Berwisata dengan Bahasa Non Linear: Sangat Cocok di Masa Pandemi

Oleh: Muh. Fajar

Menurut banyak orang, berwisata adalah kebutuhan penting dalam hidup. Dengan berwisata, maka pikiran dan tubuh kita akan merasa fresh lagi karena banyak tambahan imun ketika kita berwisata.

Berwisata memang selayaknya pergi ke tempat tempat hiburang yang menarik dan keren.

Selama ini, dalam benak orang kebanyakan. Yang namanya hiburan itu, ya  harus berkunjung ke kota X, ke Pantai, ke hutan atau gunung dan lain lain yang bisa langsung dinikmati oleh panca indra kita.

Pikiran itu sangat benar. Tetapi pada masa pandemi ini masih banyak tempat hiburan yang belum dibuka. Sehingga kita harus cerdas mencari cara bagaimana kita bias berwisata dan pikiran kita jadi fresh lagi.

Sebetulnya, pilihan hiburan saat pandemi ini telah ditolong dengan kemajuan digital saat ini. Yang memberikan sangat banyak pilihan pilihan hiburan yang tidak konvensional.

Ketika kita lihat acara TV atau membuka media sosial lainnya. Tentunya secara tidak sadar kita akan menikmati hiburan dengan cara kita mengelola pikiran dan keputusan pikiran kita. Bahwa apa yang kita lihat dan dengar tentang acara d TV atau postingan di media social baik WA atau Youtube.

Dalam postingan itu tentunya ada aliran bahasa yang disampaikan oleh para tokoh atau karakter dalam tayangan teresbut.

Tetapi kadang kadang kita, entah sadar atau tidak, kebanyakan hanya melihat dan senang dengan dialog yang mengalir dari para tokoh atau host di acara TV.

Tetapi kalau kita mau lebih sedikit saja mendalami aliran bahasa atau dialog dari para tokoh tersebut, kita tentunya menemukan ada sisi yang menarik untuk bisa didiskusikan.

Misal, ketika kita melihat kanal youtubenya Butet sang budayawan. Mungkin kita akan tersentak dan bertanya tanya, mengapa sang budayawan agung tersebut memilih diksi ‘Butet Nguntal’ di kanal youtubenya? koq tidak memilih diksi yang lebih halus.

Padahal menuut kebanyakan orang, pilihan diksi ‘nguntal’ adalah diksi yang kasar sekali sedangkan status social si Butet adalah sangat tinggi di masysrakat sebagai budayawan yang agung.

Baca Juga: Baby Shima, Berawal dari Smule hingga Ikut D’Academy Asia

Kita juga melihat aliran komunikasi dari seorang dudayawan Sujiwo Tejo yang juga keren dan bangga sebagai presidennya the Jancukers, atau juga ketika kita melihat acara TV mainstraim, yakni acara reality show, ‘Bikin Laper’.

Dalam acara ‘Bikin Laper’ seringkali host menggunakan kata ‘ ayo gaes….kita landingkan makan ini ke lidah kita’ atau ‘makanan ini ancaman ..guys’.

Baca Juga: Antara Peristiwa, Jarak dan Daya Cekam

Dari diksi dan aliran komunikasi dari dua tokoh budayawan dan para host cara ‘Bikin Laper’ tersebut. Kadang kita akan ada sedikit pikiran liar. Mengapa mereka berdua tersebut memilih diksi yang menurut pikiran kita bahwa mereka berdua itu adalah budayawan yang agung. Tentunya seharusnya aliran diksinya merefleksikan status sosialnya.

Bila apa yang mereka sampaikan ke publik menunjukkan adanya kesesuaian antara hubungan status sosial dan aliran diksi yang sesuai kaidah-kaidah kebahasaan oleh para tokoh budayawan dan host acara TV tersebut. Maka bisa dikatakan bahwa mereka menggunakan bahasa linear ini sesuai dengan definisi kata ‘linear’ menurut KBBI didefinisikan berbanding lurus.

Baca Juga: Penguatan Ideologi Pancasila dan Nalar Sehat

Tetapi apa yang kita lihat bahwa diksi mereka sangat berbeda atau tidak berbanding lurus dengan  status sosial mereka yang adiluhung. Sehinga kita bisa mengatakan bahwa bahasa atau diksi yang mereka pakai adalah bahasa non-linear. Artinya keputusan mereka menentukan diksi dari kanal sosial medianya tidak merefleksikan adanya linearitas antara status sosial mereka dengan pilihan diksinya.

Tetapi kita justru sangat menikmati postingan mereka dan memaklumi saja. Dengan menikmati postingan mereka berarti kita secara tidak sadar telah berwisata dengan aliran diksi mereka. Yang membuat pikiran kita kesegaran baru dalam mmenikmati perubahan bahasa.

Baca Juga: Kidungan Jula-juli, Seni Bertutur Kontekstual

Dengan melihat postingan dari tokoh budayawan yang tersebut  serta acara TV sebagai sebuah peristiwa sosial. Maka kita tidak perlu mencari hubungan sebab akibat akan tetapi berupaya memahami makna yang dihayati dalam sebuah pergereseran bahasa dan kebudayaan itu sendiri.

Dengan meminjam istilah Clifford Geetz  yang mengatakan bahwa kebudayaan diumpamakan seperti “jaringan-jaringan makna”, dan manusia adalah bergantung pada jaring-jaring makna itu.

Baca Juga: Harmonisasi dalam Sastra Jawa Pesisiran

Ketika seseorang bisa menemukan kesenangan dalam segala lini kehidupannya saat ini yang mengalami pergeseran kebudayaan maka pilihan pilihan berwisata akan semakin banyak.

Setiap orang punya cara sendiri mencari tempat dan jenis hiburan pada masa pandemi ini.

Baca Juga: Pembelajaran Tatap Muka Di SMAN 02 Batu Akan Dimulai Juli 2021

Pilihan hiburan sangat tergantung pada passion tiap orang yang memberikan alasan mengapa senang dengan jenis pilihan hiburan itu, demikian juga menikmati pergeseran hiburan ke era digital pada pandemi.

Penulis Berwisata dengan Bahasa Non Linear: Sangat Cocok di Masa Pandemi adalah Dosen Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Jombang serta Ka. Departmen Pendidikan Bahasa dan Sastra CEBASTRA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *