Air, Yang Dinanti, Yang Dicaci

Oleh : M. Dwi Cahyono
Redaktur Ahli Arkeologi dan Sejarah Nusadaily.com

Satu diantara lima unsur utama pembentuk jagad raya (pancamabhuta) adalah “air”.
Tanpa unsur air, jagad raya tak jadi terbentuk. Apapun, siapapun, yang hidup di jagad tentu butuh air guna melangsungkan kehidupan.
Di dalam tanah, di udara, pada tubuh, ada air.
Ke dalamnya air masuk, darinya air keluar,
bersirkulasi : masuk-keluar-masuk lagi.

Ada kalanya kehadiran air amat dinanti-nanti.
Manakala air melangkah, dan bumi kekeringan,
maka resah-gelisah semua makhluk hidup.
Was-was terganggu alur wajar kehidupannya.
Gesekan ranting kering, benturan antar batu yang percikkan api, jadi sebab kebakaran. Melalap permukiman, lahan, malahan hutan.
Tidak cukup air buat memadamkan, terlebih bila hujan tak kunjung datang menyiram.
Lantaran air langka, manusia menuai derita.
Hingga dua bulan lalu, terseru “aku butuh air”.

Belum genap dua bulan berlalu, kemuncak
kemarau beralih memasuki musim hujan.
Kendati masih di awal penghujan, di penjuru
negeri menyeruak berita “banjir melanda”.
Yang semula langka, kini melimpah, bahkan
meruah, lantas tumpah genangi apa saja.
Lantaran menjelma menjadi air bah, maka
manusia pun kembali menuai derita.
Dari seruan “aku butuh air” di dua bulan lalu,
kini beralih kepada seruan “aku benci air”.
Kenapa air terus-menerus turun, deras lagi.
Dukun siwer tandang, buat menerang hujan.

Air masuk, air keluar, adalah sirkulasi biasa.
Air menguap, air turun sebagai hujan, adalah hukum alam, yang terjadi sejak dulu kala.
Apanya yang salah dengan air, sehingga dari dinanti-nanti, kemudian dicaci dan dibenci.

Yang salah adalah cara dalam mengelola air.
Yang keliru adalah menutupi lobang resap air.
Yang tak bijak adalah buangi sampah ke kali.
Yang ceroboh adalah gunduli pohon di hutan.
Yang khilaf adalah keputusan untuk pangkas
anggaran “penanggulang bajir tahunan”.
Yang menjengkelkan adalah penguasa cuma
cari alibi daripada temukan solusi atasi.
Lantaran kesalahan-kesalahan itu, warga lah
yang riil menanggung beban deritanya.

Bukan air yang biang salah.
Maka, jangan kau caci air
Jangan pula kau benci air.
Ingat, ketika kau menanti air.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *