‘Saking pundi?’ Cara Menjaga Kesopanan dengan Mitra Wicara

Oleh: Dr. Nunung Nurjati, M.Pd.*

JIKA kita tinggal di Jawa, terutama di Jawa Timur, sudah lumrah jika baru bertemu dengan orang yang baru dikenal dan mengawali suatu percakapan, seringkali ditanya “saking pundi? (asalnya dari mana?) setelah teman bicara kita mendengarkan cara kita menanggapi pembicaran mitra. Awalnya, pertanyaan itu muncul karena ingin berbasa-basi, namun sering berlanjut sebagai cara mengukur ‘kelayakan’ dalam meneruskan pembicaraan supaya lebih akrab namun tetap menjaga sopan santun dalam pembicaraan.

Pertama membuka pembicaraan, seseorang akan menggunakan bahasa Indonesia untuk menjajagi pembicaraan. Karena fungsi bahasa Indonesia adalah bahasa resmi sehingga seseorang secara otomatis menggunakannya untuk saling mengenal mitra wicaranya. Seringkali seseorang akan menggunakan bahasa daerah asal bila pembicaraan menjadi lebih akrab dan hangat. Bila pembicaraan berlanjut setelah berbasa-basi, kedua belah pihak melanjutkan pembicaraannya dengan bahasa yang dipahami dan membuat nyaman keduabelah pihak yang berdialog.

Setelah merasa nyaman, selanjutnya bahasa yang digunakan pun berubah menjadi bahasa daerah si penanya. Perubahan bahasa ini tidak secara tiba-tiba, biasanya ke dua belah pihak menjajagi masing-masing mitra wicaranya, termasuk menjajagi asal daerah si pembicara selama pembicaraan berlangsung dari logat bicara dan medok tidaknya. Selain itu, penjajagan juga untuk mengetahui senioritas dan status sosial si pembicara dari jawaban-jawaban yang diberikan.

Setelah sinyal status sosial dan asal daerah tersambung oleh masing-masing mitra wicara, barulah pertanyaan ‘saking pundi?’ dilontarkan. Pertanyaan ini tentu saja bukan menanyakan seseorang baru saja dari mana, namun pertanyaan ini lebih pada konfirmasi dari daerah mana mitra wicara berasal. Bila jawaban yang diberikan mencakup daerah yang berada di Jawa Tengah atau Jawa Timur bagian barat, maka bahasa yang digunakan segera berubah dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa.

Perubahan ini tidak akan terjadi bila pewicara dan mitra wicaranya menyampaikan sinyal asal daerah, senioritas dan status sosial menunjukkan negatif. Artinya, bila sinyal asal daerah dari mitra wicara bukan berasal dari Jawa Tengah dan sekitarnya, atau bila mitra wicara bukan lebih senior tetapi sebaya atau lebih muda, dan bila mitra wicara bukan berasal dari status sosial yang lebih tinggi tetapi status sosialnya sama atau setara. Bila sinyal yang diperoleh dengan jawaban ‘bukan’ mendominasi maka pertanyaan ‘saking pundi?’ tidak akan dilontarkan. Pembicaraan selanjutnya bisa tetap menggunakan bahasa Indonesia dengan pembatasan jarak yang agak longgar.

Pertanyaan ‘saking pundi?’ menjadi pembuka pembicaraan baru bila jawaban ‘nyambung’ diberikan oleh mitra wicara. Jawaban asal daerah langsung diberikan dengan bahasa Jawa bahkan sudah menggunakan kromo, seperti ‘kulo Ngawi’ dan sebagainya. Jawaban demikian diberikan karena pertanyaan yang diberikan sudah menggunakan bahasa kromo. Penggunaan bahasa kromo ini menunjukkan sikap sopan yang ingin disampaikan oleh pewicara kepada mitra wicaranya.

Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Leech (1983) yang dikenal telah menyampaikan konsep kesantunan maksimnya yang meliputi maksim kebijaksanaan, maksim kemurahan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan, dan maksim kesimpatian.

Perubahan bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa kromo ini sesuai dengan maksim kecocokan dimana pewicara dan mitra wicaranya memaksimalkan kecocokan di antara mereka dengan mulai menyelipkan penggunaan bahasa Jawa kromo dan meminimalkan ketidakcocokan di antara mereka dengan mengurangi menggunakan bahasa Indonesia untuk istilah-istilah tertentu dalam percakapan mereka selanjutnya. Sehingga pembicaraan berlanjut dengan menggunakan bahasa Indonesia yang seringkali dicampur dengan bahasa Jawa kromo untuk istilah-istilah tertentu, contohnya “Oh, jadi panjenengan dari Ngawi…”

Penggunaan kata ‘panjenengan’ sebagai ganti kata ‘kamu’  sangat terasa bahwa pewicara berusaha menghargai dan berlaku sopan kepada mitra wicaranya, bahwa pewicara telah mengetahui jika mitra wicaranya seseorang yang lebih senior atau pun dari status sosial cukup terpandang sehingga ia berhak dihargai dan diperlakukan sopan. Penggunaan kata ganti orang yang di-kromo-kan juga menunjukkan penghalusan akibat bila kata ‘kamu’ digunakan bagi pendengarnya. Hal ini seperti yang dimaksudkan oleh Brown dan Levinson (1987) dalam teori kesantunannya sebagai upaya mengancam muka (face threatening acts).

Walaupun sebagai pengganti kata ‘kamu’ bisa saja pewicara menggunakan kata ‘Anda’ namun penggunaan ini terasa formal dan berjarak. Selanjutnya pembicaraan berlanjut dengan kalimat-kalimat yang terangkai bercampur bahasa Indonesia dan bahasa Jawa kromo berselang-seling (code mixing dan code switching) antara pewicara dan mitra wicaranya.

            P: Saking pundi?

            M: Kulo Ngawi

            P: Oh, jadi panjenengan dari Ngawi? Saya sudah mengira dari kilen

            M: Panjenengan mangertos darimananya, Bu? Saya penasaran.

            P: Nggih dari logatnya jika Ibu ngendikan.

            M: Oh, ngaten, to…

Penggunaan dua bahasa secara bergantian dan berselang-seling juga menunjukkan upaya untuk berlaku sopan bagi kedua belah pihak. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi tekanan mengancam muka bila tidak diganti dengan bahasa kromo. Penggunaan bahasa kromo ini juga bermaksud untuk menghargai mitra wicaranya. Walaupun bahasa kromo sendiri mempunyai beberapa tingkatan, yang dimulai dari ngoko, kromo madya, dan kromo inggil. Semakin tinggi tingkatannya, semakin tinggi senioritas dan status sosialnya, semakin tinggi penghargaan yang ditimbulkan karena penggunaannya. 

Dengan dimulainya pertanyaan ‘saking pundi?’ berarti bahwa dialog antara pewicara dan mitra wicaranya dapat berlanjut menjadi semakin bermakna karena kedua belah pihak sudah memahami mengenai mitra wicaranya melalui sinyal-sinyal yang disampaikan. Sehingga kedua belah pihak menerapkan prinsip kesantunan maksim kecocokan untuk melanjutkan dialog yang sudah terjadi sebelumnya menjadi makin bermakna, akrab namun tetap saling menghargai. (***)

*Penulis adalah dosen Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Ketua Bidang Protokoler dan Kegiatan Ilmiah Perkumpulan Cendekiawan Bahasa dan Sastra (CEBASTRA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *