Harmonisasi dalam Sastra Jawa Pesisiran

Oleh: Dr. M. Mudlofar, M.Pd.

Kabar tentang pantun diterima UNESCO sebagai warisan budaya asli Indonesia barangkali sudah viral. Kabar itu mungkin bagi sebagaian orang cukup menggembirakan.

Sebab, akan menambah daftar panjang aneka budaya Indonesia yang diakui oleh dunia.

Baca Juga: Cendekiawan Bahasa dan Sastra Punya Wadah Cebastra

Akan tetapi, yang perlu mendapat perhatian ialah ada apa dengan pantun. Dalam catatan pelajaran waktu kita bersekolah menengah di sana acap kali diterangkan bahwa pantun itu jenis sastra lama.

Karena sastra lama maka memiliki ciri-ciri yang terkesan klasik (kuno), jika diperbandingkan dengan sastra modern.

Karya Khairil  Anwar yang dianggap memakili sosok karya sastra modern  pada gilirannya diterima  sebagai sastra yang lebih menonjol dalam berbagai aspek. Utamanya menyangkut ciri “kebebasan” dalam mengeksprasikan pikiran-pikiran manusia modern. Tidak seperti sastra lama yang selalu “terikat”.

Salah satu ciri “kebebasan” itu ialah tiadanya keterikatan sastra modern itu dengan sajak, a-b-a-b, seperti halnya pantun. Asumsi bagi murid saat itu ialah sastra modern lebih “bagus” dibandingkan dengan sastra klasik, termasuk pantun.

Sejatinya, sastra klasik yang kehadirannya selalu menggunakan sajak tidaklah hanya pantun. Di masyarakat Jawa Pesisiran ada lagi wujud sastra yang disampaikan secara oral yaitu suluk.

Suluk merupakan sastra tradisi klasik Jawa yang menonjol pada dua aspek , yaitu bentuk dan isi. Pada aspek bentuk maka persajakan suluk tidak hanya a-b-a-b, akan tetapi sampai ada 10 bentuk persajakan.

Lebih dari itu, suluk dibacakan di depan audience dengan cara ditembangkan (tembang macapat). Teknis penembangannya harus memperhatikan konvensi struktur meliputi:

  • (a) guru gatra (jumlah baris setiap bait),
  • (b) guru lagu atau dongding (vokal akhir pada tiap baris),
  • (c) guru wilangan (jumlah suku kata setiap baris),
  • (d) watak tembang. Semuanya harus ajeg dan berirama secara estetis.

Baca Juga: 36 Tahun Konvensi Hak Perempuan: Perempuan dan Sastra Kita

Konvensi tembang macapat yang berkembang di sastra Jawa Pesisiran adalah

  • (a) Tembang Dhandhanggula, jumlah baris 10 terdiri atas vokal akhir; i,a,e,u,i,a,u,a,i,a;
  • (b) Tembang Asmaradana jumlah baris 7 terdiri atas vokal akhir; i,a,e,a,a,u,a;
  • (c) Tembang Pangkur jumlah baris 7 terdiri atas vokal akhir; a,i,u,a,u,a,i;
  • (d) Tembang Mijil jumlah baris 6 terdiri atas vokal akhir; i, o, e, i, i, u, i;
  • (e) Tembang Pucung jumlah baris 4 terdiri atas vokal akhir; u, a, i, a;
  • (f) Tembang Maskumambang jumlah baris 4 terdiri atas vokal akhir; i, a, i, a;
  • (g) Tembang Megatruh/Dudukwuluh jumlah baris 6 terdiri atas vokal akhir; u, i, u, i, o;
  • (h) Tembang Durma jumlah baris 7 terdiri atas vokal akhir; a, i, a, a, i, a, i;
  • (i) Tembang Kinanthi jumlah baris 6 terdiri atas vokal akhir; u, i, a, i, a, i; dan
  • (j) Tembang Sinom jumlah baris 9 terdiri atas vokal akhir; a, i, u, a, u, a, i.

Baca Juga: Mengapa Kita Tidak Membaca Sastra

Agar lebih gamblang berikut dicontohkan salah satu tembang macapat jenis Asmarandana:

Inisun amimiti amuji,                   (8i)
Anebut nama Hyang Sukma,       (8a)
kang murah ing dunya kabeh,      (8e)
kewan sajeroning petala,              (8a)
uler sajeroning sel,                        (7a)
rumambat ing nafsu,                    (8u)
sinumngan pangan beksa.            (8a)

Terjemahannya:
Kumulai cerita seraya memuji,
menyebut nama Allah,
yang pemurah bagi alam semesta,
segala binatang  di bumi,
bahkan hewan melata,
yang merambat dalam nafsu,
semua dianugerahi rizqi.

Baca Juga: Sastra Mendidik tanpa Dogma

Bentuk tembang tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Tembang Asmarandana akan selalu terdiri atas 7 baris. Tiap baris akan selalu terdiri atas 8 suku kata kecuali pada baris ke-6 yang hanya 7 suku kata.

Tiap baris akan selalu diakhiri dengan;  vokal i untuk baris ke-1, vokal a untuk baris ke-2, vokal e untuk baris ke-3, vokal a untuk baris ke-4, vokal a untuk baris ke-5, vokal u untuk baris  ke-6, dan vokal a untuk baris ke-7.

Demikian seterusnya untuk jenis tembang-tembang yang lain harus sesuai dengan konvensi strukturnya.

Baca Juga: Legenda dan Mitos sebagai Model Sastra Sejarah

Penyajian bentuk tembang macapat harus konsesten, tidak boleh diubah-ubah. Bahkan kalau sampai terjadi ketidakajegan atau inkonsistensi bentuk maka dianggap sebagai tembang yang jelek atau gagal.

Keajegan jumlah baris, jumlah suku kata, dan vokal akhir tiap baris dalam tembang macapat tentu punya makna dan maksud. Salah satunya ialah keajegan itu dimaksudkan untuk menciptakan keteraturan.

Keteraturan yang tercermin dalam bentuk akan menggiring pada keteraturan isi. Harmonisasi bentuk dan isi inilah yang ingin digapai oleh sastra klasik.

Sementara itu, pada aspek isi, sastra Jawa Pesisiran jenis suluk ini mengajarkan tentang bagaimana menjangkau kedekatan pada Sang Pencipta.

Simuh (1999) menegaskan bahwa sastra suluk berintikan paham penghayatan manunggaling kawula-Gusti yang bersumber dari konsep martabat tujuh.

*Penulis adalah dosen Universitas Qomaruddin Gresik, dan Wakil Ketua 1 Bidang Badan Otonom Perkumpulan Cendekiawan Bahasa dan Sastra (CEBASTRA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *