Figur Arca Kadeyan Masa Majapahit: Sosok Pengasuh Sekaligus Pelindung Ksatria

Oleh : M. Dwi Cahyono

Semar Petruk Gareng satu lagi Bagong
Mereka teman saling membantu
Semar Petruk Gareng satu lagi Bagong
Susah senang tetap bersatu 2X
Seperti Superman, juga kayak Batman
Seperti Gundala, manusia laba-laba
Yang tak pernah mengeluh, menolong
setiap waktu
Mereka idolaku karena suka membantu
………………..
Lirik lagu “SPG (Semar Petruk Gareng)”.
Oleh : Canda Band.

A. Muasal Arca Kadeyan

Semenjak dulu, wong cilik (rakyat kecil) acapkali difigurkan berpenampilan bersahaja dan “kurang baik” secara fisiografis. Gambaran dirinya berbeda atau malahan dikontraskan dengan figur dari kaum bangsawan sebagai “Wong Gede (Elite)”.

Lihat saja, ikonografi Kadeyan (disebut dengan nama ” Semar” dalam susastra-susastra kidung), yakni pengiring atau tepatnya “pengasuh (jurudyah)” bagi ksatria dalam cerita-cerita “Panji”.

Arca itu adalah salah sebuah patung koleksi Museum Nasional Jakarta, yang seringkali terlewatkan oleh perhatian para pengunjung Museum Nasional.

Boleh jadi, arca tersebut adalah satu diantara beberapa buah arca batu yang semula terkumpul di Grogol, Sikoening (daerah Sidoarjo), yang dalam foto dokumenter OD (Oudhkundige Dienst) berada bersama dengan arca Panji dan Kertolo (Brandes, ROC 1902:5).

Untuk arca Semar (No. Inv. 310 e) dan arca Kertolo (No. Inv. 310 c) sekarang di-display di Museum Nasional Jakarta.

Bila menilik No. Inv-nya yang sama, yaitu 310, kedua arca itu asalnya satu tempat. Mengenai arca Panji-nya, tak kedapatan di Museum Nasional.

Alih-alih, pada ruang Perpustakaan ITB (Institut Teknologi Bandung) didapati arca Panji, yang amat menyerupai arca pada foto tersebut. Boleh jadi, arca Panji itulah yang merupakan satu diantara tiga arca asal Grogol pada foto itu.

B. Deskripsi Arca Kadeyan

Foto: Ist Dwi Cahyono

Pada foto OD itu, pedestal dari Kadeyan sengaja diibuat lebih pendek daripada pedestal Panji dan Kertolo. Begitu juga ukuran tubuh Kadeyan lebih pendek daripada keduanya.

Penggambaran yang demikian itu mengekspresikan tetang “strata sosial” Kadeyan yang lebih rendah daripada Panji maupun Kertolo, mengingat Kadeyan adalah inang pengiring Katrina. Kadeyan merupakan figur dari “Wong Cilik”, adapun Panji Dan Kertolo adalah figur “Wong Gede”, yakni Katrina. Berbeda strata sosial, berbeda pula gambaran ikonografisnya.

Pria bertubuh tambun, yakni gemuk pendek ini digambarkan dengan bibir tebal (lambe kandel) dan lebar (ndower). Hidung pesek, dan perutnya buncit (lambodhara). Potongan rambut “gombak (kuncung tebal) tengah” yang melancip ke depan. Matanya besar dan telinganya lebar. Sebagaimana lazim pada masa Hindu-Buddha, Ia tampil tanpa mengenakan alas kaki (nyeker).

Gambaran yang demikian serupa dengan yang terpahatkan pada relief-relief candi bercerita “Panji” dari Masa Majapahit (abad XIV- XV Material).

Busana yang dipakainya cuma kain bawahan, alias bertelanjang dada (ote-ote). Itu pun hanya berupa selembar kain dari pangkal paha hingga di atas mata kaki. Belahan kain berada di samping kiri, yang memungkinkan pemakainya untuk melangkah lebar. Sisi atas dari kainnya digulung, seperti pada pemakaian sarung.

Kelihatannya kain itu dilengkapi dengan lembar kain yang difungsikan sebagai tali pengikat (semacam “sabuk”) ke perutnya. Dimana bagian simpul tali ikat itu terlihat menjulur di bawah pusar. Satu-satunya aksesori yang dikenakannya adalah subang (kundala) besar berbentuk lempeng bundar. Gaya tampilan dan ciri fisiografisnya yang demikian acap terlihat pada abdi dalem pengiring Tuan Putri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *