Buku: Jendela Dunia dan Tolok Ukur Peradaban

Oleh: Dr. Hernani Sirikit

Semoga masih relevan membincang Kartini di awal bulan Mei. Bila kita berbicara tentang literasi, kemudian buku, mengapa kita dengan mudah menghubungkannya dengan Kartini? Perjuangan Kartini bukan hanya perjuangan kaum perempuan, melainkan perjuangan sebuah bangsa yang sedang terjajah. Perjuangan Kartini bukan sekadar bagaimana anak-anak perempuan bisa sekolah, tetapi bagaimana agar orang menulis.

Habis Gelap Terbitlah Terang, kumpulan surat-surat Kartini kepada para sahabatnya, merupakan catatan harian seorang gadis muda, sekaligus catatan sejarah Indonesia (khususnya Jawa) pada masa itu.

Di masa sekarang, kita tak lagi menulis dan menerima surat. Mungkin para remaja juga tak lagi mempunya buku catatan harian. Mereka menuliskan pengalaman dan perasaan mereka dalam Twitter, Facebook, blog, Instagram, WAG, dan berbagai saluran media sosial lainnya.

Sebagai pendiri dan pendamping para pembelajar di di Sirikit School of Writing, saya menghadapi tantangan yang luar biasa berat.

  • Pertama, menggugah kesadaran masyarakat bahwa menulis itu penting
  • kedua, mendorong setiap orang untuk memiliki buku catatan harian atau jurnal. Meskipun tersendat-sendat, SSW terus berusaha meyakinkan bahwa “everybody has a story to tell”, setiap orang pasti punya cerita.

Baca Juga: Internalisasi Nilai-nilai Patrap Triloka Ki Hajar Dewantara

Cerita yang dikisahkan secara lesan akan mudah terlupa, sedangkan yang tertulis akan menjadi dokumen sejarah, menjadi ‘legacy’ (warisan) bagi anak cucu.

Keyakinan yang lain adalah bahwa pada suatu ketika, setiap orang harus menulis. Bukan hanya para wartawan dan pengarang yang harus menulis.

Para seniman periklanan, profesional kehumasan, aktivis LSM, politikus, guru, dosen, mahasiswa, juga pada suatu ketika harus menulis. Bahkan para pengusaha perlu menuliskan kisahnya dalam membangun usaha: jatuh bangunnya, sukses dan gagalnya, maju mundurnya.

Bagaimana membangun semangat dan meraih puncak. Atau, bagaimana tetap tegar dalam kejatuhan. Semua kisah itu memiliki hikmah yang dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi orang lain.

Baca Juga: Link and Match antara Pendidikan Tinggi dengan Mitra melalui Program KSKI – MBKM

Bila Kartini rajin menulis dengan pena dan tinta di atas berlembar-lembar kertas, anak-anak muda sekarang –seusia Kartini pada waktu itu- mengetik status di berbagai akun media sosial.

Tidak apa-apa, zaman berubah, teknologi makin maju, medium berubah mengikutinya. Mustahil mengharapkan orang menulis dengan tinta dan kertas atau dengan kapur dan sabak di zaman komputer dan internet sekarang ini.

Teknologi dan mediumnya bisa berbeda, tetapi yang penting bagaimana semangat berbagi pengalaman dan perasaan dituliskan. Tentu itu tak dapat dilakukan dengan sekadar menulis satu atau setengah kalimat status.

Mengapa tidak menuliskan 2 atau 3 alinea? Dalam setahun, catatan di Facebook atau blog akan memiliki benang merah dan bisa menjadi sebuah cerita panjang. Ini bisa menjadi bekal renungan evaluasi akhir tahun, kumpulan kisah berhikmah, bahkan novel fiksi.

Syukurlah kita tidak hidup di zaman ketika buku-buku dibakar dan para penulis dipenjarakan.   Ada sebuah film yang meninggalkan kesan mendalam pada  diri saya. Judulnya Fahrenheit  451.

Penjelasan dari judul ini adalah bahwa kertas/buku terbakar pada suhu 451 derajad fahrenheit atau sekitar 200 derajad celcius. Film ini amat mencekam, karena bercerita tentang sebuah rezim anti-buku.

Semoga rezim dimana kita hidup sekarang tidak anti buku, meskipun faktanya, jika kau memiliki banyak koleksi buku keIslaman di kamar indekostmu, kau rawan digerebeg dengan dugaan terorisme.

Nah, dapatkah Anda membayangkan hidup seperti para karakter di film itu? Negara memiliki pasukan Fire Men, yang maknanya bukan pasukan pemadam kebakaran, melainkan pasukan pembawa api, pencipta kebakaran.

Kalau ada mobil firemen memasuki kompleks perumahan, para penduduk bertanya-tanya, rumah siapa yang akan dibakar hari ini, karena ketahuan pemiliknya menyimpan buku-buku.

Penduduk menyembunyikan buku di bawah tempat tidur, di dalam televisi palsu, di lemari es, di tempat cucian, di toaster pembuat roti bakar, di manapun.

Tetapi pasukan firemen selalu berhasil menemukannya, menimbun buku-buku itu di halaman atau di ruang tamu, lalu menyemprotnya dengan api. Memusnahkannya.

Negara menganggap buku sebagai racun. Buku novel membuat orang depresi, tidak bahagia. Buku non-fiksi dianggap menghasut. Pembaca buku dicap sebagai anti-sosial. Penduduk dicekoki program televisi yang skenarionya disusun oleh negara.

Seorang fireman kemudian sadar telah melakukan hal yang amat buruk. Seorang perempuan yang tak mau pergi ketika perpustakaannya dibakar, kemudian  ikut terbakar di antara tumpukan buku-bukunya, menyadarkannya. Fireman yang telah sadar ini kemudian melarikan diri ke sebuah komunitas buku di luar perbatasan, di tengah hutan.

Orang-orang yang lari dari penjara (dihukum karena membaca atau menyimpan buku), atau yang sudah dilepaskan, atau yang tak tahan hidup tanpa buku, mengungsi di wilayah hutan ini.

Di sini juga tidak ada buku, karena buku bisa dibakar bila ditemukan, namun setiap orang adalah buku. Mereka memperkenalkan diri sebagai buku. Misalnya, “Saya buku Filsafat & Etika karya Aristoteles”, “Saya Othello karya Shakespeare”.

Ada lelaki kembar memperkenalkan diri sebagai “Kami Pride & Prejudice karya Jane Austin. Volume 1 dan Volume 2”. Setiap orang adalah satu buku, yang dihafal di luar kepala.

Bila seseorang hendak meninggal, dia mewariskan “isi bukunya” ke anak-anaknya untuk diteruskan dari generasi ke generasi. Kata kepala komunitas buku: “Negara tak akan dapat menemukan buku di wilayah ini, buku-buku itu ada di sini,” sambil menunjuk otaknya.

Syukurlah itu cuma fiksi. Hikmah dari film yang mencekam itu adalah bahwa buku dan kegiatan literasi mencerminkan tingkat peradaban manusia.

Kertinggalan Indonesia dalam jumlah karya penerbitan buku maupun jurnal akademik, sangat memprihatinkan dan harus segera dikejar.

Menyuburkan kegiatan literasi di sekolah-sekolah, kampus-kampus, kelurahan-kelurahan, sangat disarankan, untuk menjaga peradaban kita sebagai manusia Indonesia.

Untuk menghormati upaya Kartini yang menyuruh anak-anak desa belajar membaca dan menulis, lebih dari satu abad yang lalu.

Buku adalah jendela dunia. Dengan membuka halaman-halaman buku, seseorang melanglang buana, menyerap berbagai ilmu pengetahuan, sebagai bekalnya dalam mengarungi kehidupan.

*Penulis Buku: Jendela Dunia dan Tolok Ukur Peradaban adalah anggota Cebastra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *