Pemuda Adalah Sejarah itu Sendiri

wanita generasi

CAHAYA FAJAR 78

Oleh: Akhmad Muwafik Saleh

Sejarah itu adalah masa lalu sekaligus penunjuk jalan masa depan. Di dalam setiap nafas sejarah selalu hadir keterlibatan pemuda dari setiap detik perubahan yang terjadi. Perubahan sosial dalam setiap perjalanan zaman tidak terlepas dari peran pemuda sebagai motor penggerak perubahan itu. Dalam diri pemuda berkumpul nilai-nilai semangat perjuangan, keberanian menyuarakan kebenaran, keteguhan dalam memegang prinsip idealisme, sikap tak kenal lelah dan segala predikat kebaikan lainnya. Dari semangat kebaikan itulah perubahan bermula selalu dari diri seorang pemuda.
Sejarah pernah mencatat jauh sebelum kenabian Rasulullah muhammad, terdapat kisah 5 pemuda beriman yang berani melakukan penolakan atas kedhaliman Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Seorang raja dhalim penyembah berhala dan saat mengetahui ada sekelompok pemuda yang tidak menyembah berhala, sang raja marah lalu memanggilnya dan menekan mereka untuk menyembah berhala. 5 pemuda itu menolaknya dan melarikan diri hingga bersembunyi di dalam gua. Selanjutnya kita mengenal mereka dengan sebutan ashhabul kahfi.

Sejarah mencatat pula pada masa kenabian Muhammad SAW dari sekian banyak assabiqunal awwalun rata-rata mereka adalah dari kalangan muda. Dapatlah kita sebut beberapa nama antara lain Ali bin abi thalib (8 th), zubair bin al awwam (8 th), Talhah bin ubaidillah (11 th), Arqam bin abil arqam (12 th), abdullah bin mas’ud (14 th), saad bin abi waqqas (17 th), saad bin rabiah (17 th), abdullah bin mahzun (17 th), ja’far bin abi thalib (18 th), qudaamah bin mahzun (19th), said bin zaid (20th), zuhaib arrumi (20 th), assaib bin mahzun (20 th), said bin haritsah (20 th), usman bin affan (20 th) , thulaib bin umair (20 th), khabab bin art (20 th), amir bin fahirah (23 th), mus’ab bin umair (24 th), nikdad bin aswab (24 th), abdullah bin jahsy (25 th), umar bin khattab (26 th), abu ubaidah ibnu jarrah (27 th), utbah bin ghazwan (27 th), abu khuzaifah bin utbah (30 th), bilal bin rabah (30 th), ayyasy bin rabiah (30 th), amir bin rabah (30 th), nu’aim bin abdillah (30 th), usman bin mahzun (30 th), abu salamah, abdullah bin abdil as’ad (30 th), abdurrahman bin auf (30 th), ammar bin yasir (30 -40 th), abu bakar asshiddiq (37 th), hamzah bin abdul muthallib (42 th), ubaidah bin harist (50 th).

Dari sekian nama di atas mereka kebanyakan adalah pemuda. Kenapa pemuda yang paling banyak merespon ajakan dakwah nabi. Karena pemuda adalah sosok diri yang relatif bersih dalam menilai kebenaran, memiliki semangat idealisme untuk menegakkan kebenaran dan lantang menyuarakan berbagai tindak kedhaliman. Demikian pula dalam diri pemuda terlepas dari jiwa opportunis dan status qou yang cenderung berada dalam zona nyaman. Pemuda adalah jiwa yang terus bergelora dan bergerak dinamis untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.

Bahkan dalam sejarah tercatat pula kisah sang pemberani penakluk benteng, Muhammad Al Fatih, pemuda belia yang masih berusia 21 tahun yang mampu memecahkan teka teki kemenangan kaum muslimin setelah 750 tahun setelah isyarat Rasulullah yang setiap orang dalam perjalanan generasi mendambakannya. Karena ingin mendapatkan predikat sebagaimana yang disampaikan nabi yaitu sebagai sebaik-baiknya pasukan dan sebaik-baiknya pemimpin. Mimpi sebagai yang terbaik itulah yang menggerakkan energi untuk mempertaruhkan segalanya mewujudkan impian itu. Dan ternyata seorang anak muda yang tak pernah terlewatkan solat fardhu berjamaah sejak baligh, tidak pernah meninggalkan solat nawafil sejak saat itu dan tidak pernah lepas solat malam semenjak usia taklif.

Demikian pulalah dari pasukan yang dipimpinnya. Inilah jiwa pemuda yang lurus hati dan pikirannya terbimbing untuk terus berada dalam kefitrahan. Apa rahasia Muhammad Al Fatih memenangkan dirinya untuk menjadi pemimpin terbaik, yaitu karena semenjak kecil telah dibesarkan dalam lingkungan kefitrahan melalui bimbingan sang murabbi ulama besar zamannya dan terus diceritakan mimpi besar tentang penaklukan yang didambakan semua pejuang dan pahlawan dalam setiap perjalanan sejarah menuju jalan konstantinopel.

Dalam sejarah kebangsaan, para pemuda pernah menggaungkan sumpah bersama atas kesatuan negerinya pada tahun 1928 menuju merdeka.
Bahkan dalam sejarah kemerdekaan, sejarah pemuda mengawal kemerdekaan dan mungkin jika tanpa gerakan sekelompok pemuda yang menculik Soekarno dan Moh Hatta serta beberapa tokoh pada saat itu, mungkin kita tidak pernah merasakan nikmatnya kemerdekaan.
Disinilah jiwa keberanian pemuda terbukti bahwa nilai-nilai keberanian untuk terbebas dari kunkungan penjajahan.

Sikap memberontak adalah ciri yang juga melekat menjadi jati diri pemuda.
Jejak heroik jiwa kepemudaan juga dapat kita lihat dalam lembar sejarah. Jiwa kepedulian dam nasionalisme Bung tomo terusik saat penjajah ingin menguasai kembali dengan mencoba menekan dan menakut nakuti rakyat jawa timur. Belanda ternyata salah, rakyat jawa timur bukanlah berjiwa demikian, karena saat itu pemudanya telah membakar semangatnya dan berpadu dengan ketundukan atas petunjuk ulama pada tanggal 22 oktober berupa seruan resolusi jihad KH Hasyim Asy’ari. Maka keberanian pada saat itu kemudian mencapai puncak klimaksnya untuk mempertaruhkan jiwa raga demi kemerdekaan. Sehingga pekik takbir menjadi pilihan pemuda bung tomo untuk menaikkan adrenalin para pemuda jawa timur dalam mempertahankan kemerdekaannya. Bung Tomo kemudian berucap bahwa sekiranya tidak ada pekik takbir maka dia tidak tahu bagaimana membangkitkan dan mengobarkan semangat pemuda.

Disinilah disaat jiwa keberanian berpadu dengan nilai spiritual yang tinggi berupa seruan jihad maka menghadirkan jiwa kepahlawanan dari para pemuda. Untuk itu, sekiranya tidak ada tanggal 22 oktober maka tentu tidak akan ada tanggal 10 november, hari pahlawan. Dua peristiwa yang melibatkan bukti atas heroik pemuda dalam menolak kedhaliman.
Demikian pula dalam perjalanan sejarah kebangsaan berikutnya pemuda selalu menjadi penentu perubahan sebuah negeri. Kita kemudian mengenal angkatan 66 yang dikenal dengan Trituranya (tiga tuntutan Rakyat) – bubarkan PKI, retool kabinet dwikora, turunkan harga- yang kemudian menjadi tonggak baru pergantian sejarah kekuasaan dari orde lama menuju orde baru.

Demikian pula dengan perubahan dari orde baru menuju orde reformasi yang digerakkan oleh para pemuda pada tahun 1998 dengan mendengungkan kata perubahan atau reformasi. Kesemua gerakan ini dilandasi semangat bahwa pemuda adalah kelompok kritis yang siap sedia selalu menyuarakan kebenaran dan kebaikan bagi masyarakatnya. Idealisme inilah yang menjadikan penuda menjadi kelompok strategis dalam penciptaan sejarah. Semua peristiwa yang menandai perubahan sebuah orde selalu hadir pemuda sehingga dapatlah dikatakan pemuda adalah sejarah itu sendiri. Dalam beragam cuplikan sejarah yang terungkap diatas menunjukkan bahwa pemuda selalu hadir dalam setiap jejak langkah sejarah.

Pemuda adalah berkumpulnya segala potensi kebaikan yang dimiliki oleh kehidupan ini. Berupa kekuatan fisik, kekuatan fikir dan kekuatan tekad. Perpaduan beragam potensi ini mampu menggetarkan negeri menuju sebuah perubahan. Perubahan adalah kata yang mempertemukan para pemuda setiap zaman yang pernah berlalu. Jika setiap penciptaan sejarah maka pemuda adalah pelaku utamanya.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh pemuda jaman now dalam mempersiapkan diri membangun sejarah perubahan ?. Maka beberapa hal yang dapat mereka lakukan adalah :

  1. Banyaklah berinteraksi dengan sejarah masa lalu untuk mendapatkan inspirasi dari semangat yang pernah mereka tampilkan pada masa sebelumnya
  2. Kuatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana masanya. Karena ini adalah masa berkembang pesatnya iptek sehingga penguasaan ilmu dan teknologi menjadi dasar dalam membangun sejarah masa depannya.
  3. Menguatkan ketetampilan dan kemampuan yang dimiliki oleh dirinya dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki atas pengetahuan dan pengenalan dirinya dengan banyak berlatih
  4. Menguatkan moralitas sebagai bingkai dari seluruh keilmuan dan potensi diri yang dimiliki sebagai dasar membangun kehidupan yang beradab.

Keeempat hal ini apabila dilakukan dengan sungguh sungguh dan dipadu dengan proses pendampingan seorang pembimbing atau mentor ilmu, skill dan ruhiyah yang baik tentu akan menghasilkan energi pemuda yang hebat yang nantinya akan mampu mengubah sejarah masa depannya.
Kesimpulannya bahwa disebut pemuda bukanlah hanya karena usia yang muda melainkan karena semangat idealisme yang terus membara dalam menyuarakan kebenaran dan menegakkan nilai-nilai keadilan. Dalam banyak pergulatan sejarah tampak bahwa tak kan mungkin tercipta sejarah tanpa kehadiran pemuda. Sehingga sejatinya bahwa pemuda adalah sejarah itu sendiri.
Wallahu a’lam bisshowab

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *