Festival Tungguk Tembakau Sisihkan 30 Budaya Dunia di Malaysia

IMPERIUMDAILY.COM- SURABAYA – Keputusan berani Aisya Amalia Ramadanti, mengusung tema “Festival Tungguk Tembakau” dalam kompetisi Internasional di Malaysia berbuah manis. Danti sapaan akrab Aisya A Ramadanti ini pun mendulang seteguk rasa bangga. Baik orang tua dan almamaternya, Fakultas ISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Danti raih The Best Presentation di ajang Global Culture Corner 1.0 Multicultural Competencies for Global Leaders Footprints in the Heart Malaysia, pekan lalu.

Duta Unair ini mampu memikat juri, menyisihkan 30 peserta dari berbagai negara pada ajang Internasional di Malaysia. Putri kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Mahmud Suhermono dan Yenny itu pun, kini menjadi trending topik warga Kota Surabaya.

Betapa tidak, di masa pandemi COVID-19, ada prestasi yang diraih oleh anak muda Kota Surabaya di pentas Internasional. Yang membanggakan lagi, Unair ditunjuk sebagai wakil Indonesia di forum dunia yang digelar Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dan perkumpulan universitas di Asia atau Asia Teknological University Network ini.

Bangga dengan Prestasi Anaknya

Ayah Danti, Mahmud Suhermono, tak bisa menutupi rasa bangganya. Dia pun mengunggah siaran pers dari laman website Unair ke Facebook miliknya. “Saya bangga, senang dan sekaligus kaget. Pencapaian anak saya seperti itu tentu saja kaget, lihat pencapaiannya di luar dugaan,” aku news produser JTV ini, kepada Nusadaily.com, Jumat (18/9/2020).

Lanjutnya, alumnus SMAN 22 Surabaya ini diakui suka menulis dan senang bicara di depan audience (banyak orang,red) sejak SMP.

Seperti pepatah buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Pengurus PWI Jawa Timur ini pun dikenal sebagai tokoh yang sudah kenyang makan asam garam bicara di forum resmi. Termasuk istrinya juga seorang ahli Ilmu Komunikasi. Wajar jika anaknya mewarisi kepiawaian bicara di depan forum. “Ya benar, ibunya juga aktif sebagai Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Komunikasi di Unitomo Surabaya,” aku Pemred salah sebuah portal berita ini.

Anaknya, nomor dua ini juga diakui istimewa karena sejak kecil suka baca buku dan menulis. Di masa sekolah juga gemar ikut organisasi dan kegiatan semisal OSIS. “Dia kini memimpin majalah politik di himaprodi Ilmu Politik FISIP Unair,” beber pria yang tinggal di Dukuh Karangan III Nomor 4 Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya ini.

Dia pun bercerita bahwa dari kecil koleksi buku Danti, sangat banyak. “Itu pun karena sejak SD, hampir sebulan sekali saya ajak ke toko buku,” tukasnya lagi.

Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohon

Kemahiran Danti, bicara di forum juga diakui tak lepas dari kegemarannya sejak SMA yang aktif dan bakat tulis menulis di majalah, dan aktif bicara bahasa Inggris. “Seingat saya, dia itu pernah jadi Liaison Officer saat Kota Surabaya punya gawe UN Habitat yang diikuti 150 negara, tahun 2016. Dia mengawal delegasi dari Pakistan,” imbuh Mahmud.

Kini, Universitas Airlangga yang berarti “air yang melompat” ini memunculkan jagoan dan kesatria baru. Aisyah Amalia Ramadanti dan rekannya satu tim, berhasil meraih Best Group Presentation, yang digelar internasional UTM dan ATU-NET.

Ajang tersebut diikuti 30 peserta dari tujuh negara termasuk Universitas Airlangga (Unair) mewakili Indonesia. Kepada awak media, Danti, sapaan akabnya, bercerita bahwa timnya mengambil topik Cultural festivities and Celebrations, karena teringat kekayaan kultur Jawa.

Para peserta diwajibkan menyajikan materi mengenai festival panen di negara masing-masing. Festival Tungguk Tembakau dipilihnya dan mengantarkannya mendapat kesempatan menyampaikan pidato.

“Alhamdulillah, aku dapat award Best Group Presentation, dan dikasih kesempatan buat mewakili Unair untuk menyampaikan speech dalam acara ini,” tutur mahasiswa Ilmu Politik tersebut, dikutip dari siaran pers Unair, Kamis, 17 September 2020.

Persiapan Materi Hanya Semalam

Yang mengejutkan kata Danti, persiapan materi dilakukan semalam, ditambah meriset sejarah, kultur, berlangsungnya festival, dan adat-adat tradisional yang masih dipertahankan.

“Dari riset untuk menyajikan materi ini, Aku jadi banyak belajar tentang kultur kebudayaan di negaraku sendiri. Aku sangat beruntung tinggal di Indonesia yang kekayaan budayanya sangat banyak dan beragam, salah satu aset yang harus dipertahankan selamanya,” tambah mahasiswa angkatan 2017 ini.

Danti belajar banyak hal dari kompetisi kali ini, antara lain cara mencari materi dari berbagai sumber yang kemudian dirangkum menjadi satu.

Kemudian cara berkomunikasi kepada orang dari negara lain harus baik dan benar. “Juga dituntut cermat dalam tata cara presentasi, menyampaikan penjelasan secara tepat, serta bagaimana manajemen waktu dalam kehidupan sehari-hari,” ujar mahasiswi semester 7 ini.

Sekadar diketahui, setiap mengawali panen raya, petani di Desa Senden, Kecamatan Selo, Boyolali, menggelar Festival Tungguk Tembakau. Sebuah tradisi wiwit atau mengawali panen raya tembakau. Tradisi ini dilakukan setiap menjelang panen. Tungguk tembakau adalah tradisi warga lereng Merbabu saat memulai panen tembakau.

Diawali kirab budaya membawa hasil bumi, gunungan tembakau, hasil bumi, gunungan nasi kuning dan lauk pauknya, ke makam Gunungsari di puncak bukit di lereng Gunung Merbabu. Lalu dibawa turun lagi ke lapangan desa. (ima)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *