Evangelista

Cerpen: Akadilah

Salam Mas, saat SMS darimu masuk, aku sedang dalam acara pengabdian di wilayah Gunung Kidul Jogjakarta. Jadi tidak langsung bisa aku baca, di sini tidak ada sinyal. SMS Mas baru aku buka dua hari setelahnya.

Aku dan temanku, tiga penginjil perempuan (evangelista), berada di desa untuk membantu orang-orang miskin di sana selama satu minggu. Wah… medannya berat sekali, tapi aku senang, bisa merasakan denyut kehidupan masyarakat miskin di desa-desa terpencil itu. Mereka sangat butuh bantuan Mas, pemerintah tidak mampu menyediakan semuanya. Kami membantu mereka mengambil air dari sumber yang berjarak tiga kilometer. Setiap hari aku harus berjalan kaki sambil mengangkut ember berisi air. Awalnya aku capek sekali dan tidak kerasan. Tapi karena ini panggilan tuhan Yesus, aku harus mengerjakan dengan sepenuh keikhlasan.

Alhamdulillah, setelah melewati masa seminggu aku kerasan juga. Aku bisa menyelami betapa susahnya hidup orang-orang miskin itu. Ini juga yang menjadikan aku lebih banyak bersyukur, bahwa bahagia tidak melulu karena harta. Di sini aku melihat lautan wajah-wajah yang setiap hari dihias rasa syukur. Canda tawa anak-anak yang meski hanya bermain di ladang kering. Semangat para lelaki pemanggul cangkul yang setiap hari berangkat pagi dan pulang bersama senja. Senyum para ibu yang tak setiap hari dapurnya mengepul.

Itulah sekelumit pengalaman pertamaku menjadi evangelista yang ditugaskan di desa terpencil. Oiya Mas, soal waktu wawancara, nanti aku kabari setelah aku balik ke Malang saja ya.

Salam. Magdalia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *