Dari Aksara ke Pewarisan Peradaban, Refleksi Hari Aksara Internasional 2020

Oleh: Dr. Wadji, M.Pd.

Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang.  Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada.  Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar  bedolah dan batu krisopras. Nama sungai yang kedua ialah Gihon, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush. Nama sungai yang ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai yang keempat ialah Efrat. TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden  untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.  

Kutipan di atas diambil dari kitab Kejadian 2:10-15 terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Nama sungai Tigris dan Efrat secara eksplisit disebutkan di ayat 14. Wilayah di antara dua sungai itu disebut dengan Mesopotamia. Nama Mesopotamia berasal dari kata Yunani mesos “tengah”, “di antara” dan potamos “sungai”. 

Mesopotamia tidak hanya dianggap sebagai latar peristiwa dalam Kitab Kejadian dan kisah para nabi dalam banyak kitab di Perjanjian Lama, namun demikian juga merupakan pusat sejarah peradaban dunia, termasuk sejarah di mana tulisan modern yang saat ini kita kenal, harus diakui, berawal dari sana. 

Sekitar 3000 tahun sebelum Masehi, bangsa Sumeria, salah satu bangsa yang mediami wilayah Mesopotamia, menggunakan cuneiform untuk mencatat peristiwa dan gagasan mereka. Cuneiform berasal dari dua kata Yunani, cuneus “paku”, dan forma “bentuk”. Cuneiform biasanya diterjemahkan sebagai “aksara paku” atau “tulisan paku”. Cuneiform adalah goresan-goresan di atas tanah liat, lalu dikeringkan atau dibakar. Goresan-goresan itu bentuknya menyerupai cakar burung. 

Dari bangsa Sumeria, sebagaimana ditulis Paul Kriwaczek dalam bukunya Babylon: Mesopotamia and the Birth of Civilization (2012), bangsa Elam, Persia, dan penduduk Ugarit, menyederhanakan tanda-tanda tersebut dan mengurangi jumlahnya sehingga menciptakan suatu alfabet pendek dengan setiap karakter hanya mewakili satu bunyi tunggal saja.

Kita semua berhutang budi kepada bangsa Sumeria. Dari penemuan merekalah ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan segala macam unsur peradaban manusia diabadikan. Firman Tuhan dan kisah-kisah religius menyebar ke seluruh pelosok dunia. Agama-agama yang masih ada saat ini adalah hasil seleksi alam yang amat dipengaruhi oleh budaya tulis. Dari sekian banyak agama di dunia, terbukti bahwa yang bisa bertahan adalah agama-agama yang besasal dari latar budaya bangsa-bangsa yang telah mengenal tulisan.

Sebelum ditemukannya tulisan, pewarisan budaya hanya disampaikan dari lisan ke lisan. Firman Tuhan dan ajaran para nabi harus dihafal secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Agama-agama yang tidak memiliki dokumen suci secara tertulis tidak sempat melanglang buana dan memengaruhi peradaban dunia, dan lambat laun dilupakan sejarah.

Sekali pun bangsa-bangsa yang mendiami kepulauan Nusantara tergolong dulunya juga sebagai bangsa yang telah memiliki peradaban yang cukup maju, namun demikian tidak pernah ditemukan bukti bahwa era tulis-menulis di Nusantara lebih tua dari bangsa Sumeria. Prasasti-prasasti yang ditemukan dengan menggunakan aksara Pallawa usianya ribuan tahun lebih muda daripada cuneiform Sumeria. 

Nusantara memasuki era tulisan diperkirakan pada abad ke-5 Masehi. Aksara Pallawa masuk Nusantara bersamaan dengan masuknya agama Hindu. Konon aksara Pallawa pun adalah pengembangan dari sistem aksara yang berkembang di Mesopotamia. 

Di era modern, barangkali Indonesia patut berbangga diri. Indonesia adalah salah satu negara sebagai contoh yang baik dalam pemberantasan buta aksara. Sejumlah negara belajar dari Indonesia dalam menurunkan tingkat buta aksara di negaranya. Tidak ada data yang pasti bahwa negara-negara yang mengenal tulisan lebih dulu memiliki tingkat melek aksara lebih baik dibandingkan dengan negara yang mengenal tulisan belakangan.

 Saat ini tingkat buta aksara di negara kita kurang dari dua persen. Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi Indonesia akan terbebas dari buta aksara. Kemajuan teknologi komunikasi akan memercepat tercapainya gerakan anti buta aksara ini.Di balik kesuksesan pemberantasan buta aksara, saat ini maslah besar yang masih terus dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya minat baca di seluruh lapisan masyarakat, tanpa pandang bulu latar belakang pendidikannya. 

Tahun 2016 yang lalu banyak orang merasa terkejut lantaran ada hasil penelitian yang menyatakan bahwa minat baca kita terendah di dunia. Ini artinya mayoritas masyarakat Indonesia tergolong malas membaca.

Penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity dengan judul Most Littered Nation In the World ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara, satu tingkat di bawah Thailand, dan satu tingkat di atas Bostwana, sekali pun dari sisi infrastruktur pendukung kegiatan membaca, Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. 

Sementara itu Unesco merilis bahwa minat baca masyarakat Indonesia haya 0,001%, yang berarti hanya ada 1 orang dari 1000 penduduk Indonesia yang gemar membaca.

Rendahnya minat baca secara otomatis memiliki korelasi positif terhadap kualitas dan kuantitas produk tulisan. Maraknya plagiarisme di Indonesia barangkali adalah akibat dari rendahnya minat baca tersebut. Yang sangat memalukan justru plagiarisme melanda kalangan intelektual, tidak hanya di tingkat mahasiswa tetapi juga di lingkungan dosen yang bergelar doktor, bahkan yang telah menyandang puncak kepangkatan, yakni guru besar. 

Jual beli skripsi, tesis, disertasi dan karya ilmiah marak terjadi di mana-mana. Ukuran produktif hanya dilihat dari sisi kuantitas, yang jauh dari pertimbangan kualitas. Sejumlah pejabat juga terindikasi melakukan tindakan plagiasi, dan “bangga” memakai ijazah palsunya. Bila kita bangga dengan plagiarisme, maka peradaban macam apa yang bisa kita wariskan untuk dunia ini?

Penulis adalah aktivis kebebasan berekspresi, dosen Fakultas Sastra Universitas Kanjuruhan, dan pengurus Perkumpulan Cendekiawan Bahasa dan Sastra (Cebastra) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *