Penambahan Umur, Pengurangan Masa Bakti

CAHAYA FAJAR 88

Oleh: Akhmad Muwafik Saleh

Sesungguhnya umur kita berbatas waktu. Allah menetapkan titik awal perjalanan waktu kita bukanlah semenjak kelahiran melainkan sejak ditiupkannya ruh pada jasad yaitu saat berusia 125 hari di dalam rahim ibu kita, pada saat itulah Sang Pencipta mengambil perjanjian dengan diri kita tengtang bagaimana kita menjalani kehidupan dunia, sebagaimana dalam FirmaNya:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS.Al-A’raf: 172).

Pada saat itulah diri kita mempersaksikan dengan segala konsekwensinya atas Tuhan Pencipta dan konsekwensi keyakinan serta sikap perilaku dalam kehidupan. Sementara kelahiran adalah awal memulai kreatifitas tindakan dalam masa bakti di dunia dengan batas akhir yaitu kematian kita. Pada saat itulah perhitungan mundur umur dimulai, sehingga penambahan umur kita detik demi detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun bukanlah penambahan jumlah usia kita namun perjalanan mundur menuju batas akhir dari umur yang ditetapkan untuk diri kita dalam menjalankan bakti kemanusian dan pengabdian ketuhanan selama hidup di dunia ini.

Dalam perjalanan waktu tersebut, memang secara fisik mungkin umur bertambah namun kesempatan waktu untuk membangun kebaikan semakin berkurang karena diri kita semakin dekat dengan batas akhir waktu produktifitas kita di dunia.

Umur kita bergerak mundur dalam perjalanan masa bakti kehidupan walaupun dari sisi kuantitatif terlihat seakan terus bertambah. Disinilah perbedaan antara umur duniawi yang kuantitatif dengan umur spiritual yang bersifat kualitatif. Untuk itu isilah waktu demi waktu dari umur kita untuk

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *