PENEMUAN KEMBALI FRAGMEN KEPALA KALA: Komponen Ikonografis Sudharmahaji Kalangbrat

Oleh : M. Dwi Cahyono*

A. Temuan Ulang Satu di Antara Enam Kepala Kala

Penemuan Kepala Kala Tulungagung pada tahun 1999. Ketika itu jelang “Penelusuran Ulang Hari Jadi Tulungagung”, kami sempat mendapati sebuah fragmen kepala kala di Desa Panggungrejo Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung. Di seberang utara DAS Song, tak jauh dari perempatan Cuwiri. Kala itu tinggalan arkeologi tersebut hanya tampak sebagian. Sebagian lainnya tertutup tanah, dekat tempat pembuangan sampah di halaman warga. Menurut informasi warga, sebenarnya pada tahun 1960-an sudah terlihat. Namun, memasuki tahun 2000-an, kebendaannya lambat-laun menghilang lantaran terkubur tanah. Barulah ketahuan ulang beberapa hari terakhir, yang diberitakan sebagai temuan baru. Oleh karena itu, lebih tepat disebut dengan “penemuan ulang”.

Kepala kala ini tak terbuat dari batu andesit, namun lebih mengarah pada batu padas keras atau malah menyerupai batuan kapur (lime stone). Bila menilik bentuk dan bahannya, memerlihatkan keserupaan dengan dua buah kepala kala (beda ukuran) koleksi Museum Daerah Tulungagung. Boleh jadi, kedua kepala kala koleksi museum ini muasalnya adalah dari situs Panggungrejo. Dan satu kesatuan dengan kepala kala yang diketemukan ulang ini.

kepala kala kalangbrat
Dua buah kepala kala koleksi Museum Daerah Tulungagung.

Bila benar demikian, satu di antara dua buah kepala kala koleksi Museum Daerah Tulungagung berukuran lebih besar — yang beberapa bagian dibuat secara knock down — sangat mungkin merupakan kepala kala yang konon ditempatkan di penampil candi. Adapun sebuah lainnya konon ditempatkan pada bilik (relung) samping candi atau bisa juga relung sisi belakang. Adapun fragmen kepala kala yang kini ditemukan ulang ini bisa jadi adalah satu di antara enam buah kepala kala yang melengkapi bangunan candi. Dengan demikian, masih ada tiga buah kepala kala lainnya yang belum ditemukan di Desa Panggungrejo.

B. Sebagian dari Komponen Candi Kalangbrat

Keberadaan tiga buah kepala kala, yang muasalnya di Desa Panggungrejo ini menjadi petunjuk tentang adanya bangunan candi yang cukup besar. Sayang komponen-komponen lainnya belum diketemukan, yang bisa jadi terpendam tanah yang cukup dalam karena lumpur air bah. Areal situs bukan saja dekat dengan DAS Song, namun pada tahun 1970-an ikut terpapar banjir bandang besar. Sehingga bisa jadi reruntuhan candi lainnya masih terpendam tanah. Candi inilah yang pada Kakawin Nagarakretagama (disurat tahun 1365 Masehi) dan Prasasti tembaga (tamraprasasti) Mula-Malurung (1255 M.i) disebut dengan nama “Kalangbrat”. Toponimi ini amat dekat dengan nama “kalangbret” sekarang. Apabila benar demikian, bisa jadi merupakan candi Hindu sekte Siwa.

Prakiraan yang demikian itu terdukung oleh adanya temuan Yoni besar pada sekitar 300-400 meter di sebelah timur dari areal penemuan ulang fragmen kepala kala ini. Selain itu, hanya berjarak 100-an meter dari temuan ini. Tepatnya pada areal makam di tepi utara DAS Song banyak ditemukan bata-bata kuno dan fragmen-fragmen gerabah. Disamping itu, menurut informasi, konon di tepi DAS Song pernah terdapat arca-arca batu. Yang sebagian atau malah seluruhnya oleh pihak yang tidak bertanggungjawab diceburkan ke dalam sungai. Temuan fragmen kepala kala dan informasi itu semakin menguatkan kemungkinan lokasi Candi Kalangbrat yang telah ada sejak era pemerintahan Wisnuwardhana (1248-1268 M i). Sayang sekali, belum terang benar siapakah yang didharmakan pada Candi Kalangbrat ini. Namun ada indikasi bahwa berkerabat dengan raja-raja di Singhasari, mengingat bahwa keberadaannya disebut dalam prasasti Mula- Malurung dan Nagarakretagama.

kepala kala kalangbrat
Kepala kala di Panggungrejo berukuran besar.

Daerah Kalangbrat yang miliki perempatan yang terkenal bernama “Cuwiri”, namanya mengingatkan pada nama “biri” yang disebut dalam prasasti Biri bertarikh Saka 1124 (29 Agustus 1202 M.). Prasasti ini disuratkan atas perintah Raja Srengga (Kertajaya, atau Dandang Gendis). Yakni Raja terakhir Panjalu (Kadiri). Prasasti batu (linggoprasasti) ini sekarang menjadi benda koleksi Museum Nasional di Jakarta dengan No Inv. D1. Pada keterangan (chapter) di Museum Nasional tidak memberi kepastian lokasi asalnya. Hanya disebutkan dari daerah Kediri. Boleh jadi, yang dimaksudkan adalah di afdeeling Kediri, di mana konon Kaboepaten (Regent) Nggrowo — lalu berubah nama menjadi “Toeloengagoeng” — adalah salah satu under afdeeling Kediri.

Sangat mungkin lokasi asalnya adalah dari Kalangbret, Tulungagung, mengingat bahwa nama “Biri” bisa berubah menjadi nenjadi “Wiri” — pergantian dari konsonan “B” ke “W”. Nama ” Cuwiri” di Kalangbret boleh jadi berasal dari ” Ci+wiri” dan lebih tua lagi “Ci+Biri”. Kata “ci” berarti : sungai — seperti halnya di dalam bahasa Sunda. Sebagai pembanding, nama kuno Bengawan Solo adalah “Ciwuluyu”. Sungai (ci) Biri (Wiri) amat boleh jadi kini disebut “Kali Song”, yang berada di sebelah selatan tak jauh dari perempatan Cuwiri.

Apabila benar bahwa prasasti Biri berasal dari Kalangbret, yang di dalamnya memuat penetapan Desa Biri sebagai Desa Sima (perdikan, swatantra). Berarti nama kuno areal ini adalah Biri, yang pada awal abad XIII Masehi telah menyandang status “sima”. Bisa jadi Kalangbrat adalah desa tetangga (wanua tpi siring) dari desa (thami) Biri, atau bisa juga anak desa (anak thami) dari thani Biri. Bahwa areal sekitar Kalangbret telah menjadi area penting bagi kegiatan sosial budaya semenjak abad XII-XIII Masehi diperkuat pula oleh adanya prasasti di Desa Sidorejo. Yang juga dekat dengan pertigaan Cuwiri. Demikianlah, Kalangbrat dan sekitarnya merupakan areal penting di wilayah Tulungagung dalam lintas masa. Sejak masa Kadiri, Singhasari,, Majapahit dan masa-masa sesudahnya. Seperti pula yang antara lain tergambarkan dalam tradisi lisan berikut

Candi Kalangbrat diberitakan di dalam kakawin Nagarakretagama sebagai salah satu di antara 27 buah pendharman yang direnovasi atas perintah dari Maharaja Hayam Wuruk untuk pemujaan arwah leluhurnya. Candi ini termasuk ke dalam kelompok “sudharmahaji (bangunan suci kerajaan)”, seperti tertulis dalam kakawin Nagarakretagama berikut.

“Kwehnikanaɳ sudarmma haji kaprakaçita
makhadi riɳ kagnenan, lwir nikanaɳ manadi
tumapel, kidal, jajagu wedwawedwan i tudan,
mwaɳ pikatan bukul jawajawantan antaraçaçi
kalaɳ brat i jaga, len balitar, çilahrit i waleri
babeg i kukap ri lumban i pagör…… “.

Oleh karena itu, secara arsitektural dan ilinigrafis amat boleh jadi bergaya seni Majapahit. Menilik ukuran kepala-kepals kala-nya itu, tentulah Candi Kalangbrat adalah candi besar. Wajar, karena renovasi terhadapnya termasuk ke dalam “proyek nasional” pada zamannya. Kemungkinan candi ini berbahan bata, dengan bagian tertentu — khususnya komponen ikonografismya — dibuat dari lime stone (batu kapur). Sayang sekali, bangunan candinya kini telah dalam kondisi roboh total.

C. Kalangbrat dan Kalangbret, Antara Sejarah dan Legenda Lokal

Pada tradisi lisan dikisahkan adanya tempat yang bernama ‘Kalangbret”, yang dijelaskan secara “thak-thik-thuk (akronim.: othak- athik-gathuk)” dari & tubuh Adipati Kalang yang sempal-sempal (sembet-sembret). Menurut kisah ini, dari akronim “kalang+bret” itulah terbentuk apa yang kini bernama “Kalangbret”. Sedangkan nama “cuwiri” dijelaskan dalam hubungan dengan itu, yaitu berasal dari kata “suwir (serpih) “, yakni tubuh yang telah “disembret- sembret” itu lintas “disuwir- suwiri”. Sehingga terciptalah nama ” Cuwiri”. Kisah itu memberi gambaran tentang kesadisan (sadistis) Patih Gajah Mada terhadap lawannya, yaitu Adipati Kalang. Benarkah Gajah Mada sesadis itu terhadap lawan?

Pada legenda itu, muasal nama ‘Kalangbret” dan “Cuwiri” dari masa Majapahit, lantaran tampil tokoh cerita yang bernama Patih Gajah Mada. Padahal, menurut keterangan prasasti Mula-Malurung (1255 M ) di era Singhasari, nama “Kalangbrat” telah ada sebelum masa Majapahit. Nama ini terus dipakai hingga masa Majapahit, terbukti disebut di dalam kitab kakawin Nagarakretagama (1365 M.). Jadi, tidak benar bila toponimi “Kalangbret” Itu bermuasal dari kisah sadis mengenai tubuh Adipati Kalang yang “disembret-sembret”. Ada yang perlu untuk dicermati dalam unsur nama “Kalang” dari nama tokoh “Kalangbret”. Sebutan “kalang” semenjak masa Hindu-Buddha.

Sebagaimana diberitakan di dalam prasasti maupun susastra, menunjuk pada komunitas yang tinggal di tepian hutan. Yang acap dinamai dengan “Wong Kalang”. Bisa jadi, tokoh cerita Adipati Kalang adalah pimpinan dari Wong Kalang yang mendapat jabatan sebagai ” Adipati”. Disebut “Wong Kalang”, karena mereka tinggal di tepian hutan pada lereng timur sebelah Gunung Wilis yang berhutan lebat — tergambar pada unsur nama “wilis (hijau)”. Lantaran gunung ini tampilkan kesan warna menghijau oleh lebatnya pohon-pohon hutan-gunung (wana-giri) “. Adapun unsur sebutan “brat” bersinonim arti dengan “Brit (merah, abang)”. Di antara komunitas-komunitas Kalang ada yang dinamai “Kalang Abang”, atau ada kalanya disebut “Kalang Obong” yang mengenal tradisi kremasi atau pembakaran mayat. Komunitas Kalang Obong atau Kalang Abang juga kedapatan di daerah Kutogede, Yogyakarta.

Bolah jadi semenjak Masa Hindu-Buddha daerah Kalangbrat maupun Biri telah lama menjadi tempat kedudukan dari pejabat pemerintahan. Salah satu jabatan birokrasi adalah”tanda”, dengan kata jadian “tanda+an (tandan)”. Suatu hal yang menarik adalah di sebelah selatan DAS Sing terdapat suatu tempat bernama “Ketandan (istilah arkhais : katandan –> ka+tada+an) “. Pada areal ini masih terdapat balik baru berukuran besar, yang mengingatkan pada pedestal. Dahulu, pada tempat ini juga terdapat sejumlah arca, yang kini telah raib.

Dalam tradisi lisan setempat terdapat tokoh yang dinamai “putri tandan”, yang bisa menyukai kepada : putri pejabat tanda, atau mungkin pejabat tanda berjenis kelamin perempuan. Posisi penting dari tempat ini adalah sebagai pusat pemerintahan daerah terus berlanjut hingga di Masa Kasultanan. Di mana Kalangbret merupakan salah satu kadipaten di daerah yang kini bernama “Tulungagung” — selain “Kadipaten Rowo (Ngrowo) “. Pasca “Perjanjian Giyanti (1755 M.)”, kawasan ini masih terdiri atas Kadipaten Ngrowo dan Kadipaten Kalangbret. Pada masa kemudian, Kadipaten Ngrowo dan Kalangbret lalu disatukan menjadi Kabupaten Ngrowo yang beribu kota di Kalangbret.

Demikian halnya dengan toponimi “Cuwiri”, yang bukan berasal dari kisah tubuh Adipati Kalang yang ” disuwir-suwus”. Mengingat bahwa telah sejak awal abad XIII terdapat “desa sima” bernama Biri dan sungai yang dinamai “Cibiri”. Nama inilah yang kemudian berubah sebutan menjadi “Cuwiri”. Baik Kalangbrat ataupun Biri merupakan tempat penting di Masa Hindu-Buddha. Yaitu semenjak masa Kadiri, Singhasari hingga Majapahit. Kisah muasal nama “tak-tik-tuk” yang sadistis itu tidak pernah terjadi di dalam sejarah daerah Tulungagung. Patih Gajah Mada tidak sesadis yang dikisahkan pada legenda tentang Kalangbret dan Cuwiri tersebut. Meski ada yang menafsir bahwa Gajah Mada sebagai biang musabab terjadinya “Perang Bubad (kitab Pararaton memberi tarikh Saka 1279 = 1357 Masehi).

Demikianlah tulisan yang bersahaja ini dibuat untuk menunjukkan bahwa penemuan ulang fragmen kepala kala di Desa Sidorejo (Tetangga Desa Panggungrejo di Kecamatan Kauman, Red) itu merupakan hal penting. Oleh karena artefak ini menjadi petunjuk ikonografi mengenai jejak bangunan candi yang oleh Prasasti Mula-Malurung maupun Kakawin Nagarakretagama disebut dengan nama “Kalangbrat”. Suatu toponimi arkhais yang kini bernama “Kalangbret”. Semoga ke depan menyusul ada temuan-temuan lain. Berharap tulisan ini memberikan kedaerahan, meski ungkap sejarah ini barulah sekilas. Nuwun.

Sangkaling, 18 Juni 2020
Griya Ajar CITRALEKHA

*Arkeolog dan redaktur ahli nusadaily.com

Untuk pembaca setia nusadaily.com, induk dari imperiumdaily.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *