Udan-Angin “Koyok Lamporan”: Sejarah Hujan-Angin dari Perspektif Historis Eko-Kultura

Oleh: M. Dwi Cahyono*

Tik tik tik bunyi hujan di atas genting

Airnya turun tidak terkira

Cobalah tengok dahan dan ranting

Pohon dan kebun basah semua

(Syair lagu “Tik Tik Tik Bunyi Hujan”)

A. Sebutan dan Gambaran Hujan pada Sumber Data Masa Lalu

Udan-angin, fenomena alam yang bulan-bulan ini terjadi. Dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan. Hujan disebut dengan istilah “hudan”, variannya adalah “udan” — seperti di dalam bahasa Jawa Baru. Istilah krami-nya adalah “jawah”. Istilah “Hudan” beserta kata-kata jadiannya disebut di dalam banyak sasatra kuna. Mulai dari Kakawin Ramayana (20.47) yang ditulis abad IX Masehi hingga dalam susastra-susastra Masa Majahit (XIIV-XVI Masehi). Istilah arkhais (kuno) ini tak hanya dipergunakan untuk menyebut hujan air. Namun juga untuk hujan abu (hudan awu) pada peristiwa vulkanik. Sebagaimana dinyatakan di dalam Kakawin Smaradhahana (3.23). Ada pula hujan pasir dan hujan batu pada peristiwa vulkanik. Jika air yang mengucur bagai hujan itu adalah air mata, yang diistilahi dengan “udan tangis”. Ada itu adalah gambaran mengenai kesedihan.

Hujan air berkait erat mega maupun mendung (megha mendung), yang di dalamnya menyimpan (kondensasi) titik-titik air. Yang jika tertiup angin bakal turun sebagai air hujan. Kaitannya yang demikian didapati gambarannya di dalam Kakawin Sumanasantaka (153.6). Disamping itu acapkali hujan disertai dengan guntur, yang dalam bahasa Jawa Tengahan disebut dengan “gledeg” (di dalam bahasa Jawa Baru “gludug atau guruh”), seperti tersebut dalam Nawaruci (54). Seringkali pula hujan disertai dengan petir atau halilintar, yang dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengahan dinamai “gelap (glap)” — bahasa Jawa Baru “blekek, kilat, thathig”. Istilah “gelap” dan “gledeg” disebut di dalam banyak susastra kuna. Pada penghuung musim penghujan ada kecenderungan frekuensi guruh dan petir lebih tinggi dari sebelumnya. Sehingga terdapat sebutan “bledeke titir”. Bisa saja terjadi, meski guruh telah berkali-kali terjadi. Toh hujan tidak juga turun. Seperti pepatah untuk orang yang terlalu banyak bicara tapi minim kerja “kakean gludug gak onok udane”.

Hujan tak tiba-tiba turun deras, namun diawali dengan tetes-tetes air dari angin. Dalam bahasa Jawa Baru disebut “tletik” Selanjutnya air yang turun makin bertambah banyak. Dalam bahasa Jawa Baru diistilahi dengan “grimis” — dalam bahasa Jawa Tengahan dinamai “garigis”. Ini seperti disebutkan di dalam Kakawin Kresnyana (14.9) maupun Kidung Sri Tanjung (3.45).

Sebutan untuk Hujan

Bisa jadi hujan gerimis itu tak sampai besar, hanya gerimis sebentar, lantas kembali reda. Namun bisa juga air turun semakin deras, yang dalam bahasa Jawa Baru disebut “deres”. Dalam bahasa Jawa Kuna diistilahi “dres” atau “nadres”. Bisa juga terjadi, hujan gerimis atau lumayan deras, namun matahari bersinar cukup terik. Hujan yang demikian dalam istilah Jawa Batu dinamai “udan jelak”. Terkadang hujan turun dengan amat deras, kemudian secara berangsur berkurang kederasannya. Namun, bisa juga terjadi hujan yang turun tak segera terang (reda) dalam waktu lama. Istilah Jawa Baru untuk menyebut adalah “udane nrecih”.

Tak banyak suasana hujan yang digambarkan dalam sumber data visual berupa relief candi. Sejauh diketahui, gambaran mengenai hujan, bahkan hujan deras, didapati dalam relief cerita “Parthayajna” di sisi utara teras II Candi Jajagu (Jago). Digambarkan bahwa ketika dalam perjalanan menuju Gunung Indrakila untuk bertapa, jelang memasuki areal hutan. Mendadak Partha (nama muda Arjuna) dan sepasang punakawannya diserang hujan amat deras. Pada relief ini, hujan digambarkan berupa garis-garis sejajar dari atas ke bawah dalam posisi miring bahkan berlenggak-lenggok — bukan garis tegak lurus. Untuk memberi ilustrasi bahwa hujan turun itu disertai dengan angin yang kencang. Partha melindungi diri dengan payung daun pisang. Sedangkan kedua punakawannya yang tak berpayung basah kuyup (teles kebes).

Yang menarik untuk dicermati adalah pahatan di bagian atas, yang menggambarkan tentang mitos muasal hujan. Pada permukaan mega dipahatkan dua orang makhluk yang berfigur demonis. Keduanya bertarung. Masing-masing bersenjata benda silindris kecil sedepa ukurannya. Di antara keduanya dipahatkan garis zig- zag untuk menggambarkan petir, yang seolah menbelah langit. Dua makhluk demonis yang bertarung itu mengingatkan kita kepada tradisi di Nusantara. Yaitu “hujung atau tiban”, sebagai sarana religius-magis guna menurunkan hujan. Petir diilustrasikan sebagai bunyi dari cemeti (pecut, cambuk) atau sebatang tongkat rotan yang membelah kulit tubuh. Mengakibatkan darah menetes darah. Demikianlah gambaran simbolik tentang “magi imitatif”, bahwa hujan turun lantaran langit yang terbelah oleh kilatan petir. Kemudian darah menetes karena kulit robek terkena cemeti atau tongkat rotan.

B. Gambaran Eko-Kultura Lama Tentang Hujan-Angin

Hujan deras (udan deres) acap disertai dengan angin. Bahkan angin yang kencang hingga amat kencang yang destruktif. Yaitu membuat pohon tumbang dan benda-benda berterbangan. Fenomena demikian di dalam bahasa Jawa Baru diistilah dengan “udan-angin” atau “udan-barat”. Dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengahan, angin diistilahi dengan “angin” atau “hangin”. Istilah ini banyak disebut dalam sumber data tertulis masa lampau semenjak abad IX Masehi hingga masa Majapahit.

Ada angin yang bertiup pelan atau sepoi-sepoi hingga angin kencang. Kata ulang “angin-angin” atau “hangin-angin” menunjuk kepada hembusan angin yang deras, aliran angin, hembusan, arus angin (disebabkan oleh gerakan yang cepat, gerakan sayap, nafas, dll.) (Zoetmulder, 1995:50).

Selain itu, ada istilah yang juga berarti angin, yaitu “bayu atau wayu”, yang secara harafiah berarti : (1) angin atau hawa, (2) angin, dewa angin, (3) berbagai macam angin atau nafas hidup yang penting di tubuh (Zoertmulder, 1995: 117). Istilah “bayu” atau “wayu” bisa dipadu dengan kata- kata lain, seperti “bayu-bajra, bayu-bajrasudrsa, bayu- bhaksa, bayu-bhara, bayu-hara, bayu-masatma, bayu-mtra, dsb.”.

Dalam bahasa Sanskreta terdapat istilah untuk angin ribut, yaitu “marut” atau “maruta”, yang berarti (a) angin — khususnya angin ribut, (b) dewa angin (Zietmulder, 1995:657). Secara lebih khusus, angin kencang yang distruktif, diistilahi dengan “bayu-bajra” dan “bayu-bajrasudrsa”, yang dalam Kamus Sanskreta susunan Monier Williams (1899) diartikan sebagai: angin ribut dan halilintar atau kilat. Dengan demikian, bisa menunjuk pada angin ribut atau taufan (Zoetmylder, 1995:117). Dalam bahasa Jawa Baru, angin yang kencang, yang acapkali arusnya berpusar, membentuk ulekan, dinamai “lesus”. Istilah ini dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan disebut dengan “lisus, lisyus” atau “halisyus, alisyus, yang menunjuk kepada angin puyuh, angin langkisau, angin puting beliung (Zoetmulder, 1995:330-331, 604). Istilah,- istilah itu disebut dalam berbagai susastra, bahkan semenjak era Kakawin Ramayana (abad IX Nasehi). Kata jadian “angalusyus” atau angalisus’ adalah kata ibarat yang berarti bagai angin puyuh, ribut, liar, hiruk pikuk, hingar-bingar. Aliran angin yang memutar bisa diistilahi dengan “alisusan.

Angin Ribut dalam Kidung Ranggalawe

Angin ribut dalam bahasa Jawa Kuna juga dinamai dengan “barat”, seperti disebut dalam Kakawin Sumanasantaka (1.20), Sutasoma (85. 10), Lubdhaka (25.6), dan Parthayajna (12.14). Yang penting untuk dicermati adalah perkataan dalam Kidung Ranggalawe (1.94), yang menyatakan “bagai angin ribut bulan ke-3 (Zietmulder, 1995:110), yang memberikan gambaran bahwa konon angin ribut acapkali terjadi pada bulan ke-3. Dalam Bahasa Jawa dinamai “wulan angin”

Dalam tradisi Jawa terdapat sebutan “cleret taun”. Fenomena alam ini berwujud sebagai pilar hitam yang menegak ke langit. Istilah “cleret” berarti: garis, yang dalam konteks ini menyerupai garis hitam, yang seolah-olah tercoret di bentangan langit. Sebenarnya, garis hitam itu adalah pilar pusaran angin kencang . Adanya kata “taun” menunjuk pada kehadiran angin ribut ini. Seolah “berulang” tiap tahun. Alisyus merupakan pertanda alamiah tentang bakal terjadinya angin berpusar yang bisa berdampak destruktif. Petanda alam ini pada satu sisi menarik perhatian, sebab merupakan petanda alam yang langka. Namun pada sisi lain mengerikan karena bakal terjadi peristiwa alam dahsyat yang membawa kerusakan.

C. Makna di Balik Sebutan “Udane Koyok Lamporan”

Hujan deras disertai angin kencang dalam bahasa Jawa Baru diistilahi dengan “udane koyok lamporan”. Kata jadian “lamporan” berkata dasar (lingga) “lampor”, yaitu istilah lama untuk menyebut suatu setan yang konon populer di Jawa Tengah dan Jawa Timur tahun 1960-an. Bentuk lampor digambarkan secara berlainan oleh warga di berbagai tempat, antara lain : (a) berwujud bola arwah; (b) pocong yang datang dan mencekik orang ketika tengah tertidur di dipan, atau (c) rombongan pasukan berkereta kuda prajurit Nyi Roro Kidul. Secara harafiah kata “lampor” berarti : gaduh, dan sebutan “lamporan”, yang menggambarkan : kegaduhan. Kedatangan para prajurit Nyi Roro Kidul berkereta kuda dari ‘Laut Kidul (Laut Selatan)” menuju ke suatu tempat dengan membawa bunyi gemuruh, bahkan gaduh. Asal hujan lampor dari laut itu sesuai dengan realitas di mana dari air terbentuk mendung, dan akhirnya turun sebagai hujan.

Mengapa perumpaan “lampor” yang digunakan untuk memberi gambaran tentang hujan deras disertai angin kencang? Suara gaduh dari hujan-angin itu yang diibarati dengan bunyi lampor. Selain itu, keyakinan bahwa kedatangan lampor yang membawa wabah penyakit atau pagebluk (bagebluk). Lampor sebagai penyebab kematian dijadikan perumpaan untuk kerusakan bahkan bisa juga kematian akibat hujan deras yang disertai dengan angin ribut yang destruktif sifatnya. Konon lampor diyakini datang utamanya di bulan Sapar. Demikianlah, hujan lebat berangin kencang digambarkan sebagai peristiwa alam dahsyat yang mengerikan. Sengeri tempat yang kedatangan lampor.

Makna Istilah Cleret Taun

Hujan, utamanya bila disertai dengan angin, diberi sebutan sebagai “udane koyo ambuan’, menggambarkan hujan sangat deras disertai angin, yang disertai angin kencang, malahan pusaran angin. Hujan-angin yang demikian bisa meruntuhkan maupun menerbangkan sesuatu. Pusaran angin itu tampak bagai garis (cleret) hiitam vertikal di langit. Dalam istilah Jawa baru dinamai “cleret taun’. Di antara mendung gelap, terdapat garis turun berwarna hitam ke tempat tertentu. Apabila ujung bawah pusaran angin yang berbentuk semacam “pilar angin” itu menyentuh tanah. Terlebih bila yang disentuh itu adalah permukiman. Maka menimbulkan keporakporandaan. Acap terjadinya bersamaan dengan hujan deras.

Angin yang besar (barat gede) yang datang di satu tempat diharapkan segera berlalu (pulang, mulih). Terkait itu ada lagu berbahasa Jawa, yang kutipan sebagian syairnya sebagai berikut “…….. barat gede mulio, tak opahi duduh klopo”. Dalam syait ini ada permintaan agar angin besar (barat gede) segera pulang (muliho)”. Agar bergegas pulang, maka dijanjikan upah, yang berupa “duduh klopo (air yang berada di dalam buah kelapa)”. Syair lainnya, yang maksud dan bentuk hadiah yang dijanjikan berbeda, bahkan berlawanan, adalah “cempe-,cempe undangno barat gede”. Dalam nyanyian ini, justru angin besar diundang hadir, karena angin dibutuhkan, misalnya untuk menaikan layang-layang (ngundo layangan). Uniknya, pada syair lagu ini yang dimintai pertolongan untuk mengundang angin tersebut adalah anak kambing (cempe). Adapun upahnya adalah “duduhnya tape (kuahnya tape)”. Ada pula nyanyian untuk mendatangkan hujan deras, seperti ketika puncak kemarau, demikian syairnya “Udanno sing deres, nyambelo sing pedes”.

Tradisi Masyarakat Jawa Ketika Udan-Angin

Dalam kebiasaan masyarakat Jawa ada suatu keunikan, bahwa ketika angin besar dan hujan deras hendak berlangsung. Maka dari dalam rumah dilemparkan ke halaman peralatan seperti pacul (cangkul), linggis, arit (sabit), cethok, dsb. agar angin besar itu segera berlalu. Seolah hujan- angin itu “diserang” dengan mempergunakan benda-benda yang dilemparkan ke halaman. Tindakan ini mengingatkan kepada sebutan “nggandring”, yang berkata dasar “gandring”, artinya: peralatan atau benda tajam. Dengan demikian, pelemparan benda-benda tajam itu dimaksudkan agar hujan-angin kalah menghadapi serangan manusia dengan menggunakan senjata-senjata tajam”

Demikianlah tulisan ringkas lagi bersahaja ini. Semoga dapat memberi guna-faedah. Paling tidak sebagai tambahan khasanah pengetahuan yang berkenaan dengan meteorologi dan fisika masa lampau menurut cara pandang eko-kultura Jawa. Besar harapan hujan yang disertai angin kencang tidak menerjang. Dan sebaliknya yang turun adalah “udan basuki” yang membawa keberkahan-kesejahteraan bagi semua makhluk. Nuwun.

*Arkeolog dan sejarawan Universitas Negeri Malang. Redaktur ahli nusadaily.com dan imperiumdaily.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *