Kandidat Profesor di Jember Resmi Sandang Tersangka Perkara Dugaan Cabuli Gadis Bawah Umur

IMPERIUMDAILY.COM – JEMBER – Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Jember menyematkan status tersangka kepada RH, oknum dosen Universitas Jember (Unej) dalam kasus dugaan kekerasan seksual terhadap gadis berusia 16 tahun.

Usai gelar perkara, penyidik mendapati sejumlah alat bukti yang cukup mengarah terjadinya tindak pidana. Alat bukti dalam kasus ini diantaranya berupa keterangan saksi (korban maupun terduga pelaku), visum dari psikiatri, keterangan ahli, dan rekaman suara.

Khusus alat bukti terakhir berasal dari insiatif korban merekam saat kejadian pelecehan seksual yang berlangsung di ruang tamu rumah tersangka pada 26 Maret 2021 lalu.

“Setelah gelar perkara pukul 09.00 pagi tadi, hasilnya sudah kita tingkatkan terduga pelaku oknum dosen itu ditetapkan sebagai tersangka,” beber Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Jember, Ida Diyah Vitasari, Selasa, 13 April 2021.

Penetapan tersangka tidak terpengaruh pada sikap RH mengelak tuduhan pencabulan sebagai upaya membela diri. Kendati, polisi memang belum menerapkan penahanan, karena penyidik bakal kembali memanggil RH untuk dimintai keterangan dalam kapasitasnya selaku tersangka.

“Segera, masih kita lengkapi (berita acara pemeriksaan/ BAP). Mengakui atau tidak mengakui, itu terserah mereka. Yang penting kita kumpulkan alat bukti. Ada kesesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti,” tegas Diyah.

RH di kalangan publik Jember terkenal sebagai pakar ilmu politik. Ia merupakan lulusan program studi doktor Charles Darwin University, Australia dan kini sedang dalam proses menuju gelar akademik guru besar atau profesor dari tempatnya mengajar sebagai dosen di FISIP Unej.

Minta Diselesaikan Secara Kekeluargaan

Pengacara RH, Ansorul Huda sebelumnya menginginkan masalah dugaan pencabulan diselesaikan melalui jalur kekeluargaan lantaran tengah diupayakan mediasi. Pasalnya, mengenai tudingan itu disebut tidak benar-benar demikian.

Mediasi tampaknya hampir selalu terhambat dengan kesulitan berkomunikasi dengan pihak keluarga korban. Walaupun sejatinya, antara RH dengan korban terkait hubungan keluarga dekat.

“Anak itu masih sepupu ya. Anak dari kakaknya istri klien yang dititipkan, karena bapak dan ibunya bercerai,” ungkap Ansorul.

RH memang mengasuh korban beberapa kali kesempatan. Yakni, kali pertama sejak kelas 1 hingga kelas 3 SD yang pengasuhannya terhenti sementara karena RH studi keluar negeri. Kemudian, pengasuhan kali kedua saat korban dititipkan kembali oleh ayahnya pada Juni 2019 silam.

Korban mengaku mendapat perlakuan tidak senonoh kala beranjak remaja, tepatnya pada bulan Pebruari dan Maret 2021 lalu. RH disebut melancarkan modus dengan cara pura-pura mengetahui korban mengidap kanker payudara.

Berdalih bisa melakukan terapi, RH menawarkan pengobatan alternatif berbekal bacaan jurnal online yang mengulas seluk-beluk penyakit kanker bagian sensitif perempuan. Merasa dicabuli, korban lantas memberi tanda lewat status instagram yang akhirnya membuat perkara ini mencuat. (sut/aka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *