Korban Gempa Malang Alami Trauma Sedang, DP3A Gaet HIMPSI Berikan Trauma Healing

IMPERIUMDAILY.COM-MALANG- Korban gempa Malang alami trauma sedang. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) gaet Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Organisasi itu diajak memberikan trauma healing (penanganan trauma) para korban gempa Kabupaten Malang.

BACA JUGA: Pemkab Malang Kerahkan Tim Trauma Healing, Cegah Dampak Psikologi Korban Gempa – Imperiumdaily.com

BACA JUGA: Disnaker Minta Perusahaan Bayar Kontan THR Karyawan – Nusadaily.com

Dalam penanganannya, DP3A melakukan pantauan terhadap perkembangan psikologis para korban. Pemberian trauma healing ini mengacu dari data yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang.

“Instruksi Pak Bupati kan semua pendataan harus satu pintu dari BPBD. Jadi kita juga mengikuti, BPBD atau relawan menghubungi kita dan bilang butuh apa, ya akan kita upayakan. Makanya di sini kita gandeng HIMPSI, disana ada psikolog-psikolog dari sejumlah universitas,” papar Kepala Bidang (Kabid) Pemenuhan Hak dan Partisipasi Anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Malang, R. Sari Ratih, Senin, (19/4/2021) hari ini.

Pihaknya mengatakan, sesuai prosedur, trauma healing ini diberikan sesuai jenjang umur dan tingkatan traumanya. Dan sejauh ini, korban gempa di Kabupatan Malang mengalami trauma sedang.

“Kalau yang berat itu seperti sampai linglung. Sedangkan yang ringan itu seperti sedikit-sedikit nangis. Sementara di Kabupaten Malang ini, mungkin sedang, meskipun hanya sesaat,” bebernya menjelaskan korban gempa Malang alami trauma sedang.

Lebih lanjut dijelaskannya, saat ini korban gempa di Kabupaten Malang secara umum masih belum dapat dikatakan membutuhkan trauma healing.

Sebab, masih belum dua minggu untuk assestment trauma healing yang pertama. Namun begitu, pihaknya tidak lepas tangan, dan terus melakukan pemantauan terahdap perkembangan psikologis korban gempa.

“Terus kami pantau, kalau dari DP3A sendiri kan kita menggandeng ormas (organisasi masyarakat). Utamanya yang bergerak di bidang perlindungan perempuan dan anak juga. Seperti PPA di setiap kecamatan dan forum anak di setiap desa. Jadi kami pantau dari situ,” tutupnya.(aje/cak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *