Warga Yogyakarta Diharap Waspadai Gejala Penularan DB

IMPERIUMDAILY.COM – YOGYAKARTA – Memasuki musim penghujan, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta terus mengingatkan warganya untuk mewaspadai potensi penularan penyakit demam berdarah (DB).

“Mewaspadai tanda-tanda awal penularan demam berdarah sangat penting dilakukan. Terutama menghitung waktu panas supaya masa ‘shock’ atau kritis dapat diatasi dengan baik,” ujar Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Endang Sri Rahayu di Yogyakarta, Minggu (05/01).

Menurut Endang, warga Yogyakarta perlu rajin mencatat waktu awal hingga total hari jika terjadi demam. Hitungan tersebut bahkan dianjurkan pada hitungan jam, bukan lagi hari.

“Satu hari panas dihitung dari jam awal terjadinya demam. Misalnya dimulai pada pukul 08.00 WIB, maka satu hari demam adalah pada pukul 08.00 WIB hari berikutnya,” katanya.

Penanganan DB, lanjut Endang, perlu dilakukan dengan menghitung waktu demam karena masa kritis biasanya terjadi pada hari keempat atau kelima demam. Pada masa kritis tersebut, suhu tubuh pasien justru mengalami penurunan yang signifikan namun terkadang disertai dengan gejala lain seperti sakit kepala dan mual.

“Jika tidak ditangani dengan baik, maka masyarakat bisa saja mengartikan bahwa kondisi pasien sudah membaik tetapi yang terjadi justru pasien dalam masa ‘shock’. Pada masa seperti ini, perlu penanganan medis yang tepat,” katanya.

Saat pasien mengalami gejala awal penularan DB seperti demam tinggi, maka disarankan untuk segera menghubungi Puskesmas terdekat agar segera mendapat penanganan awal.

“Kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan berbagai tindakan pencegahan lain juga perlu terus digiatkan di lingkungan warga. Mengubur barang yang berpotensi menjadi genangan juga sangat penting dilakukan,” katanya.

Tercatat hingga akhir Desember 2019, total kasus DB di Kota Yogyakarta mencapai 474 kasus dengan satu kematian atau mengalami kenaikan bila dibanding tahun sebelumnya yaitu 413 kasus. Kasus terbanyak terjadi di Kelurahan Brontokusuman dengan 29 kasus dan paling sedikit di Kelurahan Tegalrejo dan Patehan dengan satu kasus.

“Pada 2018, sudah terjadi kenaikan kasus DB pada Oktober hingga Desember. Namun pada 2019 baru terjadi kenaikan pada Desember. Jika tidak dilakukan upaya antisipasi dengan PSN atau menjaga kebersihan lingkungan, maka kasus bisa meningkat pada awal tahun ini,” katanya.

Data dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat, puncak kasus DB biasanya terjadi pada Mei dan kembali turun saat musim kemarau tiba.(lna/ant)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *