Ekspor China Masih Drop di November, Impor Malah Naik

IMPERIUMDAILY.COM-BEIJING – Ekspor China pada November 2019 masih menyusut. Penurunan ini terjadi berturut-turut selama empat bulan terakhir.

Penyusutan itu ditunjukkan dari data Bea Cukai China, Minggu 8 Desember 2019. Penurunan ini mengacaukan ekspektasi pasar yang memproyeksi akan ada kenaikan. Disinyalir, penurunan ini karena tekanan terus-menerus pada produsen China dari sengketa perdagangan China-Amerika Serikat.

Dilansir dari Reuters, perang dagang selama 17 bulan telah meningkatkan risiko resesi global. Kondisi ini juga memicu spekulasi bahwa Beijing akan mengeluarkan lebih banyak langkah-langkah stimulus untuk menopang perlambatan pertumbuhan di ekonomi terbesar kedua di dunia ini.

Pada November, ekspor China turun 1,1 persen dibanding awal tahun. Padahal dari jajak pendapat Reuters kepada para analis, penurunan hanya 1 persen. Lalu ekspor pada Oktober juga mengalami penurunan 0,9 persen.

Impor secara tak terduga naik 0,3 persen dari awal tahun. Padahal analis memperkirakan impor China malah turun 1,8 persen. Dan impor China ternyata juga turun 6,4 persen di Oktober. Kenaikan ini terjadi untuk pertama kalinya sejak April 2019.

Beijing dan Washington terus bernegosiasi untuk kesepakatan perdagangan fase pertama yang bertujuan menghilangkan sengketa perdagangan yang telah mengguncang pasar global dan memicu kekhawatiran tentang resesi global.

Tetapi mereka terus bertengkar karena hal-hal kecil. Termasuk tingkat kemunduran tarif oleh Amerika Serikat dan berapa banyak produk pertanian yang akan dibeli Tiongkok.

Sebuah RUU dari DPR Amerika yang mengatur kamp-kamp China untuk etnis minoritas muslim di Xinjiang, juga telah membuat marah Beijing. Hal ini semakin mengaburkan prospek kesepakatan apa pun.

China memperingatkan pada Rabu lalu bahwa RUU tersebut akan berdampak pada kerja sama bilateral dan mengatakan Beijing akan mengambil tindakan “tegas” untuk melindungi kepentingannya.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Kamis bahwa pembicaraan perdagangan dengan China “bergerak terus,”. Ini memberikan nada optimistis. Bahkan ketika para pejabat China berpegang teguh bahwa tarif yang ada harus keluar sebagai bagian dari kesepakatan sementara.

Namun, awal pekan ini, Trump mengguncang pasar global ketika dia mengatakan kesepakatan mungkin harus menunggu sampai setelah pemilihan 2020.

Dengan tidak adanya terobosan, Washington mengatakan putaran baru tarif untuk barang-barang China akan mulai berlaku pada 15 Desember 2019.

Seorang pejabat China mengatakan kepada Reuters bahwa China akan menerapkan tarifnya sendiri. Hal ini sebagai tindakan balasan. Dalam keadaan seperti itu tentu dapat menghancurkan setiap peluang dari kesepakatan perdagangan jangka pendek.

Surplus perdagangan China untuk November mencapai USD 38,73 miliar. Ini lebih rendah dibandingkan perkiraan surplus USD 46,30 miliar dalam polling. Lalu surplus USD 42,81 miliar tercatat pada Oktober 2019. (reuters/yos)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *