Wisatawan Manca Makin Gemar Kunjungi Makam Mbah Jugo Gunung Kawi

IMPERIUMDAILY.COM -MALANG – Pesarean (makam) Gunung Kawi di Desa Wonosari Kecamatan Wonosari menjadi tempat wisata religi yang go international. Banyak peziaran dari luar pulau dan luar negeri yang datang ke sana.

Untuk bisa ke sana, wisatawan harus menyusuri jalanan desa khas pegunungan yang naik turun dan kadang bergelombang yang jaraknya sekitar 18 kilometer dari Kepanjen Ibukota Kabupaten Malang, atau sekitar 25 kilometer dari Kota Malang.

Panut Aryo bin Hanan, salah satu orang yang bertugas sebagai penyampai segala informasi tentang Pesarean Gunung Kawi. ” Pesarean Gunung Kawi bukan tempat mencari pesugihan. Karena selama ini banyak orang yang menganggap di sini tempat mencari pesugihan. Itu tidak benar dan sama sekali tidak benar,” kata Panut sebelum memberikan banyak keterangan tentang keberadaan Pesarean Gunung Kawi.

Dia kemudian menjelaskan asal-usul adanya Pesarean Gunung Kawi. Menurutnya, di pesarean itu ada dua jenazah tokoh yang dimakamkan dalam satu liang lahat. Yang pertama adalah Eyang Djoego atau Kanjeng Kyai Zakaria II dan Raden Mas Iman Soedjono.

Semasa hidupnya dua orang tersebut dikenal dengan kharisma dan sifat-sifatnya yang baik. Keduanya juga dikenal sebagai penyebar agama Islam (da’i) dan pemimpin masyarakat. Dua orang tersebut sebagai pengikut Pangeran Diponegoro dalam perang melawan Belanda tahun 1825-1830.

Lalu siapakan sebenarnya dua orang itu? Menurut Panut, Kanjeng Kyai Zakaria II atau Mbah Djoego adalah ulama terkenal dari Mataram Martapura, sedangkan Mas Iman Soedjono adalah bangsawan yang menjadi senopati/panglima Perang dari Kraton Yogyakarta. Riwayat Kyai Zakaria II dapat ditelusuri berdasarkan surat keterangan yang dikeluarkan oleh pengageng Kantor Tepas Darah Daken Kraton Yogyakarta Hadiningrat nomor: 55/TD/1964 yang ditandatangani oleh Kanjeng Tumenggung Danoehadiningrat pada 23 Juni 1964. Dalam surat itu diterangkan silsilah Kyai Zakaria II sebagai berikut:

Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana 1 (Pangeran Puger) – memerintah Kraton Mataram tahun 1705-1719 – berputra Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro. Pangeran Diponegoro mempunyai putra Kanjeng Kyai Zakaria 1 yang menjadi ulama terkenal. Kemudian Kyai Zakaria I memiliki anak Raden Mas Soeryokoesoemo atau Raden Mas Soeryodiatmodjo.

Nama terakhir ini semenjak masa mudanya memiliki minat besar mempelajari Islam. Lalu dia berganti nama dengan kanjeng Kyai Zakaria II. Kemudian untuk menghindari penangkapan Belanda dia menggunakan nama Eyang, Mbah Sadjoego atau disingkat Mbah Djoego.

Sedangkan Raden Mas Iman Soedjono adalah putra Raden Ayu Tumenggung Notodipo cucu Pangeran Aryo Balitar, atau buyut Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Karena sifat-sifatnya yang baik dan punya jiwa patriotik yang tinggi itulah kemudian masyarakat sangat menghormati keduanya. Termasuk ketika sudah meninggal, masyarakat tetap menghormati dengan cara berziarah di makamnya. Bahkan saking banyaknya yang mengagumi hingga para peziarah datang dari berbagai penjuru dan etnis serta keyakinan. Mulai dari etnis Jawa, Tionghoa bahkan tak jarang orang dari luar negeri datang untuk berziarah.

Tercatat ada peziarah dari Singapura, Malaysia, China, Taiwan, India, Amerika Serikat, Hongkong, Jepang, Australia, Canada, atau Suriname, Belanda, Jerman, Zanzibar dan berbagai negara Timur Tengah. ”Apakah mereka datang sekadar berwisata atau ziarah kami tidak tahu,” ucap Panut.

Di hari biasa, jumlah pengunjung pesarean berkisar ratusan orang, namun di setiap malam Jumat Legi peziarah bisa mencapai ribuan. Jumlah peziarah mencapai puncaknya pada tanggal 12 bulan Suro (Muharam), saat diadakannya tahlil akbar untuk memperingati wafatnya Raden Mas Iman Soedjono.

Soal motivasi kedatangan pengunjung juga bermacam-macam ada yang sekadar berwisata, melakukan penelitian, berziarah atau kebutuhan yang lain. Namun umumnya yang datang untuk berziarah dan memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika dilihat lokasinya pesarean Mbah Djoego di lereng Gunung Kawi memiliki hawa sejuk dan lingkungan yang tenang. Sehingga untuk memanjatkan doa juga nyaman.

Konon berdasarkan kepercayaan tertentu, dengan berdoa di tempat yang tinggi akan lebih mudah terkabul. Karena tempat yang tinggi relatif lebih nyaman dan tenang.(aka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *