juga menjadi pemandangan dekorasi tempat ini. Seperti arca macan, gajah, dewi yang sedang berdiri, dan salah satu arca tidak berkepala. Semuanya ada enam arca yang diletakkan di pintu masuk lokasi punden.

Setelah melewati arca, pengunjung akan melihat sebuah bangunan rumah yang tua. Di sanalah jenazah Massayu Shinto Mentaram dimakamkan.

Ketika pertama memasuki ruangan punden, aroma khas dupa bercampur  bunga menyapa hidung. Juga harumnya wewangian yang semerbak di dalam ruangan berukuran kira-kira 20 meter persegi.

Didalam ruangan terdapat dua bagian yang menjadi tempat pengunjung beraktivitas. Ruangan bagian pertama untuk acara berkumpul dan bincang bincang. Didalam ruangan berbincang ini digelar karpet sebagai alas. Terdapat asbak bagi pengunjung yang merokok. Sedangkan ditemboknya terpajang lukisan wayang diatas kulit binatang, yang dibingkai rapi ke dalam pigura kaca

Ruangan kedua adalah ruangan punden, yang berhubungan langsung dengan ruang pertama. Pengunjung dapat langsung melihat punden Massayu Shinto Mentaram. Umumnya di ruangan kedua ini dijadikan tempat untuk berdoa.

Ruangan punden ini kapasitasnya sekitar enam orang berkeliling. Di dalam punden sendiri ada sepasang sepatu anak-anak dan boneka. Dengan sebuah keranjang penuh kertas berisi nama-nama pengunjung yang datang.

Dan dibagian kepala punden terdapat rokok dan dupa yang tersusun rapi. “Orang yang datang kesini bukan hanya sekedar warga lokal, tidak sedikit yang berasal dari luar pulau Mas,” tutur Purnomo.

Setiap setahun sekali, tempat ini dijadikan tempat untuk selamatan Desa Ngaglik. Punden ini direnovasi pada tahun 1960 dan hingga kini bangunannya tidak berubah. Awalnya dindingnya terbuat dari tembok bambu. Namun kini sudah lebih baik setelah di bangun permanen.

Lokasi ini ramai dikunjungi pada hari – hari tertentu, seperti Kamis Kliwon, dan Jumat Kliwon. ”Bagi saya berdoa tetap pada Tuhan. Hanya saja bila disini sambil mendoakan yang membangun kelurahan ini sebagai rasa terimakasih,” tutur Purnomo, bapak empat orang anak ini.(hanan jalil)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *