Benarkah Kita Telah Merdeka?

CAHAYA FAJAR 75

Oleh: Akhmad Muwafik Saleh*

Patutlah kita bersyukur dengan nikmat dan berkah kemerdekaan atas negeri ini. Kemerdekaan yang diraih oleh bangsa ini tidak lain karena darah para syuhada. Para pejuang bangsa menjadikan pekikan takbir sebagai penyemangat perjuangan mereka yg menandakan bahwa mereka mempertahankan negeri ini dengan mengagungkan dan untuk membesarkan nama Allah.

Bahkan dalam perdebatan selama menyusun dasar negara para ulama terlibat aktif bersama seluruh komponen bangsa untuk membangun bangsa ini di atas semangat ketuhanan. Sehingga wajar jika dasar negara kita diawali dg ketuhanan yang maha esa yg menandakan akan komitmen untuk menegakkan nilai2 tauhid dalam berbangsa dan bernegara. Sebab para pendiri bangsa percaya bahwa sebuah negeri akan jaya dan makmur apabila seluruh anak bangsanya bersedia meneguhkan nilai2 tauhid dalam kehidupan sehingga tercipta sebuah bangsa yang bertaqwa pada Allah swt dan dari sinilah kemudian akan turun keberkahan langit dan buminya. Firman Allah :

(وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Q.S Al-A’raf 96)

Yang dengan demikian kemudian Allah swt akan menjadikan negeri itu negeri yang sejahtera , gemah ripah loh jinawi , penuh ridho dan ampunan Allah swt.

(لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ)

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (Q.S Saba’ 15)

Baldatun thayyibah adalah negeri yang aman makmur sentosa, negeri yang berdaulat, negeri yang mampu mengelola kekayaan negerinya sendiri bebas dari cengkeraman bangsa lain, negeri yang tanah air dan udaranya subur bersih dan makmur, negeri yang mampu menyelaraskan kebaikan alam dan kebaikan perilaku penduduknya, dan negeri yang mampu menjaga dan merawat serta mengembangkan seluruh potensi alamnya dengan baik dan jauh dari exploitasi yang merusak kesinambungan kehidupan

Wa rabbun ghafur : negeri yang penduduknya taat tunduk patuh pada Allah, beriman dan bertaqwa pada Allah, generasinya solih dan solihah shg mendatangkan ampunan Allah. Karena ampunanNya itulah turun keberkahan bumi dan langit pada negeri tersebut

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ﴿١٠﴾ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ﴿١١﴾ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Maka aku pun mengatakan kepada mereka: “Mintalah ampun kepada Rabb kalian, karena sesungguhnya Dia itu Maha Pengampun. (Jika kalian melakukannya) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian, memperbanyak harta dan anak-anak kalian, mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untuk kalian”. (Q.S. Nuh 10-12).

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا

“Allâh telah menjanjikan kepada orang-orang dari kalian yang beriman dan beramal shalih, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dia benar-benar akan meneguhkan mereka dengan agama mereka yang telah Dia ridhai. Dan dia benar-benar akan mengubah keadaan mereka dari takut menjadi aman. (Hal ini dikarenakan) mereka menyembah (beribadah) kepadaKu, dan tidak menyekutuka-nKu dengan suatu apapun”. (Q.S. An-Nûr 24:55.

Para pejuang bangsa dan para pendiri bangsa berjuang untuk memerdekakan diri dari penjajahan kaum kuffar, karena mereka sadar bahwa negeri ini diamanahkan oleh Allah untuk dikelola oleh orang2 soleh (orang yg baik) agar seluruh anak bangsanya bersedia taat pada Allah dan kemudian menjadi jalan keberkahan sebuah negeri

(وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ)

“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.” (Surat Al-Anbiya’ 105)

Sehingga kemerdekaan dipahami oleh para pendiri bangsa adalah untuk secara mandiri berdiri di kaki sendiri dalam mengelola seluruh potensi bangsanya tanpa bayang2 dan tekanan dari bangsa lain sehingga mereka rela bertaruh nyawa berjuang untuk lepas dari segala bentuk penjajahan dari bangsa lain atas negeri ini.

Pertanyaanya : apakah sekarang kita telah benar2 menjaga amanah kemerdekaan itu. Amanah untuk mandiri dan berdaulat dalam pengelolaan negeri ini (baik mandiri dan berdaulat di bidang ekonomi, mandiri dibidang politik, mandiri dibidang teknologi, mandiri dibidang telekomunikasi , mandiri dibidang pangan, mandiri dibidang pendidikan dan budaya ???? Apakah saat ini kita telah benar2 merdeka..??? Apakah negeri kita telah benar2 merdeka dari penjajahan ekonomi bangsa lain? Apakah negeri kita telah benar2 merdeka dari hutang? Apakah negeri kita telah benar merdeka dari intervensi kepentingan politik bangsa lain??? Apakah negeri kita telah benar benar merdeka dalam bidang teknologi dan telekomunikasi ??

Apakah negeri kita telah benar2 merdeka dalam bidang pangan dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat?? Apakah garam diproduksi dan yang dikonsumsi berasal dari negeri kita sendiri, bagaimana dengan beras, daging, kedelai, dsb..???
Apakah benar negeri ini telah benar2 merdeka..??? Kemerdekaan yang sebenarnya adalah apabila kita benar2 berdaulat terbebas dari cengkeraman bangsa lainnya, bebas dari intimidasi dan intervensi bangsa lain, dengan mengoptimalkan seluruh potensi negeri ini dan dikelola oleh bangsa sendiri untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran yang sebesar2nya bagi masyarakat sebagai wujud syukur kepada Allah atas berkah kemerdekaan itu.
Sementara itu, Pribadi yang merdeka adalah pribadi yang tidak takut pada apapun kecuali kepada Allah swt.

Pribadi yang mampu memenangkan peperangan atas dirinya dalam menghadapi musuh besarnya yaitu syetan.
Pribadi Merdeka adalah apabila kita tidak lagi diperbudak keinginan dipuji, dihargai, dihormati dan dibalas budi oleh orang lain.

Kemerdekaan adalah milik orang yang ikhlas. Diri ini akan sengsara bila selalu menginginkan orang lain menilai lebih dari kenyataan, jadilah manusia merdeka yang berani tampil apa adanya. Inilah diri yang merdeka. Diri yang tunduk pada kebaikan dan memenangkan peperangan dg hawa nafsu.

Dikisahkan, sekembalinya dari sebuah pertempuran, Nabi Saw berkata, “Kita baru saja pulang dari jihad (perang) kecil menuju jihad terbesar ” Sambil terperangah, para sahabat bertanya, “Apakah gerangan perang terbesar itu wahai Rasulullah?” Nabi saw menjawab, perang menaklukkan diri sendiri.”(HR Baihaqi dari jabir) HADIST INI DHOIF namun SHOHIH SECARA MAKNA (sohih fil ma’na)…
Nabi Saw bersabda:

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( لا يُؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به )

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga hawa nafsunya tunduk kepada apa yang telah aku sampaikan”. (HR Hasan).

Jihad yang paling utama adalah menaklukkan hawa nafsumu untuk tunduk pada Dzat Allah (HR Ad-Dailami) dan “Orang yang hijrah adalah orang yang mampu meninggalkan keburukan.” (HR Ahmad dan Baihaqi dari Fadhalah ibn `Ubaid).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin ‘Amru ra bahwa Nabi Saw, bersabda, “Seorang muslim adalah seseorang yang menjadikan Kaum Muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangan (perbuatan)nya. Sedangkan Muhajir (otang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah”. (HR. Bukhari, hadits no. 9)

Renungkanlah perkataan imam syafi’iy :

همتي همة الملوك.
ونفسي حر
و أر المذلة الكفر

“Cita2ku adalah cita2 para raja
Dan jiwaku adalah jiwa orang merdeka
Dan saya melihat suatu penghinaan sama dengan kekafiran”
Wallahu a’lam

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *