Minta Balas Budi Hingga Dijanjikan Bakal Dinikahi, Oknum PNS di Blitar Gagahi Anak Angkat

korban oknum pns

IMPERIUMDAILY.COM – BLITAR – AG (57), oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) dilingkup Pemkab Blitar warga Kelurahan/ Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar mengaku menyetubuhi anak angkatnya hingga hamil lantaran dalam kondisi mabuk. Sedangkan korban sendiri, LA (16) saat ini masih berusia 16 tahun dan duduk dibangku SMA. Tak hanya itu, korban yang diketahui sudah hamil empat bulan harus melakukan aborsi.

BACA JUGA: Fuso Masuk Jurang di Blitar, Satu Korban Luka Berat

Pelaku dan korban diketahui tidak tinggal serumah. Namun jarak rumah keduanya tidak jauh. Sehingga pelaku mengaku sudah biasa pulang kerja mampir kerumah korban. “Habis pulang kerja, saya biasa mampir. Istirahat, dan biasanya dibuatkan kopi,” kata AG kepada Nusadaily.com, Kamis 8 Oktober 2020.

Kejadian persetubuhan yang dilakukan pada 27 Juni 2020 sore itu dilakukan pelaku saat keadaan mabuk. AG mengaku baru mengkonsumsi minuman keras di pinggir jalan ketika pulang dari kantor.

“Minuman saya berada dibotol air mineral. Jadi orang lain tidak mengira kalau itu minuman keras. Saya bekerja di Dishub dibagian administrasi,” jelasnya.

“Saya menyesal. Ketika saya melakukan itu dalam keadaan mabuk. Jadi namanya orang mabuk ya gak sadar. Ngomong macam-macam juga gak sadar. Satu kali saya melakukan itu,” ceritanya.

Pelaku yang tinggal bersama istrinya itu memiliki lima orang anak. Ia mengaku telah membiayai sekolah korban sejak kelas 1 SMP.

Sementara itu, Kapolres Blitar, AKBP Ahmad Fanani Eko Prasetya mengatakan, pencabulan dilakukan dirumah korban saat pelaku mampir istirahat pulang kerja. Kemudian, dalam kondisi mabuk dan melihat korban yang saat itu bermain hp, nafsu korban naik. Pelaku langsung mendatangi korban dikamarnya dan memeluknya.

BACA JUGA: Bejat! Pelaku Penculikan Anak, Setubuhi Korban Hingga 14 Kali

“Setelah memeluk korban, pelaku ngomong ngapain bermain hp, dan mengajak saling berpelukan. Saat itu pelaku bilang kepada korban sudah membiayai sekolah, dan minta gantinya. Pelaku yang juga membujuk rayu akan menikahi korban, akhirnya terjadilah persetubuhan itu,” jelasnya.

Kejadian ini terungkap setelah kakak korban melaporkan kekantor polisi. Akibat kejadian ini, pelaku dijerat pasal 82 Undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Ancaman hukuman pidana penjara paling singkat lima tahun, dan paling lama 15 tahun, serta denda paling banyak Rp 5 miliar.

“Terkait aborsi yang dilakukan, kini petugas mendalami kasusnya. Sebab, informasi yang didapatkannya, aborsi dibantu oleh seorang diduga pegawai di puskesmas dam berstatus PNS,” imbuhnya.(tan/hen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *