Sandur, Kepusakabudayaan Kesenian Rakyat Petani Jawa Timuran (Dulu-Kini)-2

C. Karakter Kesenian Sandur

Kategori Kesenian Sandur

Sebagai suatu teater traditional, sandur tidak jauh berbeda dengan teater tradisional lainnya, yakni bersifat sederhana dan “cair” dalam penyajiannya.

Ada beberapa detail pementasan yang mengingatkan kita kepada teater “lenong” pada lingkungan pemangku budaya Betawi.

Yang mengundang daya tarik serta fungsi penting dari sandur adalah kemampuannya dalam membangun dan memelihara kebersamaan, serta dalam menjaga kearifan lokal di masyarakat.

Kesenian sandur mengajarkan tentang budi pekerti, tolong-menolong, dan tenggang rasa dalam setiap pementasannya. Nilai- nilai lain yang diintrodusir oleh sandur adalah edukatif, moralitas, artistik, religis, dan sekaligus rekreatif.

Anasir Kesenian Sandur

Unsur kesenian di dalam sandur meliputi : (a) seni sastra — tepatnya seni teater, (b) seni tari, (c) seni musik, (d) seni rupa, serta dapat pula ditambahkan (e) atraksi akrobatik dan ketangkasan — seperti pada atraksi “kalongking”.

Selain itu, tidak jarang sandur disajikan dalam konteks ritus, dan memiliki muatan magis. Seperti halnya kesenian tradisional lainnya, sandur juga mengunakan sesaji dalam tiap pementasanya, dengan tujuan supaya pertunjukan berjalan dengan lancar dan sukses. Perangkat saji berupa beras secukupnya, dupa, cikalan (potongan kelapa) yang tengahnya di beri gula merah, dan kembang setaman atau sejenis berbagai kembang.

Kendati kesenian sandur tampil bersahaja, numun mampu merajut beberapa cabang seni dan unsur- unsur budaya dalam satu tata kemas pementasan.

Komponen Pementasan Sandur

Pertunjukkan Sandur Manduro di Kabuh Jombang, menghadirkan sejumlah tarian, antara lain tarian Bapang, Klana, Panji, Gunungsari, Punakawan, dan Jaranan.

Tari Bapang di dalam pementasan Sandur Menduro ini menggambarkan tokoh yang di dalam pewayangan Jawa dinamai “Dursasana”, sehingga tari Bapang tersebut acap disebut “Tari Dursasana”.

Penari sandur dinamai “lenggek”. Memiliki adanya beberapa tokoh di dalam “cerita Panji” yang hadir di pertunjukan Sandur Manduro seperti Bapang, Klono, Gunungsari dan Punokawan (diidentikkan dengan “Kadeyan”), terlihat bahwa ada pengaruh kesenian Panji dalam Sandur Menduro.

Adapun sandur di Tuban dan di Bojonegoro, tarian yang dihadirkan adalah tari jaranan dan tarian [sambil menyanyi] oleh Panjak Hore. Ada pula semacam tarian yang “akrobatik” oleh Kalongking. Tari dan musik adalah komponen integral pada pertunjukan sandur, meski kesenian ini dikategorikan “teater tradiisonal”.

Proses Pementasan

Sandur Manduro terdiri tiga babak, yaitu (1) dhing- gendhing (pembukaan), (2) dhung-dhung, (tarian penyambutan tamu), dan (3) andongan (undangan dipanggil bergilir untuk menari bersama dengan lenggek) atau disaebut juga dangan “atandheng”.

Sandur di Pulau Madura maupun daerah pemangku sosio-budaya Pendalungan itu lebih terlihat sebagai pertunjukan tari ketimbang teater.

Adapun sandur di Bojonegoro dan Tuban lebih mengarah pada teater rakyat dan memiliki muatan ritual. Sandur di Tuban dan Bojonegoro mengawali prosesi pementasannya dengan ritual “mandi besar” oleh setiap pemeran sandur dan kegiatan nyekar ke makam leluhur desa (nyadran) guna membuang mala (petaka), untuk meminta keselamatan lahir dan batin, serta berdoa kepada Tuhan supaya acara dapat berjalan dengan lancar.

Permohonan selamat terutama penting bagi pelaku atraksi “kalongking” yang beresiko tinggi bila mendapat kecelakaan. Setelah itu, pertunjukan baru dapat diselenggarakan. Nuansa mistik di dalam sandur Tuban terlihat pada adanya pemain yang mengalami trance (kesurupan, ndadi, atau kalap)

Tergambar bahwa ada muatan religis dan mistis pada pra-pertunjukan sandur itu, sebagaimana acap dilakukan pada jelang pementasan seni pertunjukan tradisional lainnya.

Memang, selama pertunjukan yang berlangsung sedari malam hingga dini pagi, nuansa mistis dan magis sangat terasai. Selain mantera-mantera yang diucapkan dukun (pawang) dan tetembangan Jawa yang dilantunkan panjak hore, ada beberapa pemain sandur yang kerasukan roh dan mengalami trance.

Asap jerami kering yang dibakar kian menambah kesan mistis pertunjukkan sandur. Jerami yang dibakar menjadi salah syarat untuk mengundang roh dari alam dunia lain. Salah satu roh gaib yang merasuki pemain sandur adalah roh Jaran Dawuk (kuda abu-abu). Yang dirasukinya bertingkah laksana kuda dan membawa properti perlengkapan berupa kuda kepang terbuat dari anyaman bambu.

Ia menuju ke tempat sesajen dan mengambilnya untuk dimakan, serta meminum air (nyombor) dari dalam sebuah baskom dari seng Setelah air habis seketika, lantas hendak memakan baskom itu. Adegan trance yang berlangsung cukup lama diakhiri dengan rebahnya pemain sandur di atas tikar untuk disiumkan oleh dukun.

Trance bisa juga mengena pada pemain Kalongking (disebut juga “jandulan”). Ia melakukan gerakan atraktif ala kalong pada seutas tali yang direntang diantara dua batang bambu tinggi sekitar 15 meter. Panjak hore pun bisa juga mendapat rasukan roh.

Pertunjukan sandur terbagi atas delapan adegan yang terbagi tiga bagian, yaitu bagian :(1) pembuka, (2) cerita, dan (3) penutup.

Sajian bagian “pembuka’ berupa nyanyian doa pembuka, yaitu bismillah. Lalu disusul dengan tarian pembuka, yaitu tari jaranan, yang berfungsi sebagai pengiring para pemeran sandur dari ruang rias memasuki pentas (stage) “blabar janur kuning”, yang isertai dengan perias sambil membawa obor dan selanjutnya diserahkan kepada germo yang telah berada di atas pentas. Suatu hal yang unik dalam sandur, dimana penata rias yang berada “di belakang panggung” turut dihadirkan ke pentas meski sebentar. Suatu bentuk penghormatan yang baik kepada seluruh kru (crue) pertunjukkan.

Germo dalam posisinya sebagai pemimpin sandur, sembari memegangi obor, menceritakan mengenai proses turunnya 40 (empat puluh) bidadari yang merasuki tokoh peran Sandur, yaitu Balong, Pethak, Cawik dan Wak Tangsil. Narasi tentang budadari ini terang menengarai adanya tradisi ritual kuno seperti mitos para bidadari yang menyertai pengantin pada upacara siraman maupun mitos 40 bidadari yang menyertai kelahiran bayi di dalam tradisi budaya Tenhlgger. Dalam kesenian sandur, pemeran tidak harus seniman sandur sendiiri, namun siapa pun terbuka untuk turut bermain sandur, khususnya untuk berperan sebagai Panjak Hore. Sedangkan untuk pemeranan kwartet (empat orang) pemain sandur, yaitu Balong, Pethak, Cawik, Wak Tangsil, maupun Germo, penari jaranan dan Kalongking, tentu membutuhkan latihan khusus yang intensif.

Bagian kedua, yaitu penceritaan, diperankan oleh empat pemeran tersebut. Masing-masing tokoh peran memilki karakter berbeda. Balong misalnya menggambarkan tentang pria warga masyarakat kelas bawah berwatak serakah, pintar mengakali orang lain. Kostumnya berupa kuluk, elar, celana cinde, dan pakaian warna hitam. Pethak merupakan pula sosok pripria warga masyarakat jelas bawah, namun bertipe pekerja keras, ulet, lugu, romantis, tapi bodoh. Kostum yang dikenakan berupa kuluk, sumping, dan sorjan warn putih. Cawik merupakan satu-satunya tokoh peran perempuan, yang konon selalu diperankan oleh pria, sehingga prrlihatkan gejala “travesti”. Cawik gambarkan wanita yang berprofesi sebagai sindir (penyanyi dan penari tayub, pada daerah lain dinamai ” tledek, tandak, ronggeng, dsb.”). Oleh karena itu, konstum yang dikenakan seperti yang lazim dipakai penari sindir. Adapun wak Tangsil menggambarkan orang yang mapan, kaya, dewasa, bijaksana, serta berwawasan luas. Kalau bicara cenderung cerewet, namun hugs lucu.

Kostum yang dikenakan berupa jas, dasi, celana panjang dan topi Kompeni. Adapun tokoh Germo memggambarkan tentang orang tua yang bijak dan mampu memimpin. Kostum yang dipakai berupa celana komprang hitam dan iket. Tokoh pendukung, seperti panjak kendang, panjak gong, panjak hore, tukang jaran dan pemain kalongking biasanya mengenakani kostum seperti petan,i yaitu hanya berupa celana komprang hitam. Kostum itu dapat dipergunakan untuk membedakan karakter pemeran satu dan lainnya. Kostum yang dipakai mempunyai sifat khusus sesuai dengan karakter tokoh peran yang mengenakannya.

Pada awalnya cerita yang disajikan dalam sandur hanya berdasarkan cerit turun-temurun dan mitos setempat. Penuangan cerita dan mitologi dalam pementasan tanpa terlebih dahulu disusun naskah (skrip) ceritanya. Kalaupun ada teks atau naskah dalan pertunjukkan sandur, hal itu pertama kali dibuat pada tahun 1993, ketika andur mengikuti pagelaran di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Meski tanpa naskah, peran dari sutradara tetap dibutuhkan. Dalam sandur tradisional, yang berperan sebagai sutradara adalah Germo, yang sekaligus berfungsi sebagai dalang dan dukun (pawang) bagi pemain sandur yang mengalami trans.

Dahulu tema lakon pertunjukan sandur adalah persoalan hidup sehari-hari, yang mencangkup relasi antar masyarakat, antara masyarakat dan individu, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalan diri seorang manusia. Lakon sandur bercerita tentang persoalan sosial, konflik, serta peristiwa lain pada kehidupan masyarakat petani. Misalnya, mencari pekerjaan menggarap lahan pertanian, saling ejek atas kekurangan uang. Begitu pula, pada mulanya seluruh permainan sandur adalah laki-laki. Termasuk yang memerankan tokoh Cawik yang digambarkan sebagai wanita penari “sindir”, sehingga terlihat fenomena “travesti” sebagaimana terdapat di seni pertunjukan tradisional, khususnya teater tradisional. Travesti telah kedapatan sangat lama.

Kitab gancaran “Pararaton” memberitakan bahwa pada upacara lepas panen di bulan Caitra (Maret-April), raja Hayam Wuruk turun gelanggang sebagai artist. Apabila memerankan tokoh peran perempuan (amadoni) dalam pertunjukan teatrikal, sebutannya adalah “Pager Antimun”. Kini sandur di Bujonegoro mengisi pemeran tokoh Cawik dengan perempuan, sehingga menyimpang dari tradisinya.

Adapun sandur di Tuban tetap mempertahankan tradisi travesti itu.

Konsistensi pada tradisi dalan pertunjukkan sandur di Tuban juga tetgambarkan pada usia pemerannya, yang dimainkan oleh anak laki-laki yang belum balig (belum dikhitankan). Yang menarik, ada pandangan bahwa anak anak tersebut tidak dikhitan sebelum berperan dalam sandur sebanyak empat puluh kali pementasan sebagau tokoh peran Balong, Pethak, Cawik atau Wak Tangsil. Hal ini menjadi bukti yang memperkuat pendapat bahwa pads awalnya sandur adalah permainan stay pertunjukkan di kalangang anak-anak gembala.

Pemain sandur yang berusia belum angel balig adalah sebaya dengan usia dari “bocah sapangangon (anak gembala)”. Perihal anak gembala itu juga tergambar pada pelaku-pelaku did dalam pertunjukkan sandur di Tuban, antara lain mantri, nyai, cah angon, kaji nyolong celeng, cino dingklang pados celeng, sais cikar (bajingan), juru kunci atau tukang tandhuk, ketua rombongan, panjak oncor, tukang kedut dan tukang bancik.

Penyajian sandur dilakukan dengan dialog dan tari. Dialog menggunakan adalah bahasa Jawa dengan dialek Bojonegoro dan Tuban-an. Dialog dilakukan berulang-ulang, sehingga terkesan monoton. Yang diungkap tidak hanya laku dan suara (dalam bentuk percakapan), namun juga dengan menyanyikan dan manarikan dengan iringan musik secara terpadu. Pada tradisinya, sandur di Tuban Dan di Bojonegoro pentas pada malam hari (mulai pukul 21.00 WIB hingga jelang subuh) . Namun, pada masa sekarang sandur dipentaskan hanya selama dua sampai tiga jam saja. Kesenian sandur sebagai kesenian rakyat memiliki wujud atau bentuk khas, tidak terelakkan lambat laun mengalami perubahan, sehingga pada beberapa hal menyimpang dari tradisinya.

Bahasa pentas sandur adalah Jawa ngoko yamg diselingi bahasa Jawa krama “khas lokal” , yaitu dengan logad Jonegoroan ataunpun Tubanan. Guna menmarakkan suasana, Panjak Hore mengemban tugas memeriahkan pementasan. Yang dimaksud dengan Panjak Hore adalah segerombol orang yang duduk di tengah blabar janur kuning., dengan tugas bernyanyi sambil menari di tiap peralihan segmen cerita dengan diiringi musik kendhang dan gong, yang dimainkan oleh Panjak Kendhang dan Panjak Gong. Setiap nyanyian memiliki arti dan bersifat kontekstual. Miisalnya, “mendhung sepayung” lah yang dinyanyikan apabila ada kemungkinan turun hujan manakala pementasan.

Nyanian “kembang gambas” dilantun ketika pemeran mulai berias, dsb. Dalam pertunjukan sandur tembang berfungsi sebagai pengiring keluar masuknya peran dan pada pergantian adegan. Selain itu, tembang berfungsi sebagai mantera pamanggilan roh ataupun bidadri. Demikianlah tembang yang dinyanyikan dalam seni pertunjukan sandur sangat fungsional. Sesuai unsur sebutannya, yaitu “hore”, Panjak Hore sering tampil ricuh, riuh, dan bahkan celometan terhadap cerita yang dibawakan, namun hal ini justru menjadikan kehangatan suasana pertunjukkan. Tidak jarang terjadi saling lempar dialog antara tokoh peran dan Panjak Hore, yang memunculkan rasa kebersamaan dalam pementasan.

Bagian ketiga, yaitu “Penutup”, diisi dengan atraksi Kalongking berupa atraksi memanjat tiang bambu sampai ke bagian pucuk, kemudian bergelantungan, tidur, berputar, dan makan sembari menyebrang dari tiang bambu satu ke tiang bambu lainnya. Ada bermacam-macam pemaknaan terhadap atraksi ini, antara lain penonton mengingat Tuhan yang berada [email protected] (di langit), karena ketika melihat kalongking maka kepala dudongakkan ke atas. Ada juga yang memaknai kalongking sebagai wujud pembersihan diri manusia dari hal-hal yang bersifat hewani.

Pentas Pertunjukan

Blabar janur kuning berupa pagar persegi, dengan tiang-tiang bambu ber-ublik (pelita) di tiap sudut. Antar tiang bambu itu dihubungkan dengan tampar (tali) berlilit janur dan bergelantungan jajan pasar. Blabar janur kuning ditempatkan pada lapangan terbuka. Tata pentas mendasarkan pada filosofi “berdiri sama tinggi duduk sama rendah”. Dengan tata pentas demikian, maka jarak antara pentas dan khalayak penonton terasa lebih dekat.

Blabar janur kuning memiliki formula “4 + 1”, yang dihubungkan dengan kinsep “sedulur papat, lima pancer”. Sedulur papat adalah simboli empat kiblat, yang direpresentasikan oleh tiap sudut blabar janur kuning, yang masing-masing diiisi oleh satu orang diantara empat orang pemain sandur. Adapun yang kelima, yakni “pancernya”, ditempati oleh germo — jawadosok dari “paugeran limo”, sebagai pemandu jalanya pertunjukan. Selain itu ada pula dua bambu tinggi dengan rentangan tali (tambang) — sebagai penghubung atar dua tiang bambu itu, yakni tempat bergelantungan pemain kalongkung sebagai atraksi penutup dalam prosesi pertunjukkan sandur.

D. Pengharapan

Demikianlah tulisan bersahaja mengenai kesenian sandur, yakni salah satu teater traditional di Jawa Timur yang kini nyaris punah. Semoga menanbah khasanah pengetahuan pembaca dan mendorong pelaku sandur serta pemerintah daerah padamana terdapat sandur di daerahnya untuk lestarikan dan manfaatkan warisan budaya tak-benda ini untuk beragam keperluan berharga. Nuwun.

Tuban, 12 December 2019
Patembayan CITRALEKHA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *