Ketika Unsur Alpa Mengemuka Jadi Penyebab Bara di Markas Besar Jaksa

IMPERIUMDAILY.COM – JAKARTA – Suatu petang 2 bulan lalu, api tiba-tiba membara menghanguskan gedung berlantai 6 di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan. Keesokan harinya kemegahan markas besar jaksa telah berubah menjadi jelaga.

Ragam dugaan bermunculan. Terlebih api muncul pada akhir pekan saat tidak ada aktivitas perkantoran di gedung itu. Di sisi lain Kejagung pun tengah dapat sorotan karena salah satu jaksanya yaitu Pinangki Sirna Malasari terbelit perkara suap dari Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra.

Namun Korps Adhyaksa menjawab diplomatis atas segala dugaan di balik kebakaran itu.  Memang, katanya api tiba-tiba muncul pada Sabtu, 22 Agustus 2020 hingga benar-benar berhasil dijinakkan keesokan harinya. Bangunan yang terbakar merupakan gedung utama Kejaksaan Agung (Kejagung) di mana kantor Jaksa Agung berada di dalamnya.

“Penyebab kebakaran ini sampai dengan saat ini masih dalam proses penyelidikan Polri,” ujar Hari Setiyono sebagai Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung pada Minggu, 23 Agustus 2020 atau sehari setelah api pertama kali muncul.

Polisi pun bergerak. Olah tempat kejadian perkara dilakukan hingga tim Pusat Laboratorium Forensik atau Puslabfor diterjunkan.

“Tim mengambil sampel abu arang dari dalam gedung, dan dibawa ke Puslabfor untuk diteliti. Selain itu, tim juga sedang mendalami arah penjalaran api,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono dalam keterangan tertulis, Selasa, 25 Agustus 2020.

BACA JUGA: Pekerja di Jakarta Cuti Lebih Awal untuk Pulang Kampung

Selain itu polisi juga berupaya mengambil CCTV dari sejumlah sudut yang ada di Kejagung. Harapannya awal mula api muncul terekam dalam CCTV itu.

“Tim mengambil CCTV di beberapa lokasi, tentunya untuk dianalisa terkait dengan asal mula kobaran api, karena memang itu yang bisa memberikan petunjuk lebih fokus untuk didalami sebagai awal mula api menyala,” kata Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono.

Ratusan Saksi Diperiksa

Polri terus gencar melakukan serangkaian pemeriksaan saksi-saksi untuk mengungkap penyebab kebakaran. Mereka yang diperiksa sebagai saksi mulai dari cleaning service sampai petinggi di tubuh Korps Adhyaksa.

“Untuk update kebakaran, jadi hari ini kami dapatkan informasi terkait dengan saksi yang dilakukan pemeriksaan ada 105. Untuk datanya antara lain OB ada 54 orang, kemudian cleaning service 20 orang, kemudian keamanan dalam Kejagung ada 10 orang, PJU (pejabat utama) atau PNS ada 5 orang, kemudian tukang 7 orang, swasta 7 orang dan teknisi ada 2 orang total 105 dilakukan pemeriksaan sebagai saksi,” ujar Awi di Mabes Polri.

Sumber Api Bukan dari Arus Pendek

Selain itu Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo menyebut sumber api diduga berasal dari open flame atau nyala api terbuka dari lantai enam. Hal itu disampaikan Sigit saat konferensi pers gelar perkara awal pengusutan kebakaran Kejagung.

BACA JUGA: Pemprov DKI Semarakkan Wisata Virtual saat Libur Panjang Akhir Oktober

“Asal api diduga dari lantai 6 ruang rapat biro kepegawaian lalu menjalar ke ruangan serta lantai lain. Puslabfor menyimpulkan bahwa sumber api tersebut bukan karena hubungan arus pendek, namun diduga karena open flame atau nyala api terbuka,” kata Sigit di Mabes Polri, Jakarta, Kamis, 17 September 2020.

Sigit mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan, juga didapati ada sejumlah tukang yang berada di lantai 6, tepatnya di ruang Biro Kepegawaian. Tukang tersebut tengah melakukan renovasi di lantai tersebut.

“Pada saat kejadian dari mulai pukul 11.30 sampai 17.30 kita dapati juga ada beberapa tukang dan orang-orang yang berada di lantai 6 ruang biro kepegawaian, yang saat itu sedang melaksanakan kegiatan renovasi. Sehingga itu yang kemudian salah satu yang kami dalami,” ungkapnya.

Selain itu, berdasarkan hasil pemeriksaan, Sigit mengatakan ada saksi yang mengetahui kebakaran tersebut. Bahkan, saksi tersebut juga berusaha memadamkan kebakaran yang muncul pertama kali tapi gagal.

Santer Kabar Cleaning Service Tajir

Dalam prosesnya ada kabar lain di balik kebakaran Kejagung. Adalah Anggota Komisi III DPR Arteria Dahlan saat rapat dengar pendapat dengan Jaksa Agung ST Burhanuddin menanyakan perihal adanya salah satu saksi kebakaran yakni seorang cleaning service Kejagung memiliki saldo ratusan juta dalam rekeningnya. Bahkan kabarnya, cleaning service tersebut mampu mengakses sampai ke lantai 6 tempat sumber api berasal.

“Saya ingin sampaikan begini Pak Jaksa Agung, ada anak cleaning service yang diperiksa, banyak. Saya ingin sampaikan apakah mungkin, tolong nanti Bapak hati-hati, ada tidak manipulasi keterangan? Jaksa Agung harus curiga. Ada satu cleaning service, dia orang kerja di lantai bawah, di lantai dasar, kok bisa punya akses ke lantai 6, yang ditengarai dia itu tidak hanya cleaning service, bisa berbuat sesuatu,” ujar Arteria, Kamis, 24 September 2020.

Sementara Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin menegaskan pihaknya akan mengusut tuntas dalang di balik kebakaran gedung utama Kejagung, termasuk mengusut soal rekening cleaning service yang dipertanyakan Arteria.

“Dan bagi saya, kemarin disampaikan oleh Kabareskrim saya memang bersyukur, (tersangka) harus ditemukan. Saya minta harus ada. Kalau memang ada itu kesengajaan atau kelalaian, saya mengharapkan adanya tersangka untuk itu. Dan siapa tersangka ini, untuk kita dalami sampai sejauh mana tanggung jawabnya. Sejauh mana perbuatan itu dilakukan,” ujar Burhanuddin.

“Bahkan informasi adanya rekening-rekening, rekening ini juga, mohon izin, ini sudah didalami oleh penyidik Kabareskrim, tentang adanya rekening katanya Rp 100 juta yang tidak sesuai dengan pendapatannya,” ungkapnya.

Belakangan urusan rekening milik cleaning service bernama Joko Prihatin itu disebut tidak berkaitan dengan peristiwa kebakaran. Lantas apa?

“Cleaning service Joko sudah diperiksa. Terkait adanya sejumlah uang di rekening, penyidik belum menemukan adanya transaksi yang mencurigakan,” kata Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Brigjen Ferdy Sambo kepada detikcom, Kamis, 22 Oktober 2020.

Polisi memeriksa aliran uang di rekening Joko. Menurut Ferdy, uang dalam rekening tersebut akumulasi transaksi dari beberapa tahun lalu.

“Karena jumlah yang ada, akumulasi dari tahun 2018 transaksi rekening yang bersangkutan,” ungkap Ferdy.

Tak Ada Unsur Sengaja

Waktu berlalu hingga akhirnya Polri dan Kejagung menggelar ekspose untuk menentukan penyebab dan tersangka kebakaran. Hasilnya, tidak ada unsur kesengajaan dalam hal ini.

“Tidak ada, tidak ada unsur kesengajaan,” kata Jaksa Agung Muda bidang Pidana Umum (Jampidum) Kejagung, Fadil Zumhana di kantornya, Jalan Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu, 21 Oktober 2020.

Fadil tidak memerinci substansi ekspose tersebut. Namun ia menyebut bahwa dalam ekspose itu, sudah ada surat usulan penetapan tersangka.

“Dari gelar perkara tadi, sebenarnya substansinya saya tidak boleh memberi tahu, karena nanti akan diteliti oleh jaksa peneliti. Tapi, tadi ada surat saja usulan penetapan tersangka,” kata Fadil.

Tersangka Segera Diumumkan

Meski unsur kesengajaan disebut tidak ada, tim penyidik Bareskrim Polri tetap menyusun konstruksi perkara untuk menetapkan tersangka. Siapa tersangkanya?

“Penetapan tersangka nanti dilakukan gelar perkara sendiri di internal yang direncanakan pada Jumat, 23 Oktober 2020 pagi. Kita sama-sama nunggu hasilnya,” kata Awi Setiyono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu, 21 Oktober 2020.

 Polri Yakin Karena Alpa

Akhirnya, Polri memberi perkembangan terbaru mengenai kasus kebakaran Gedung Kejaksaan Agung. Kasus kebakaran Kejagung ini merupakan kealpaan alias tidak disengaja, namun kelalaian.

“Tadi jam 10.00 dari kepolisian, penyidik melakukan gelar perkara untuk menentukan tersangka dari kebakaran Kejaksaan Agung ini,” ungkap Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Argo Yuwono dalam konferensi pers di kantornya, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Pusat, Jumat, 23 Okrober 2020.

“Biar jelas, biar masyarakat tahu seperti apa. Apakah itu suatu kealpaan ataukah ada pembakaran,” lanjutnya.

Dari hasil penyelidikan, diketahui kebakaran Kejagung yang terjadi pada Sabtu, 22 Agustus 2020 lalu itu dikarenakan kealpaan. Titik api muncul dari lantai 6 gedung utama Kejagung yang berada di Jl. Sultan Hasanuddin Dalam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu.

“Setelah tadi gelar perkara itu, saya ikut, ternyata kasus ini suatu kealpaan. Dari ahli dan saksi sudah menyatakan bahwa dimulai dari lantai 6 titik apinya,” tutur Argo.

Polisi telah memintai keterangan sebanyak 131 orang terkait kasus kebakaran Kejagung. Sebanyak 64 di antaranya adalah saksi. Dalam kasus kebakaran Kejagung ini, polisi menetapkan ada 8 orang tersangka.

“Semua sudah kita lakukan secara ilmiah dan bisa membuktikan daripada itu. Kita menetapkan 8 tersangka karena kealpaannya,” sebut Argo.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 188 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. Mereka terancam hukuman 5 tahun penjara. (A.Hanan Jalil)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *