Takut Gunawan, Raih Juara Dunia

Kisah Ricky Soebagja (2)

IMPERIUMDAILY.COM-JAKARTA-Setelah momen lepas dari kategori junior, saya mulai fokus di nomor ganda, awalnya masih ganda putra dan ganda campuran sesuai instruksi pelatih.

Sejak masuk usia senior, saya berganti-ganti pasangan. Salah satu pasangan yang menurut saya sudah mulai pas adalah Richard Mainaky. Namun kabar mengejutkan justru saya terima ketika saya dan Richard baru saja juara di Polandia tahun 1991.

Begitu pulang ke Jakarta, saya dikabari bahwa saya akan dipisah dengan Richard dan bakal dipasangkan dengan Rexy Mainaky. Saya menolak meskipun tidak bisa sepenuhnya menolak.

Sebagai pemain tentu saya tak bisa menolak namun saya coba menyampaikan ke pelatih, Christian Hadinata dan Atik Djauhari. Saya berkata “Saya dan Richard sudah lumayan, sudah pernah menang, saya ingin masuk Olimpiade. Kalau sama Rexy, berarti saya harus dari nol lagi. Tetapi apapun keputusan pelatih, saya bakal ikut.”

Koh Chris bilang usia saya dengan Richard sudah beda cukup jauh, kalau Richard pensiun saya tidak lagi punya pasangan. Tetapi bila sama Rexy usia saya tidak terlalu jauh. Selain itu Koh Chris minta saya untuk tidak fokus ke Olimpiade Barcelona 1992, tapi Olimpiade 1996. Meski tidak ditargetkan di Olimpiade 1992, saya dan Rexy terus berusaha mengumpulkan poin untuk lolos ke Barcelona. Saya akhirnya lolos ke Olimpiade dan kalah di babak perempat final, lagi-lagi di tangan Park Joo Bong/Kim Moon Soo yang mengalahkan saya di Kejuaraan Dunia 1991.

Setahun berselang kami makin matang. Kami jadi pemain nomor satu dunia dan memenangkan banyak kejuaraan, termasuk Indonesia Open.

Kami sangat percaya diri menuju Kejuaraan Dunia, tetapi Rexy sakit sebelum berangkat ke kejuaraan. Dulu, Kejuaraan Dunia dan Piala Sudirman digelar bersamaan. Jadi ketika Rexy sakit, masih ada harapan dia bisa menyusul setelah Piala Sudirman selesai dan kejuaraan perorangan dimulai.

Di tengah Piala Sudirman, saya dapat kabar Rexy tidak mungkin menyusul karena ia tidak bisa pulih meski saya tahu Rexy sangat ngotot untuk berangkat ke Birmingham. Saya sudah sempat pasrah tidak bisa bermain di Kejuaraan Dunia.

Di saat yang bersamaan, Bambang Suprianto juga jatuh sakit begitu tiba di Inggris. Ia seminggu di rumah sakit dan langsung dipulangkan ke Indonesia.

Akhirnya saya dipasangkan dengan Koh Gunawan yang merupakan pasangan Bambang. Saya tidak tahu persis sistemnya, tetapi saat itu saya dan Gunawan bisa langsung dipasangkan dan bermain di Kejuaraan Dunia.

Berpasangan dengan pemain senior, saya hanya berusaha tidak salah. Saya takut dimarahi sama Gunawan. Meski saya sudah nomor satu dunia, Gunawan sudah juara di banyak turnamen bersama Eddy Hartono dan dia adalah senior saya.

Akhirnya saya berusaha mati-matian untuk mengejar shuttlecock di tiap pertandingan. Kami bisa mengatasi tiap lawan dan sungguh tidak menyangka bisa jadi juara.

Sungguh saya sadar posisi saya serba sulit saat itu. Bila kalah, tentu saya yang disalahkan dan bila menang, maka pasti karena disebut karena Gunawan.

Selain kenangan juara dunia 1993, ada satu lagi momen kenangan bersama Gunawan yang sulit dilupakan. Saat itu final All England adalah All Indonesian Final. Ricky/Rexy menghadapi Bambang/Gunawan. (cnn/wan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *