Iman Harga Mati

CAHAYA FAJAR 79

Oleh: Akhmad Muwafik Saleh

Iman adalah pintu kemuliaan bagi seseorang. Iman pulalah yang membedakan antara dua benteng besar kehidupan dunia akhirat, islam dan kafir. Kalimat persaksian keimanan berupa kalimat syahadat merupakan penjamin keamanan kehidupan di dunia sekaligus kunci pembuka pintu sorga di akhirat. Seorang yang telah mengucapkan kalimat syahadat maka dia telah dinyatakan aman dan terjaga dari kedhaliman saudaranya muslim, terhalang dan haram menumpahkan darahnya, hartanya dan jiwanya. Karena keimanan telah melindungi dirinya. Sebagaimana disampaikan oleh nabi saw :

و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ وَعَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ بِمِثْلِ حَدِيثِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ح و حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ يَعْنِي ابْنَ مَهْدِيٍّ قَالَا جَمِيعًا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَإِذَا قَالُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ ثُمَّ قَرَأَ
{ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ }

“Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dari al-A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir dari Abu Shalih dari Abu Hurairah keduanya berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia’ sebagaimana hadits Ibnu al-Musayyab dari Abu Hurairah. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki’ . (dalam riwayat lain disebutkan)

Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami Abdurrahman -yaitu bin Mahdi- keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu az-Zubair dari Jabir dia berkata, “Rasulullah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah’, maka mereka mengucapkan, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah’, maka sungguh mereka telah menjaga harta dan jiwanya dari (seranganku) kecuali disebabkan hak Islam. Dan hisab mereka diserahkan kepada Allah. Kemudian beliau membaca: ‘(Sesungguhnya kamu (hanyalah) pemberi peringatan. Kamu sekali-kali tidak mempunyai kekuasaan atas mereka)”. (Qs. Al Ghaasyiyah: 21-22). (HR. Muslim)

Demikian pula keimanan dengan ucapan kalimat syahadat ini menjamin seseorang masuk surga. Sebagaimana diriwayatkan dari nabi saw :

رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ آخِرُ قَوْلِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّة

diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa yang akhir ucapannya (di dunia) kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH, niscaya ia akan masuk surga”. (HR. Tirmidzi)

Karenanya Rasulullah saw benar2 menegaskan agar menjaga kehormatan seorang muslim dari kedhaliman muslim lainnya. Hingga Rasullah pernah memarahi usamah bin zaid karena telah membunuh
mirdas bin nuhaik dalam insiden penaklukan benteng khaibar. Kala itu Mirdas (seorang musyrikin) berhasil membunuh banyak kaum muslimin. Dan usamah bin zaid mengejarkan hingga mendapati mirdas dihadapannya dalam posisi terjepit. Dalam kondisi itu mirdas mengucapkan kalimat syahadat. Namun Usamah bin zaid tetap saja membunuhnya karena usamah meragukan keimanannya. Mendengar kabar demikian, Rasulullah marah besar, :”Kenapa tidak kau belah saja hati orang itu sehingga kau tahu apakah hatinya mengucapkan kalimat syahadat atau tidak?” kata Rasulullah kepada Usamah dengan wajah memerah karena marah. Usamah meminta ampunan pun Rasulullah menampiknya

Demikianlah harga keimanan seseorang begitu mulia dan tinggi dalam kehidupan. itulah kalimat persaksian keimanan yang akan menjamin keselamatan hidup seseorang dunia dan akhirat. Sehingga menjadi tidak layak bagi seorang muslim merendahkan kaum muslim lainnya. Dan tentulah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menjaga kehormatan diri muslim lainnya. salah satu cara menjaga kehormatan seorang muslim adalah dengan menjaga aib saudaranya, membantu dan menolong sesama muslim termasuk lebih mengutamakannya dalam kepemimpinan dan pertemanan sebagaimana di anjurkan oleh Allah dalam quran surat almaidah ayat 51.

Kalaupun sekiranya dihadapkan pada sebuah pilihan antara seorang kafir yang baik dan muslim yang tidak baik dalam sebuah pilihan kepemimpinan, maka tentunya tetaplah seorang muslim yang harus kita lebih dahulukan hal itu karena sebab keimanannya. Namun pertanyaannya adalah apakah benar dari sekian juta kaum muslimin di sebuah negeri tidak ada satupun seorang muslim yang baik akhlaqnya, kepribadiannya, amanahnya dan manajerialnya serta kepemimpinannya? Sehingga kita harus memilih ataupun memperbolehkan memilih pemimpin dari kalangan diluar umat islam (kafir).

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *