Status Barang yang Hanyut dalam Banjir Menurut Hukum Fikih

IMPERIUMDAILY.COM – MALANG – Banjir bandang di Jakarta 1 Januari 2020 heboh nggak karu karuan. Berbagai komentar muncul di media sosial baik yang negatif maupun yang positif. Banjir tersebut juga menghanyutkan banyak barang milik masyarakat. Ada yang terbawa air sampai jauh hingga tidak diketahui siapa pemiliknya.

Lalu bagaimana status barang yang terhanyut banjir dalam pandangan fikih Islam? Menurut Abdul Walid, Alumni Ma’had Aly sebagaimana yang dimuat di http://mahadaly-situbondo.ac.id/ dalam pandangan Ulama’ madzhab Syafi’i, status barang ini tidak dikategorikan kepada barang temuan (luqathah), namun tergolong barang yang terlantar (مال ضائع) . Bagaimana status harta terlantar ini dalam kajian fikih?

Menurut Abdul Walid, Imam Syarbini mengatakan, bahwa jika pemilik barang ini sudah tidak menghiraukannya, tidak berusaha mencari barangnya yang hanyut, tidak menyebarkan informasi baik di media ataupun selebaran ‘woro woro’, maka barang tersebut bisa diambil sebagai hak milik yang memungutnya.

Tetapi bila masih ada upaya dari pemilik untuk mencari dan mendapatkan barang tersebut, maka yang memungutnya hanya diperbolehkan menyimpan barang untuk nantinya diserahkan kepada pemilik bila diketahui sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Al-Iqbna’ Fi Hilli alfadz al-Taqrib, 2/98.

Disampaikan Walid, berbeda dengan pandangan Imam Zakariyya al-Anshari, pemilik tanah yang menemukan barang hanyutan banjir di tanah miliknya boleh memilikinya setelah menyiarkan informasi tentang barang tersebut.

Informasi disebarkan hingga dalam pandangan khalayak umum (urf) menilai pemiliknya sudah tidak mencarinya lagi. Jika, setelah menyiarkan informasi, diketahui dengan pasti siapa pemiliknya, maka mau tidak mau barang itu harus diserahkan kepada pemiliknya sebagaiman termaktub dalam kitab Asna al-Matahalib, 13/105

Menurut dia, menyikapi harta terlantar ini, Imam Bujairami mengatakan, bahwa harta terlantar harus dimasukkan ke dalam kas Negara (bait al-mal). Bila diyakini Negara akan mendistribusikan barang tersebut kepada kepentingan umum, bila tidak, maka harta terlantar itu bisa disedekahkan kepada jalan kebaikan seperti membangun jembatan yang ambruk karena banjir, dan lain sebagainya ( Hasyiyah al-Bujairami ala al-Minhaj, 4/346).

Maka, dalam konteks banjir masyarakat tidak boleh mengambil kesempatan di balik kesempitan. Seberapapun besarnya kebutuhan kita kepada materi, tetapi bukan lantas, mengorbankan saudara yang lain yang kebetulan tertimpa musibah dan kehilangan materi. Tetap berlaku bijak adalah pilihan sikap terbaik. Kembalikan barang terlantar itu kepada pemiliknya. Karena mestinya kitalah yang menyantuni bukan malah menyatroni.(aka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *