Untung Masih Ada Tuhan

Oleh: Prof. Mudjia Rahardjo

“Untung masih ada Tuhan”, begitulah salah satu kalimat yang diucapkan seorang tamu yang datang ke rumah saya beberapa waktu lalu. Tamu itu adalah kawan waktu kuliah di S1 yang tidak pernah bertemu hampir dua puluh lima tahun lamanya. Ketika menatap wajahnya pertama kali di teras rumah, saya agak lupa siapa sang tamu itu. Untung dia segera mengenalkan diri dengan menyebut nama dan identitas lainnya. Seketika itu saya ingat, karena dulu memang kami berkawan dekat.

Pertemuan itu menyenangkan sekaligus mengagetkan karena tiba-tiba dia datang tanpa ada janji sebelumnya. Padahal rumah saya masuk gang dan nomor rumah tidak urut, sehingga orang sering kesulitan menemukannya. Pernah suatu kali seorang ingin datang ke rumah saya, tetapi karena kesulitan menemukan nomor rumah akhirnya pulang. Kawan saya itu tanpa kesulitan datang dan katanya dengan mudah menemukannya. Hari itu kebetulan saya agak longgar sehingga cukup ada waktu untuk ngobrol sambil bernostalgia.

Kami berdua berceritera tentang masa lalu ketika masih kuliah, mulai datang kuliah terlambat sehingga dimarahi dosen, pekerjaan rumah yang tidak selesai, mbolos kuliah, menggoda dosen, terlambat bangun dan lari ke kampus tanpa mandi lebih dulu, tidak bisa bayar SPP akhirnya pinjam teman, stres karena tidak lulus matakuliah. Memori kami berdua terasa masih utuh mengingat masa-masa kuliah hampir tiga puluh tahun lalu.

Kawan saya, sebut saja namanya Budi, bekerja di sebuah perusahaan asing setelah lulus kuliah. Dia tidak pernah melamar kerja ke mana-mana kecuali ke sebuah perusahaan asing pengeboran minyak itu dan langsung diterima. Setelah mencapai usia 55 tahun dia pensiun. Aturan di perusahaan itu memang memensiunkan karyawan yang usianya sudah mencapai 55 tahun. Katanya, malah ada program pensiun dini, yakni bagi yang mau pensiun sebelum usia 55 tahun juga diperbolehkan. Malah uang sakunya hasil pengabdiannya lebih banyak dibanding yang pensiun normal. Saat ini Budi telah pensiun.

Usai cerita tentang masa kuliah, kawan itu menyampaikan suka duka bekerja di perusahaan asing. Selama ini kesan umum tentang bekerja di perusahaan asing ialah gaji besar, fasilitas lengkap, mobilitas tinggi, uang pensiun tinggi dan lain. Saya dulu setelah lulus kuliah S1 juga sempat melamar di perusahaan asing tempat Budi bekerja itu. Tapi saya tidak lulus ujian psikotes. Akhirya memilih profesi sebagai dosen hingga saat ini. “Nah itu betul. Tapi masyarakat kadang tidak melihat sisi lain yang tidak enak. Yang dilihat yang enak-enak. Padahal di perusahaan itu juga ada seabrek masalah. Jika seseorang tidak mampu mengelolanya dengan baik, bisa stres ”, sambung Budi.

Sebagai karyawan, Budi dinilai atasannya sebagai pekerja keras dan berdedikasi tinggi. Itu sebabnya dia memperoleh promosi lebih cepat dibanding teman-teman seangkatannya. Malah, katanya, beberapa teman seangkatan menjadi bawahannya. Dari situ petaka bermula. Budi mulai tidak disukai kawan-kawannya. Kasak kusuk, sikap iri, mbalelo, dan fitnah mulai dia terima. Awalnya Budi cuek saja dengan semua yang terjadi dan menganggapnya sebagai risiko pekerjaan. Apapun yang dilakukan Budi dianggap salah oleh kawan-kawannya. Teror juga diterima oleh keluarga Budi. Anehnya, atasannya lebih percaya pada teman-teman Budi dan mulai memberi penilaian negatif terhadapnya. Bagi kawan-kawannya, Budi dianggap sebagai ancaman terhadap karier mereka. Karena itu, dengan berbagai cara, Budi dibuat tidak nyaman oleh kawan-kawannya.

Sikap kawan-kawan Budi itu mengingatkan saya tentang penilain seorang ahli psikologi terhadap sifat naluriah manusia. Menurut ahli psikologi salah satu sifat dasar manusia itu tidak toleran, iri, dengki dan memandang orang lain yang memiliki kompetensi lebih tinggi sebagai ancaman bagi dirinya merupakan naluri bawaan terhadap orang lain (others).

Kebetulan secara etnik, Budi berbeda dengan kebanyakan kawan-kawannya itu. Budi dianggap liyan (orang lain) atau dalam sosiologi sebagai “others”. Dalam teori sosiologi dikatakan jika seseorang dianggap others, maka apapun yang dia lakukan, gagas, rancang dan dipikirkan dianggap salah. Di benaknya, others adalah ancaman bagi eksistensi dirinya. Karena others bukan kelompoknya, maka dia harus disingkirkan.

Lama kelamaan Budi benar-benar merasa sangat tidak nyaman bekerja di perusahaan itu. Dia mulai berpikir untuk pindah pekerjaan. Budi adalah seorang yang religius. Ketika menghadapi masalah semacam itu, dia tidak meninggalkan sholat malam dan meminta petunjuk Tuhan tentang masalah yang dia hadapi. Dalam setiap doanya, dia bertanya “Saya harus bagaimana?”.

Budi sangat sedih karena siapa kawan sejati dan lawan tidak jelas. Suatu saat dia mengutarakan isi hatinya (curhat) tentang masalah yang dia hadapi ke teman yang dia anggap sebagai salah satu teman terbaiknya. Ternyata justru dari teman yang dia anggap baik itu masalah jadi meruncing. Oleh temannya itu Budi difitnah bahwa dia akan melakukan aksi demo dengan menggalang bawahannya. Berita akan ada aksi itu cepat menyebar ke hampir seluruh karyawan di perusahaan dan buntutnya dia dipanggil atasannya untuk klarifikasi.

Budi tidak bisa meyakinkan atasannya bahwa itu fitnah karena karwayan yang melaporkannya semakin banyak, dan suasana perusahaan tidak kondusif. Dia diminta memilih satu di antara dua opsi, yaitu mengundurkan diri jabatannya atau diberhentikan. Budi minta waktu dua minggu untuk mengambil keputusan. Dalam waktu dua minggu itu, Budi tidak mengadu ke siapa-siapa, karena merasa tidak punya teman baik lagi. Dia mengadu kepada sang Maha Adil, Allah swt. Dia minta keadilan, dan memohon agar atasannya bisa mengambil keputusan secara jernih siapa sesungguhnya yang salah.

Di tengah-tengah suasana kalut seperti itu, Budi menemukan sebuah buku yang di dalamnya ada uraian tentang sifat manusia. Seolah Budi diingatkan beberapa hal sebagai berikut:

Jangan meminta-minta kepada manusia, karena dia akan bosan setelah memberimu.
Jangan mengeluh kepada manusia, karena dia akan mengejekmu.
Jangan bersandar kepada manusia, karena dia suatu saat akan menjadi pengkianatmu.

Dengan membaca buku itu, Budi semakin yakin bahwa suatu saat kebenaran akan muncul. Karena itu, kendati tidak nyaman dia tetap bekerja keras seperti biasa. Di mata atasannya, Budi dinilai sebagai orang luar biasa. Di tengah-tengah fitnah dari teman-temannya dan ancaman pemberhentian jabatan oleh atasannya, Budi tetap tenang, walau hati terasa remuk redam.

Dua minggu waktu yang dia perlukan untuk mengambil sikap hampir habis. Akhirnya Budi benar-benar mundur dari jabatannya, dan menjadi karyawan biasa. Jabatan yang semula dipegang Budi menjadi kosong. Karena ada kekosongan, perusahaan mengumumkan ada lowongan jabatan, dan karyawan yang berminat diminta untuk segera mendaftarkan diri.

Dalam masa pendaftaran, tidak ada satupun pendaftar dari unit kerja lain. Semua pelamar berasal dari unit kerja Budi. Atasan mulai curiga. Sebab, biasanya jika ada lowongan jabatan pelamar berasal dari berbagai unit yang ada di perusahaan itu. Dari semua itu diuji dan dipilih yang terbaik. Sesuai mekanisme yang ada, para pelamar itu diuji kompetensi mereka berdasarkan tupoksi jabatan yang ditinggal Budi. Anehnya, dari semua pelamar tak satupun yang lulus uji kompetensi.

Perusahaan mulai kebingungan menghadapi masalah itu. Jabatan yang ditinggal Budi harus segera terisi, karena kalau berlama-lama kosong akan mengganggu kinerja perusahaan. Langkah yang diambil pimpinan adalah memindahkan seorang pejabat dari unit kerja lain sebagai pelaksana tugas di tempat yang ditinggal Budi. Anehnya Budi dipanggil untuk mengisi jabatan yang ditinggal temannya itu dan menerimanya. Berarti hanya terjadi tukar tempat.

Do’a Budi setiap malam rupanya dikabulkan Tuhan. Terpapar sangat jelas sesungguhnya siapa yang menjadi biang kerok masalah di perusahaan itu. Di tempat baru Budi kembali bekerja dengan tekun, seolah tidak pernah terjadi apa. Dia loyal kepada pimpinan, profesional dalam bekerja dan diikuti integritas yang tinggi. Budi bernafas lega sambil berucap “ Untung masih ada Tuhan” sebagai tempat bertanya, mengadu, mengeluh dan meminta petunjuk.

Tak terasa suara adzan sholat ashar sudah berkumandang. Budi pamit untuk pulang dan berjanji suatu saat bisa bertemu kembali dengan mengajak anak dan istrinya. Saya pun mengiyakan dan berucap “Untung masih ada Tuhan, sehingga ada yang menemukan kita, walau telah berpisah hampir tiga puluh tahun lamanya”. Budi tertawa lebar dan bergegas meninggalkan rumah saya.

Kehadiran Budi di rumah saya semakin meneguhkan sikap jangan pernah bersandar dan meminta sesuatu kepada orang, tetapi bersandar dan memintalah kepada kepada Tuhan. Sebab, Tuhan itu Maha Pemberi, Maha Kasih, Maha Penolong, dan Maha-Maha yang lain yang tidak akan pernah bosan memenuhi permintaan umatNya!


Ponorogo, 9 Desember 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *