Kasasi, Pendeta Cabuli Jemaatnya Divonis MA 11 Tahun Penjara

IMPERIUMDAILY.COM- SURABAYA – Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan kasasi yang diajukan Hanny Layantara (57) seorang pendeta yang melayani di salah satu gereja Happy Family Center (HFC) di Jalan Embong Sawo, Surabaya yang sebelumnya divonis 11 tahun penjara.

Dia didakwa Jaksa karena telah mencabuli jemaatnya secara berulang – ulang. Vonis tinggi itu karena korbannya adalah masih di bawah umur alias anak – anak.

Sebelumnya, sekira 20 Februari 2020, Hanny Layantara dilaporkan oleh korban ke Mapolda Jatim dengan nomor polisi LP:LPB/155/II/2020/UM/SPKT.

Dari pemeriksaan terhadap korban, bahwa korban mengaku telah dicabuli oleh tersangka sejak korban berumur 10 tahun. Saat korban melapor sudah berusia 26 tahun.

Ulah bejat Pendeta ini terbongkar sudah. Situasi memilukan menimpa korban kala itu saat hendak menikah.

Terbongkar Saat Korban Hendak Menikah

Nestapa ini terbongkar saat korban hendak menikah. Dari sinilah, Hanny Layantara ditangkap pada Sabtu (7/3/2020) di area Perumahan Pondok Tjandra, Waru, Sidoarjo.

Hanny sebelumnya diketahui hendak melarikan diri ke luar kota. Beruntung Polisi sigap dan mencokok pendeta ini saat bersiap bertolak ke luar negeri.

Kala itu, Direskrimum Polda Jatim Kombes Pitra Andrias Ratulangi mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan, Hanny mencabuli jemaatnya selama 6 tahun, bukan 17 tahun seperti hasil laporan awal.

Pencabulan itu dilakukan Hanny pada 2005-2011. Atau saat korban berusia 12-18 tahun. Saat itu korban memang dititipkan oleh orang tuanya kepada Hanny.

“Jadi kurang-lebih perbuatan itu terjadi 6 tahun sejak 2005 sampai 2011, kisaran anak itu umur 12-18 tahun,” bebernya.

Lokasi pencabulan dilakukan di kamar terpidana dan pernah dilakukan di ruang tamu di lantai 4 rumahnya.

“Kebetulan kan tempat ibadah itu ada di situ juga di kompleks yang sama. Perbuatan itu bukan di dalam gereja tapi di kamar tidur tersangka. Masih satu area,” beber perwira ini.

Pada 21 September 2020, PN Surabaya dalam sidang vonis, amar putusan Hakim menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara kepada Hanny Layantara.

Karena tak terima vonis itu, terdakwa kala itu naik banding ke Pengadilan Tinggi. Terdakwa pun malah dijatuhi hukuman lebih berat menjadi 11 tahun penjara.

Masih saja tidak terima putusan Pengadilan Tinggi, terdakwa kala itu mengajukan Kasasi ke MA.

Alih – alih tidak mau dipenjara, dia mengolor perkara dan tidak terima vonis 11 tahun dari PT.

Kini, Hanny Layantara menyesal. Dia harus dieksekusi untuk menjalani penahanan badan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) karena dianggap telah incraht atau berkekuatan hukum tetap.

“Tolak,” begitu amar vonis kasasi sebagaimana dilansir website MA, Senin (12/4/2021).

Terekam bahwa Ketua Majelis MA adalah Suhadi dengan anggota Desnayeti dan Soesilo.

Amar putusan nomor 1021 K/Pid.Sus/2021 itu diketok pada 30 Maret 2021 dengan panitera pengganti Pranata Subhan.

Berita Terheboh 2020

Kasus dengan terdakwa pendeta dari gereja Happy Family Center (HFC) Surabaya, Hanny Layantara itu terheboh di penghujung 2020.

Kala itu, teriakan keluarga korban Irene Wiryanto, begitu nyaring. Korban dari keluarga pengusaha importir Andy Wiryanto Ong, mengaku sejak kecil diduga dicabuli pendeta Hanny Layantara di gereja HFC Jalan Embong Sawo ini, dan intens.

Kala itu sidang digelar tertutup di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (16/7/2020).

Perdebatan sengit pun terjadi karena istri dari Pendeta Hanny Layantara, tak lain Pendeta Agnes Maria, sempat meminta kasus dugaan pencabulan yang dilakukan suaminya tidak terekspos besar-besaran ke publik.

Istri Pelaku Minta Tidak Dibuka ke Publik

“Ketika itu ada pertemuan antara keluarga korban dengan keluarga pelaku di lobi hotel (hotel di Jalan Yos Sudarso). Istri pelaku minta agar ini (kasus dugaan pencabulan) tidak dibuka ke publik,” kata Bethania Thenu, juru bicara keluarga korban.

Kata Agnes Maria, sejak pemberitaan pertama kali dugaan pencabulan pendeta Hanny Layantara pada 27 Desember 2019 lalu, pihak Agnes meminta dihentikan.

Permintaan itu tentu saja tidak dihiraukan oleh keluarga korban, hingga akhirnya meledak dan diketahui secara terbuka oleh publik saat penangkapan Hanny Layantara yang dilakukan unit Renakta Ditreskrimum Polda Jatim secara dramatis.

Terungkap pula bahwa modus pelaku mencabuli korban begitu licik. Korban mau tak mau harus menjalani tugas begitu SMS masuk.

Permintaan itu bak instruksi yang tidak bisa ditolak. Suka tidak suka, mau tidak mau permintaan itu harus dituruti.

Rentang waktu 2005 hingga 2009, intensitas pencabulan diduga dalam seminggu empat hingga lima kali. Intensitas berkurang selanjutnya sampai 2011. Dari 4-5 kali seminggu menjadi dua kali.

Sementara, kuasa hukum Pendeta Hanny Layantara, Abdurrahman Saleh, SH, mengatakan Hanny Layantara didakwa melanggar Pasal 82 UU Nomor23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan atau Pasal 264 KUHP dengan ancaman hukuman hingga 9 tahun penjara.(ima/aka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *