Demo Penolakan Omnibus Law Rusuh, Ini Kata Ketua DPRD Kota Malang

IMPERIUMDAILY.COM – MALANG – Aksi penolakan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja sempat ricuh, Kamis (8/10). Beberapa kendaraan dinas rusak dan sejumlah fasilitas umum di sekitar Balai Kota Malang dan Gedung DPRD rusak.

Menanggapi aksi tersebut, Ketua DPRD Kota Malang, I Made Riandiana Kartika mengungkapkan, aksi yang dilakukan para demonstran berbeda dari biasanya. Bahkan, ia menilai aksi tersebut kemungkinan ditunggangi oleh demonstran gelap. Sebab, hal tersebuttidak lazim dilakukan oleh mahasiswa dan serikat buruh.

“Aparat yang berjaga tadi pun kaget. Karena teman-teman mahasiswa belum orasi, tapi tiba-tiba sudah ada lemparan batu. Itu ada flare masuk ke sini (di depan meja resepsionis),” terang dia dilansir Nusadaily.com.

Politisi PDIP tersebut mengungkapkan, aksi ricuh tersebut belum pernah terjadi dalam sejarah orasi di Kota Malang. Selama ini, peserta aksi akan menyampaikan aspirasi dengan setiap tuntutannya. Selain itu, tidak pernah ada pendemo yang membawa flare hingga bebatuan untuk merusak fasilitas umum di Gedung DPRD Kota Malang dan sekitarnya.

“Bagaimana ada aksi membawa flare sampai batu besar, itu seperti sudah direncanakan,” kata dia.

Made menjelaskan, sejumlah kerusakan yang terjadi di gedung DPRD Kota Malang diantaranya seperti kaca, papan nama DPRD Kota Malang, pos penjagaan Satpol PP di Gedung DPRD Kota Malang, hingga lampu taman.

“Untuk jumlah kerugian mungkin sampai puluhan atau ratusan juta, tapi belum kami hitung,” kata dia.

Lantaran situasi yang semakin tidak kondusif, Made meminta seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan anggota DPRD lainnya untuk pulang. Bahkan, pameran batik yang diselenggarakan di dalam gedung terpaksa harus dibubarkan. 

“Anggota saya sudah saya minta untuk pulang. Pameran yang seharusnya sampai hari Minggu (11/10) harus berakhir hari ini,” papar dia.

Pada kesempatan tersebut, ia meminta agar perwakilan organisasi mahasiswa datang langsung menyampaikan aspirasi ke gedung DPRD Kota Malang. 

“Kami sarankan kepada organisasi mahasiswa kampus untuk tidak membuat seruan di medsos. Karena massa jadi nggak jelas. Silahkan sampaikan aspirasi kepada kami,” papar dia. (nda/wan)

Padahal, lanjut dia, tuntutan yang diserukan pasti akan didengarkan dan disampaikan. Jika memang sesuai ketentuan dan tugas dewan, menurutnya setiap aspirasi pasti akan ditampung.

Made juga menguraikan, ada sejumlah agenda dewan terpaksa diundur lantaran aksi yang berujung panas tersebut. Diantaranya seperti rapat pansus jasa usaha dengan Provinsi Jawa Timur yang seharusnya dilakukan hari ini. Selain itu, beberapa agenda yang dilaksanakan pada Jumat (9/10/2020) juga ditunda.

“Besok agendanya rapat paripurna penyampaian pendapat akhir fraksi dan pengesahan KUAPPAS APBD murni 2021. Senin ada rapat pansus kemungkinan juga ditunda, tapi dilihat kondisi dulu. Karena banyak tadi plat merah yang dirusak,” pungkas dia.

Sebelumnya, ribuan mahasiswa dan buruh Malang Raya yang tergabung dalam Aliansi Malang Melawan berkumpul untuk melakukan orasi menolak Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja. berdasarkan pantauan NusaDaily.com, para demonstran terlihat membawa bendera dan spanduk berupa tulisan penolakan.

Aksi massa tersebut sempat ricuh. Mulai dari aksi pelemparan petasan dan batu ke Gedung DPRD dan Balai Kota Malang. Serta, pembakaran kendaraan Pamwal Satpol PP Kota Malang dan sepeda motor dinas milik Polresta Malang Kota. Bahkan, sejumlah kendaraan lainnya juga mengalami kerusakan pecah kaca.(nda/wan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *