Malam Sebelum Terbunuh, Hakim Jamaluddin Dalam Kondisi Terintimidasi

IMPERIUMDAILY.COM-MEDAN – Teka-teki pembunuhan hakim Pengadilan Negeri Medan Jamaluddin masih belum terpecahkan hingga 20 hari setelah kematiannya. Polisi memilih hati-hati karena pembunuhan hakim Jamaluddin adalah pembunuhan berencana. Pelaku mendesain dengan sangat rapi dan halus.

Namun di balik semua itu, satu per satu fakta muncul ke permukaan. Fakta pertama, bahwa hakim Jamaluddin hendak menceraikan istri keduanya, Zuraida Hanum.

Fakta kedua, malam sebelum terbunuh (28 November 2019 malam), hakim Jamaluddin mendatangi rumah seorang advokat perempuan yang rencananya dijadikan kuasa hukum perceraiannya. Hakim Jamaluddin datang didampingi tiga orang misterius berbadan tegap. Polisi mencium hakim Jamaluddin malam itu dalam kondisi terintimidasi.

Adanya fakta-fakta baru itulah yang membuat polisi berhati-hati. “Pelan-pelan, enggak bisa sembarangan. Karena ini rapi, sangat halus kejadiannya, sehingga kita meyakini kejadian ini pembunuhan berencana, sehingga butuh waktu menetapkan siapa tersangkanya,” kata Kapolda Sumatera Utara Irjen Agus Andrianto kepada wartawan, Sabtu 14 Desember 2019 lalu.

Perwira tinggi yang segera dilantik menjadi Kabaharkam Polri ini mengakui, penyidik mungkin sudah punya perkiraan mengenai pelaku pembunuhan. Namun hal itu belum boleh diungkapkan. Karena mereka masih mendalaminya.

Baca juga: Banyak Fakta Janggal, Polisi Fokus Selidik Keluarga Hakim Jamaluddin

Sementara itu, fakta bahwa hakim Jamaluddin hendak bercerai dengan istri keduanya, Zuraida Hanum dibeberkan advokat wanita yang ditunjuk hakim Jamaluddin menjadi kuasa hukum sidang gugatan perceraian. Nama advokat wanita ini sengaja disamarkan karena merasa terancam.

Dari paparan advokat ini juga diketahui bahwa istri keduanya, Zuraida Hanum, menolak untuk diceraikan. Termasuk fakta ada sekelompok orang (3-4 orang) yang bersama hakim Jamaluddin di malam sebelum Jamaluddin ditemukan terbunuh.

Jamaluddin dan beberapa orang ini mendatangi rumah advokat ini. Namun karena sudah malam, advokat perempuan ini tak membukakan pintu.

Dilansir dari tribunnews.com, advokat perceraian ini mengaku telah memaparkan semuanya kepada polisi.

“Jadi saya semalam diperiksa di Polrestabes sampai jam setengah satu malam. Saya bilang bahwa niatan cerai pertama sudah disampaikan ke ibu (Zuraida Hanum) di bulan September (2019). Jadi di pertemuan kedua pada 22 September 2019 dibilang bapak (Jamaluddin), kalau ibu tidak terima (cerai), karena bapak bilang ibu nggak mau harta tersebut dibagikan sama anak-anak dari istri yang pertama,” tuturnya menirukan ucapan hakim Jamaluddin ketika itu.

Dua bulan berselang, akhirnya hakim Jamaluddin merasa mantap untuk bercerai. Pada pertemuan 26 November, hakim Jamaluddin menjelaskan kepada advokat ini bahwa Jamaluddin bertekad mendaftarkan gugatan cerai di Pengadilan Agama Medan.

“Lalu terakhir ketemulah kami pada 26 November, tiga hari sebelum bapak meninggal. Bapak bilang, “Bu advokat (disamarkan) saya enggak sanggup lagi, ceraikan saja”, katanya kayak gitu, daripada banyak kali dosa,” ucap advokat ini menirukan ucapan Jamaluddin.

Melihat kebulatan tekad hakim Jamaluddin, advokat ini pun tak banyak bertanya lagi. “Ya udahlah kalau bapak udah niat untuk cerai, terserah bapaklah itu, yang penting kalau urusan harta nanti saja itu Pak, nanti lama kali cerainya, panjang kali perkaranya,” tutur advokat ini kepada hakim Jamaluddin dua hari sebelum meninggal.

Terkait hakim Jamaluddin datang ke rumahnya pada Kamis (28 November 2019) malam sekitar pukul 21.35 WIB, advokat ini juga telah menceritakannya kepada polisi.

Dicuplik dari wawancara eksklusif dengan Tribun-Medan.com, advokat perempuan ini menjelaskan bahwa rumahnya didatangi hakim Jamaluddin pada malam sebelum kematiannya.

“Dia ke rumah saya, manggil-manggil saya tiga kali, itu pukul 21.35 WIB lah itu ketepatan waktu acara Suratan Tangan di ANTV acara Uya Kuya itu,” jelasnya.

Advokat perempuan ini yang merasa tak punya kepentingan dengan hakim Jamaluddin, tidak membukakan pintu, meskipun hingga tiga kali dipanggil oleh Jamaluddin.

Saat itu hakim Jamaluddin tidak sendirian. Ia bersama tiga orang pria berbadan tegap keluar dari mobil.

“Dia manggil tiga kali, ‘nama advokat ini’ katanya dengan logat Acehnya. Pemanggilan pertama saya pergi ke ruang tamu mengintip. Rupanya bapak itu (Jamaluddin), tapi di situ dia sudah ada kawannya, waktu itu ada bertiga,” cetusnya.

“Dia kan manggil 3 kali, panggilan ke-2 saya udah dekat ruang tamu. Sampai panggilan ke-3 saya enggak keluar, di rumah aja. Saya berpikir saya tidak ada kepentingan sama bapak ini. Janji saya Jumat mau ke kantor pengadilan. Di malam Jumat itu perasaan saya sudah enggak enak,” tambah advokat perempuan ini.

Ia pun menerangkan bahwa ada yang mendorong-dorong hakim Jamaluddin dari mobil hingga ke pintu rumahnya.

“Ada tiga oranglah mendorong dia untuk masuk. Sama sopir satu orang, kemungkinan mereka ada empat atau lima orang sama Pak Jamal. Karena itu terlihat di mana pintu ujung sama kiri itu bunyi gedor (ditutup),” tuturnya.

Disinggung adakah tekanan wajah Jamaluddin saat itu, advokat perempuan ini mengaku tidak bisa memastikan. Sebab, ia tidak melihat secara jelas raut wajah hakim Jamluddin.

“Saya tidak berpikir ke situ, karena saya pikir tidak ada urusan. Ya saya datar-datar saja,” ungkapnya.

Saat itu, advokat perempuan ini mengaku sempat mendengar hakim Jamaluddin meminta dirinya untuk ikut dengan rombongan tersebut.

“Gini dibilangnya ‘bisa ikut bentar ada yang mau dikonfrontir atau ditanyakan’, hati saya sudah enggak enak hari itu,” ujarnya.

Lebih lanjut, setelah 15 menit di depan rumahnya, akhirnya rombongan hakim Jamaluddin pulang.

“Jadi pergilah orang itu kira-kira 15 menit, saya merasa enggak ada kepentingan ngapain jumpai. Lagian tengah malam ada apa, saya bertanya-tanya ada apa,” tuturnya.

Baru ternyata pada keesokan harinya, Jumat 29 November 2019, advokat wanita ini terkejut mendengar kabar hakim Jamaluddin ditemukan tewas di Dusun II Namo Rindang, Desa Suka Dame, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang. (yos)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *