Beberapa Pertanyaan Sederhana yang Sulit untuk Saya Jawab

Oleh: Pranata Wikasmara

Sebagai manusia, tentu sudah sewajarnya kita berkomunikasi, bertukar informasi, dan saling mengenal. Di dalam tiga proses tersebut sudah pasti akan terjadi proses tanya jawab antar individu. Bertanya adalah proses yang bertujuan untuk meminta informasi sedangkan menjawab adalah proses memberikan informasi.

Ketika menjawab sebuah pertanyaan yang berkaitan dengan dirinya sendiri, beberapa orang memilih untuk tidak memberikan informasi tentang dirinya karena dua alasan. 

Alasan pertama karena menganggap hal tersebut bersifat rahasia (privasi), contohnya keadaan rumah tangga, gaji, dan hal-hal pribadi lainnya. Alasan kedua adalah orang itu kesulitan untuk menjawab pertanyaan tersebut karena pertanyaannya cukup rumit atau berat, misalnya pertanyaan tentang politik, agama, dan topik yang sulit untuk dipahami.

Namun tidak selamanya pertanyaan rumit itu saja yang bisa membuat saya kesulitan untuk menjawabnya. Ada beberapa pertanyaan yang sederhana dan sangat umum yang menurut saya sulit untuk dijawab.

Pertanyaan pertama adalah “Kamu orang apa?”. Bagi saya pertanyaan ini memiliki dua maksud yaitu mempertanyakan suku saya atau mempertanyakan asal saya. Pertanyaan ini menjadi sulit bagi saya karena saya lahir, besar dan tinggal di Kalimantan sedangkan kedua orang tua saya berasal dari Jawa.

Jika saya menjawab saya orang Kalimantan, kemungkinan besar pertanyaan tersebut akan diikuti dengan pertanyaan “Wah bisa Bahasa Dayak dong?” dan jika saya mengaku sebagai orang Jawa maka juga akan diikuti pertanyaan “Wah bisa Bahasa Jawa dong?”. Tentu pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin sulit untuk saya jawab karena saya tidak menguasai kedua bahasa tersebut.

Saya tidak memahami definisi dan konsep hobi itu sendiri

Pertanyaan kedua yang sulit untuk saya jawab adalah pertanyaan “Apa hobimu?”. Saya bingung untuk menjawab pertanyaan ini karena saya tidak memahami definisi dan konsep hobi itu sendiri. Jika dilihat di dalam KBBI, hobi adalah kesenangan istimewa pada waktu senggang. Kalau saya menelan mentah–mentah definisi tersebut saya bisa dengan mudah menjawab bahwa hobi saya adalah tidur karena tidur adalah aktifitas yang saya lakukan ketika waktu senggang dan tidur bisa membuat saya senang.

Namun saya rasa hobi tidur adalah sesuatu yang kurang menjual dan dianggap negatif bagi sebagian orang karena akan dicap sebagai pemalas. Karena definisi tersebut kurang cocok menurut saya, saya memutuskan untuk merumuskan definisi hobi dari realita yang saya lihat. Menurut saya, hobi adalah suatu aktivitas yang membuat seseorang rela mengorbankan waktu, materi, dan tenaga untuk melakukannya.  Saya membuat definisi tersebut karena saya melihat teman-teman saya yang saya ketahui hobinya.

Ada yang hobi anime sampai dia rela menghabiskan waktunya untuk menonton anime selama berjam-jam setiap malam. Ada yang hobi motor sampai dia rela mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk memodifikasi kuda besinya. Ada juga yang hobi mendaki gunung hingga lupa dengan kuliahnya. Namun setelah saya merumuskan definisi itu sendiri, saya menjadi semakin bingung untuk menjawab apa hobi saya.

Saya senang memancing tapi saya bukan seorang pemacing yang rela menghabiskan uang untuk membeli alat pancing yang mahal. Saya juga senang dunia otomotif terutama motor namun saya juga tidak rela mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak untuk membuat motor saya terlihat bagus, palingan saya hanya rutin untuk mencucinya dua minggu sekali dan ganti oli sebulan sekali.

Tidak pernah melaksanan hobi

Saya tidak pernah melaksanakan hobi saya secara totalitas karena saya bukan tipe orang yang rela mengorbankan waktu, materi, dan tenaga untuk hal-hal seperti itu. Jadi sampai sekarang saya menyimpulkan bahwa saya tidak memiliki hobi.

Pertanyaan terakhir yang bisa membuat saya bingung adalah pertanyaan “Kapan nikah?”. Saya rasa pertanyaan ini juga akan sulit untuk dijawab bagi mereka yang berusia 20 an dan masih jomblo. Bagaimana mau menjawab kapan menikah sedangkan calonnya saja belum ada. Pertanyaan “Kapan nikah?” Pertanyaan ini selain sulit untuk dijawab kadang juga terasa menusuk bagi sebagian orang yang teman-temannya sudah menikah semua.

Singkatnya, sulit dan gampang itu bersifat sangat relatif, tergantung inidvidu itu sendiri. Bisa jadi suatu pertanyaan yang kita anggap sederhana dan mudah untuk dijawab itu malah sulit bagi orang lain. Begitu juga sebaliknya, pertanyaan yang kita anggap rumit bisa jadi sangat mudah bagi orang lain. Disinilah kepekaan kita diuji sebagai makhluk yang punya nurani.

Penulis adalah mahasiswa jurusan Sastra Inggris UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *