Tak Tahan Lihat Adik Tidur, Awal Kisah Pembuang Bayi Laki-laki di Sumenep

IMPERIUMDAILY.COM – SUMENEP – Kisah AD (25) dan YF (16) orang tua bayi laki-laki yang dibuang di belakang Puskemas Gapura, Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur berawal dari sang kakak yang tak tahan melihat kebiasaan tidur sang adik.

Menurut penuturan warga setempat berinisial YNT (30), tersangka AD mengaku sering melihat adik pelaku tidur tanpa pakaian dalam.

“Posisi pelaku saat itu juga sedang menduda, tapi sedang tunangan dan sebentar lagi akan menikah,” ungkapnya.

BACA JUGA: Pembuang Bayi Laki-laki di Sumenep Terungkap, Ternyata Hasil Hubungan Haram

Kebiasaan tidur tanpa celana dalam adik seibu beda ayah tersebut membuat tersangka AD tidak bisa menahan nafsu birahinya. Sebab, tersangka setiap malam melihat sang adik tidur dengan memakai sarung yang tersingkap.

“Karena sudah tidak kuat melihat kemolekan tubuh adik kandungnya itu, AD melancarkan nafsu bejatnya,” terangnya.

Dibujuk Tak Akan Hamil

Saat diinterogasi, YF menuturkan, dirinya selalu digoda oleh kakaknya AD untuk diajak berhubungan badan. Awalnya YF selalu menolak ajakan sang kakak dengan bermacam alasan, salah satunya YF takut hamil.

Karena tersangka AD gigih terus menerus membujuk YF untuk berhubungan intim dan terus meyakinkan YF tidak akan hamil, akhirnya keduanya terbawa dalam kuasa nafsu dan mereka melakukan hubungan layaknya suami istri.

“AD berjanji pakai kondom supaya tidak hamil,” tutur YNT.

Selain itu, lanjut YNT, YF juga mengaku dirinya dengan kakaknya tersebut sudah dua kali melakukan hubungan terlarang tersebut.

BACA JUGA: Pembuang Bayi Laki-laki Sumenep Ngaku Malu Jadi Aib Keluarga

“Ngakunya hanya dua kali, tapi yang jelas kalau sampai hami pasti lebih dari dua kali,” jelasnya.

Lebih lanjut, YF juga mengaku, bahwa untuk mengelabuhi warga karena perubahan tubuhnya, ia sehari-harinya selalu menggunakan baju Syar’i.

“Kami tidak menyangka, bahkan awalnya kami mengira yang menghamilinya itu pacarnya sendiri,” tambahnya.

Sementara, dalam press release Kapolres Sumenep AKBP Darman yang digelar Rabu 21 Oktober 2020 lalu mengungkapkan, modus pembuangan bayi tersebut berawal dari AD melakukan hubungan badan dengan YF sejak Januari 2020 lalu sehingga korban hamil.

“AD tidak mengetahui saat YF hamil, sehingga pada hari Jumat 18 September lalu korban melahirkan tanpa di bantu dan sepengetahuan siapapun di kamarnya,” bebernya kepada sejumlah media.

Kemudian, YF berteriak minta tolong dan memanggil nama AD, selanjutnya tersangka AD mendatangi YF. Karena melihat YF sudah melahirkan, AD mengambil pisau untuk memotong tali pusar bayi tersebut.

“Selanjutnya bayi tersebut dimasukkan kedalam kardus air mineral dengan dialasi kain sarung diselimuti baju batik warna merah seragam SD dan dibuang tepat di bawah tembok pembatas Puskesmas Gapura di Desa Gapura Barat,” tambah Darman.

Adapun motif tersangka membuang anak kandungnya sendiri itu karena malu dan takut atas kelahiran bayi hasil hubungan dengan adiknya itu.

“Tersangka dikenakan pasal 305 KUHP Pidana,” tutupnya. (nam/lna)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *