Kidungan Jula-juli, Seni Bertutur Kontekstual

Oleh: Dr. Gatot Sarmidi, M.Pd.*

Suatu waktu bertemu Cak Marsam Hidayat pengidung Jula-juli asal Gondanglegi Malang. Tidak hanya itu, ia hanya memperkenalkan identitasnya sebagai seniman kidung. Suatu hal menarik dari pertemuan itu, mengingatkan ketika Cak Marsam mengidung dan menggambang. Biasanya, Cak Marsam memang ngidung di mana-mana.

Kidungan Cak Marsam semacam pembicaraan sehari-hari seperti biasanya. Tidak berbeda dengan kidungan yang lain, orang menghubungkan dengan bagian pertunjukan ludruk, lerok, atau tonil.

Kidungan Jula-juli Jawa Timuran begitu nama lengkap genre itu yang sebenarnya hanya seni bertutur yang merefleksikan keadaan terutama keadaan sosial sesuai konteksnya.

Baca Juga: Kemenparekraf Kembali Ajak Masyarakat Dukung Dangdut Jadi Warisan Budaya Dunia

Seni mengidung sudah sejak lama mengalami digitalisasi, sejak direkam melalui kaset recorder, ditayangkan ditelevisi, divideokan dan diedarkan melalui rekaman compact disc hingga diunggah ke YouTube.

Seni kidungan itu merupakan seni tradisional yang bersifat lokal, di antaranya Kidungan Suroboyoan, Kidungan Malangan, dan Kidungan Jombang yang banyak kelompok seniman ludruk di sana. Juga tempat lain misalnya di Madura, Probolinggo, Lumajang dan Jember.

Baca Juga: Penguatan Ideologi Pancasila dan Nalar Sehat

Kekhasan Cak Marsam Hidayat dalam mengidung tidak selamanya dilakukan pada saat sedang nglawak atau ndagel dalam berbagai kegiatan dia ngidung. Bahkan di warung pun ia juga ngidung.

Berbicara tentang proses kreatif ngidung ternyata kontekstual sekali, sama halnya dengan bertutur biasa hanya dilagukan begitu saja. Bahan kidungan bisa puisi (basa pinathok) dan bisa prosa (basa gancaran).

Bca Juga: Antara Peristiwa, Jarak dan Daya Cekam

Kidungan merupakan seni bertutur menggunakan bahasa Jawa  yang memasyarakat. Sebagai genre sastra lisan kidungan memiliki sisi estetis karena enak didengar. Dengan gaya khas pengidungnya dan biasanya pengidung memberikan muatan nilai pada pesan kidungannya.

Secara virtual, kidungan Cak Marsam dapat dilihat pada Cak Marsam Hidayat Kidungan Jula-juli. Budaya Malangan-Kidungan Gondanglegi Peduli-Kecamatan Gondanglegi-Ludruk-Kidungan Kluyuran. Cak Marsam Hidayat Kidungan Jula-juli Kluyuran. Cak Marsam Hidayat Ngidung Jula-juli 2020.

Baca Juga: “Sampeyan vs. Panjenengan”: Bagaimana Digunakan Secara Tepat?

Lebih luas, virtualisasi kidungan Jula-juli juga dapat dilihat pengidung yang lain, di antaranya pada Ludruk  Kartolo Sapari ngidung2019, Gareng-Cak Kartolo-Cak Sapari. Nonton Ludruk Cak Kartolo Ning Dewi Triyanti, Cangkrukan Kirun Bagio Ngidung. Ludruk Eka Budaya Mojoanyar-Lawakan Cak kunthing cs, Sholat Pitutur Cak Kunthing. Lawak Cak Kunthing-Sampe-Sulabi olek, Ludruk Budi Wijaya Jombang, Kidungan Pitutur Cak Kunthing cs, dan Jula-juli Cak Kunthing-Angkling Darmo.

Sebagai seni bertutur yang kontekstual, seni berkidung tidak semata-mata dihubungkan dengan pertunjukkan ludruk. Seni berkidung sebenarnya merupakan kreativitas yang dapat dilakukan sehari hari sesuai dengan situasi dan kondisinya.

Pada kehidupan masyarakat masa lalu kegiatan mengidung dan menggandang dilakukan dalam tradisi menghibur diri di tengah sawah pada sebuah gubuk. Pada saat membajak sawah, menggembala ternak. Atau situasi santai di rumah sambil mengerjakan pekerjaan harian, pada saat momong bocah. Atau pada saat kumpul-kumpul nongkrong santai santai.

Secara kontekstual, contoh kidungan Cak Marsam yang diunggah pada You Tube: Cak Marsam Hidayat Kidungan Jula-juli Kluyuran menunjukkan sebuah seni bertutur yang khas santai di antara seniman yang hadir.

Konteksnya, kidungan ini disampaikan pada saat Cak Marsam berada di Pademokan Seni Mangundarmo, pada persiapan pertunjukan wayang  topeng. Pada kegiatan itu, para pengrajin topeng sedang berproses memperagakan kegiatan menatah topeng sebagai persiapan menyambut tamu datang.

Dalam obrolan santai sebelum mengidung, mudah mudahan padepokan diberi rezeki yang lancar,  produk unggulan madu klengkeng di dusun Kemulan Tumpang  Malang lancar.

Tidak hanya berkesenian, para seniman merasa sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang memiliki tradisi berdagang dalam kehidupan sehari harinya.

Dalam kesederhanaan itu, mereka berupaya melanggengkan kearifan lokal, termasuk di dalamnya berupaya agar tradisi seni topeng dan wayang tidak bisa hilang sehingga ada upaya pemertahanan dan revitalisasi kebudayaan melalui  kegiatan padang rembulan di kafe Mesem, berikut kidungan Cak Marsam dibawakan dalam pertemuan itu:

Wayang topeng mulane terus berkembang
Sebab Ki Soleh Adi Pramono sing dadi dalang, lapanceno ngono ta Cak
Tari Topeng Malang ana Grebek Jawa lan Grebek Sabrang
Tapi sing paling kondang
Gunung Sari karo Topeng Bapang
Gunung Sari tarian Glagah Dawa
Pak Lasimun saiki wis seda
Seni tradisi ayo dijaga
Kanggo mbangun jati diri bangsa

Hasil simakan kidungan Cak Marsam ini berupa tuturan berirama terus, isinya tentang seni tari topeng Malang yang dikembangkan di daerah Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Pesan utamanya agar seni tradisi di sana memiliki kekuatan untuk tetap disenangi, tetap hidup, dilestarikan, dan dijaga oleh pemiliknya sebagai seni rakyat (folklore) karena secara fungsional seni tradisi tersebut berguna untuk membangun jati diri bangsa.

Kidungan utama itu menjadi bagian dari wacana pendek yang kemudian dilanjutkan dengan sebuah parian yang digunakan sebagai kidungan penutup, berikut ini:

Jinten ireng ketupat janur kelapa
Semanten kidungan kula menawi lepat nyuwun sepura

Dalam konteks pendidikan nilai untuk masyarakat dan pendidikan karakter untuk peserta didik di sekolah, tradisi mengidung Jula-juli perlu diperkenalkan kembali. Apresiasi kidungan juga perlu digiatkan. Kegiatan berkidung sebagai seni bertutur yang kontekstual tidak selamanya menjadi bagian dari pertunjukan ludruk yang hanya bisa ditonton tetapi kegiatan mengidung juga menjadi kegiatan keseharian yang lepas dari kerumitan untuk penyelenggaraannya.

Rupanya, setiap daerah atau wilayah memiliki kekhasan kidungan untuk citra lokalnya. Kidungan Jula-juli enak didengar, mudah dilagukan, dapat dikembangkan menurut selera dan kreativitas masing-masing.

Cak Marsam salah satu contoh pengidung di Malang yang mencoba mengidung secara virtual, masih banyak yang lain, apalagi para pengidung di Jawa Timur.

Kidungan menjadi bagian dari literasi daerah, tentu saja secara kontekstual dapat digunakan untuk menguatkan kesadaran dari berbagai potensi pengetahuan baik yang bermuatan kearifan lokal. Maupun pengetahuan yang jauh lebih modern dan lebih mutakhir. Tidak hanya sebagai kritik sosial, isi kidungan. Banyak hal dapat disampaikan secara menyenangkan, halus, sopan, penuh wibawa.

Kidungan Gondanglegi hanya sebagai asal, karena Cak Marsam Hidayat tinggal di sana. Bentuk, pola, dan fungsi kidungan pun masih belum banyak digali. Termasuk di dalamnya perhatian terhadap seni bertutur yang bersifat verbal. Pada dasarnya, kidungan Jula-juli merupakan seni bertutur yang diracik khas untuk hiburan.

Memang bermula sebagai seni menghibur diri karena hanya berupa gandangan tetapi ketika dibawakan dalam konteks luas, kidungan Jula-juli akan menjadi bagian dari seni bersosial dan berbudaya serta metode penanaman nilai dalam konteks pendidikan.

*Penulis adalah dosen Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (https://unikama.ac.id), dan anggota Perkumpulan Cendikiawan Bahasa dan Sastra (CEBASTRA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *