Empat Gadis Bernama Sama

Sudah empat kali ini aku berjumpa dan menjalin cerita dengan empat gadis berbeda yang bernama sama. Dalam setiap pertemuan selalu meninggalkan luka-luka. Setiap pertemuan baru, lagi-lagi pertemuan itu mengulang ingatan lama tentang nama-nama gadis yang pernah aku jumpai dan aku cintai. Aku teringat kembali saat masih duduk di bangku SD,  mengenal seorang gadis yang sangat lugu dan ayu. Waktu itu aku tidak tahu kenapa hati ini sering berdegup jika melihatnya dan bahkan hanya mendengar namanya dari teman-temanku yang membicarakannya.

Gadis yang dulu menjadi teman sekelas dan kami saling bersaing prestasi. Kami saling bersapa dan sesekali bertukar senyum, tapi tidak tahu apa keinginan selanjutnya. Gadis yang membuatku ingin selalu berangkat sekolah lebih  pagi dari bunyi lonceng besi. Gadis yang bahkan sampai membuat aku lupa jika ada hari Minggu. Lalu jika rinduku tak tertahan maka aku aku tulis namanya di tembok pinggir jalan agar bisa aku baca setiap lewat. Tembok-tembok di kampungku penuh dengan tulisan namanya.

Hingga tiba masa perpisahan, kami saling bertanya ke mana hendak melanjutkan. Aku katakan padanya ingin melanjutkan sekolah di kota, tapi gadis itu tak menjawab ke mana ia akan menuntut ilmu. Wajahnya tertunduk dan lama menunggu untuk mengeluarkan kata-kata. Aku melihat matanya basah dan pipinya memerah. Lalu dia mengulurkan tangan sembari mengucap kata perpisahan. “Mungkin ini pertemuan terakhir kita,” ucapnya diiringi butiran bening yang meleleh di kedua pipinya.

Dadaku terhentak dan tiba-tiba sesak, apalagi saat sejumlah tanyaku tak berbuah jawab. Hingga tangan kami saling terlepas aku tidak tahu ke mana ia hendak melanjutkan perjalanan. Waktu itu kami berpisah dengan mata yang sama-sama basah. Penasaranku kian membuncah mencari tahu ke mana gadis itu akan pergi. Entah kenapa tiba-tiba hatiku diserang virus kehilangan yang akut. Hari-hariku menjadi sangat sepi dan kalut.

Hari berganti, rasa sedihkupun demikian pula. Di sekolah yang baru saat aku duduk di bangku kelas 2 SMP, aku bertemu gadis yang panggilannya sama dengan gadis di bangku SD dulu. Tapi kali ini adalah gadis yang kelasnya berada di atasku. Entah kenapa dia sangat perhatian denganku setiap kali aku memarkir sepeda angin saat datang ke sekolah, atau saat aku mengambil sepeda itu untuk pulang. Mula-mula dia hanya tersenyum saat kami pertama kali bertemu. Lalu gadis berkulit bersih itu menyapaku dan bertanya nama.

Minggu-minggu berjalan, dia mulai sering memanggilku dengan senyum yang tidak bisa membuatku begitu saja berlalu. Gadis itu meski lebih cantik dari gadis yang pertama aku sukai, tapi tetap saja mengingatkanku pada yang pertama. Sehingga untuk memanggilnya aku tidak perlu menghafal nama yang baru. Aku begitu terkenang saat tiba-tiba dia memberikan bingkisan yang belum pernah aku menerima sebelumnya. “Selamat ulang tahun,” katanya dalam sebuah kertas merah muda di dalam kotak kado.

Dalam hidupku, itulah kado pertama yang pernah aku terima. Begitu indahnya saat membuka kado yang aku terima dari orang yang tidak mudah aku lupa namanya. Kado sederhana yang berisi sapu tangan yang sampai saat ini masih tersimpan rapi di lemari kamarku. Entah kenapa dia memberi kado sapu tangan. Mungkin dia ingin seperti sapu tangan, agar selalu ada digenggaman dan bisa membelai wajahku.

Lagi-lagi pertemuan kami harus terpisah, kali ini bukan karena kami sama-sama keluar, tetapi karena gadis itu lulus lebih dulu. Waktu itu aku hanya sempat memberi bingkisan jilbab Paris  berwarna ungu. Dia menatapku dengan senyum yang enah dan mata yang basah, aku menunduk setelah beberapa detik menancapkan pandangan di matanya. “Mungkin ini pertemuan terakhir kita,” kali ini aku yang mengucapkan.

Sejak itu aku tidak pernah bertemu lagi hingga aku lulus SMA. Padahal rinduku tak bisa hilang. Aku mencari kabarnya ke mana-mana hingga aku mendengar kabar bahwa anaknya sudah dua. Aku terhenyak dan timbul rasa cemburu. Sejak itu  aku susah kenal dekat dengan seorang gadis saat menempuh kuliah.

Pada sore yang  biasa, aku berjalan-jalan di seputar asrama. Tanpa sengaja kutemui gadis yang yang tinggal di dekat asrama. Lagi-lagi namanya sama dengan dua gadis yang pernah aku temui sebelumnya. Mula-mula semua berjalan biasa, hingga dia meminta bantuan agar aku membetulkan lampu jalan di depan kos nya yang mati. Lalu pembicaraan kami mengembara ke mana-mana. Sepertinya untuk yang ketiga kalinya hatiku tertaut pada wanita. Dan entah kenapa yang ketiga ini disertai keyakinan yang menggelora.

Aku memang tidak bisa melupakan dua nama sebelumnya, tapi aku bisa melupakan kesedihan ditinggalkan mereka. Dengan gadis ketiga anganku melayang ke angkasa. Memiliki istana yang akan menjadi tempat terindah di dunia. Aku begitu yakin, gadis ketiga adalah milikku. Ini juga sebagai pertanda dari Tuhan bahwa nama yang sama adalah syarat bahwa inilah jodoh terbaikku.

Saat itulah aku menjelma lelaki yang paling bahagia di dunia. Hari-hariku penuh warna dan bunga-bunga cinta. “Nanti bangunkan aku rumah mungil dengan taman yang indah,” sampai sedemikian itu pintanya. Aku sambut dengan senyum dan keyakinan yang luar biasa.

Hingga suatu ketika datang kabar buruk yang tidak pernah aku duga. Gadis ketiga yang bernama sama itu telah dipilihkan pendamping oleh orang tuanya. Maka saat itu juga hatiku, ah rasanya tidak perlu aku ceritakan di sini. Aku tak mampu mengungkapkan dengan kalimat-kalimat.

Sejak itu segala keinginanku hilang. Aku tidak tahu apakah sakitku masih bisa sembuh atau justru semakin menjalar. Aku lalui hari-hari yang menyesakkan dada. Ke mana-mana dihadapkan pada rasa malu dan tidak berguna.

Kali ini saat semuanya telah sirna dan harapanku banyak yang menjadi nyata. Aku bertemu lagi dengan gadis yang bernama sama. Tidak ada perasaan apa-apa pada mulanya, selain pujian yang ada dalam hatiku tentang parasnya yang ayu. Kali ini adalah gadis yang lincah dan kecerdasan yang nyata. Kemauan belajarnya yang kuat membuat kami sering berdiskusi dan bertukar cerita. Aku menganggapnya sebagai teman yang baik hati. Tidak ada kesepakatan untuk saling mencintai. Karena umur kami terpaut dalam dua digit angka. Namun, entah kenapa hubungan kami layaknya anak muda.

Tentang namanya, juga mengingatkanku pada nama-nama tiga gadis sebelumnya. Tapi kali ini dia jauh berbeda. Dari yang sebelumnya, gadis ini adalah yang paling mengerti aku. Dia selalu memberikan yang terbaik terhadap hal remeh-temen yang tidak aku duga. Kesetiannya bahkan melebihi siapa saja. Oh, andai aku masih sendiri aku akan meminangmu. Sri. (Aka Dillah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *