Lisan Sebagai Benteng Terakhir

CAHAYA FAJAR 82

Oleh: Akhmad Muwafik Saleh

Coba kita perhatikan lebih cermat diri kita. Apa yang sebenarnya dikeluarkan dari tubuh ini, semuanya tidak lain adalah berupa kotoran. Tubuh mengeluarkan keringat, mata mengeluarkan tahi mata, telinga mengeluarkan kotoran, hidung juga demikian yaitu mengeluarkan kotoran (ingus dan upil : jawa). Bahkan qubul (kemaluan) mengeluarkan kencing yang najis dan dubur mengeluarkan kotoran yang juga najis. Jadi semua apa yang dikeluarkan dari tubuh kita adalah kotoran dan sebagiannya bersifat najis.

Jika semuanya telah demikian, maka yang tersisa adalah mulut atau lisan kita. Inilah benteng terakhir diri kita. Apakah juga akan kita keluarkan yang kotor atau sebaliknya. Bagaimana jika yang keluar dari mulut adalah sesuatu yang “kotor” berupa kalimat dan ucapan yang negatif, kebohongan, fitnah, cacian, desas desus, adu domba dan segala hal produksi lisan yang negatif, maka apakah yang tersisa dari diri ini kecuali semuanya adalah kejelekan, keburukan dan kotoran.

Inilah peran lisan untuk menjadikan diri kita lebih bernilai, yaitu menjaganya dengan memproduksi kalimat dan ucapakan kebaikan, berupa kejujuran, ketulusan, dukungan, dsb
Pada lisan inilah letak keselematan diri manusia. Rasulullah bersabda:

سلامة الإنسان في حفض اللسان

“Keselamatan manusia berada pada kemampuannya dalam menjaga lisannya” (alhadist)

Sesungguhnya apa yang keluar dari lisan itu sangat terkait dengan keimanan seseorang. Dengan kata lain ucapan seseorang mencerminkan nilai keimanannya. Sebagaimana dalam sabdanya :
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al -Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Sehingga sepatutnya bagi seorang muslim untuk menjauhkan dari memproduksi dan mengeluarkan ucapan yang buruk semisal ghibah, fitnah, bohong, dusta, kemunafikan dan sebagainya. Karena jika semua ini yang dikeluarkan maka tentu tidak ada lagi kebaikan yang tersisa dan hanya meninggalkan keburukan. Untuk itu benteng terakhir kebaikan diri seorang muslim adalah terletak pada menjaga lisannya.

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *