Dari Pagar Sampai ke Kamar

Oleh: Dr. Wadji, M.Pd.

Sudah tidak ingat lagi tepatnya kapan saya tidak berlangganan koran. Yang jelas sejak maraknya media online, saya sudah jarang sekali menyentuh media cetak. Era digital sudah menggeser masa kejayaan media cetak. Kini, semua ada di dalam genggaman kita.

Dulu, banyak orang ke mana-mana menenteng koran, agar tidak ketinggalan berita. Satu eksemplar koran memang tidak bisa selesai dibaca dalam sekali duduk.

Dulu berita datang diantar sampai pagar, sekarang malah sudah sampai ke kamar. Di mana pun kita berada, sepanjang ada jaringan internet, kita bisa mengikuti perkembangan dunia terkini.

Sekarang, tidak hanya informasi dalam bentuk tulisan saja yang bisa kita akses melalui posel. Berita-berita yang disajikan dalam bentuk suara dan gambar video pun juga ada di genggaman kita.

Baca Juga: Buku: Jendela Dunia dan Tolok Ukur Peradaban

Setelah berita ada di genggaman kita, saya merasakan bahwa dulu ketika saya membaca koran di tempat umum, seperti di terminal bus atau stasiun kereta api saya telah melakukan tindakan yang kurang sopan.

Membuka lembaran koran yang selebar itu rasanya cukup mengganggu orang yang duduk di sebelah kita. Makanya beberapa koran akhirnya memperkecil ukuran kertasnya. Selain itu, dengan ukuran yang tak terlalu lebar, dimasukkan ke dalam tas.

Baca Juga: Internalisasi Nilai-nilai Patrap Triloka Ki Hajar Dewantara

Bagi beberapa media masa, saya susah untuk menyebutnya satu persatu, edisi cetak tinggallah kenangan. Jika dulu ukuran sebuah media masa dilihat dari jumlah oplahnya, sekarang di zaman digital dilihat dari berapa banyak viewer-nya.

Jika dulu pelanggan koran jelas orangnya, saat ini viewer-nya bak siluman. Mereka juga sangat mudah sekali pindah ke lain hati. Persaingan media digital tak bisa dihindari. Inovasi sangat cepat. Siapa yang kreatif akan dapat merebut pasar. Siapa yang bertahan denga cara konvensional akan terlindas zaman. Itu hukum alam.

Baca Juga: Link and Match antara Pendidikan Tinggi dengan Mitra melalui Program KSKI – MBKM

Era digital tidak hanya mengancam media cetak, tetapi juga radio dan televisi analog. Beberapa di antaranya memang masih memiliki peminat yang cukup stabil. Saat ini informasi sudah menjadi kebutuhan utama.

Ponsel pintar menjadi media yang paling banyak digunakan. Dari benda ukuran saku ini semuanya bisa dilakukan.

Tidak hanya pembaca yang dimudahkan oleh teknologi, awak media pun juga dimanjakan dengannya. Wartawan tidak harus mondar-mandir ke kantor redaksi untuk sekadar mengirim berita.

Baca Juga: Restrukturisasi Organisasi Kementerian dan Lembaga Negara pada Reshuffle Kabinet

Dulu kita tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Waktu itu seorang wartawan setelah selesai melakukan investigasi harus melakukan perjalanan ke kantor untuk menulis dan setor berita.

Saat ini redaktur dan editor pun juga bisa melakukan pekerjaan di mana saja. Di ponsel juga ada fasilitas editing. Penulis lepas juga dapat mengirimkan tulisannya kapan saja, juga dari ponsel.

Jeda waktu antara pengiriman, editing sampai penerbitan tidak butuh waktu yang sangat lama. Kita juga segera bisa mengetahui apakah tulisan kita layak muat atau tidak. Jawabannya tidak perlu waktu berhari-hari.

Bisa dibayangkan, hal tersebut sangat berbeda ketika dulu di era sebelum teknologi komputer dan internet semaju saat ini. Saat kita punya ide, kita mengetiknya di mesin ketik manual. Perlu waktu yang cukup panjang. Memerbaiki kesalahan tidak secepat ketika kita menggunakan komputer.

Kesalahan kecil bisa diperbaiki dengan penghapus, namun kesalahan besar harus mengulang lagi dengan mengganti kertas yang baru, yang secara otomatis mengetik lagi. Sesampai di redaksi, editor akan mengoreksi dan membuat coretan terhadap artikel yang kita kirim, kemudian mereka mengetik ulang.

Bisa dibayangkan perlu waktu berapa lama agar tulisan kita sampai diterbitkan. Jarang sekali redaktur yang memberitahukan apakah tulisan kita akan dimuat atau tidak. Beberapa di antaranya ada yang baik hati. Jika tulisan ditolak ada pengembalian via pos, lengkap dengan catatan komentar dan saran.

Dulu tidak tiap kota memiliki media masa. Hanya kota-kota besar dengan jumlah penduduk yang besar terletak penerbit media cerak. Di kota-kota kecil mungkin kemungkinan besar media cetak hanya dimiliki oleh komunitas.

Oplahnya pun juga  terbatas, karena diterbitkan untuk kalangan sendiri. Di era digital, satu kota bisa memiliki ratusan media online. Segmen yang dibidik pun bermacam-macam. Namun dari sekian banyak media, kebanyakan membidik pasar yang sama.

Cerita masa lalu tersebut barangkali amat perlu sebagai nostalgia bagi orang-orang seusia saya, dan mengalami kenangan yang hampir sama pula. Bagi generasi yang lahir setelah era 90-an, hal tersebut tak pernah mereka alami. Dalam setiap zaman, pasti ada peristiwa unik, yang mungkin sayang bila tidak dibagikan.

Sekarang, di dunia media masa, Nusadaily.com bukanlah nama asing. Sekali pun baru hadir setahun yang lalu, namun media online ini telah merebut perhatian publik. Nusadaily.com tidak hanya dikunjungi oleh pembaca tanah air saja, namun telah diakses oleh pelbagai bangsa di muka bumi ini.

Nusadaily.com sebagai pendatang baru di dunia media telah melakukan gebrakan yang luar biasa. Dengan platform sebagai media masa yang berbasis berita, Nusadaily.com berani terbit dengan empat bahasa sekaligus. Saya bangga, karena sejak awal kelahirannya saya sudah menjadi penulis lepas di media ini.

Tiga bulan menjelang hari jadinya yang pertama, Perkumpulan Cendekiawan Bahasa dan Sastra (Cebastra) mendapatkan kesempatan untuk bekerjasama dengan Nusadaily.com.

Dalam periode waktu tersebut, telah ada tidak kurang 60 tulisan dari anggota Cebastra yang dimuat di Nusadaily.com. Tulisan itu meliputi puisi, cerpen, dan artikel opini, yang utamanya dalam bidang bahasa dan sastra.

Ketika kami akan memutuskan untuk bekerjasama, kami sama sekali tidak pernah ragu dengan media ini. Saya melihat, Nusadaily.com dikelola oleh orang-orang yang memiliki pengalaman yang luas dalam bidang jurnalistik. Beberapa orang yang saya kenal, mereka memiliki integritas yang sangat tinggi.

Atas perannya turut membantu menyebarkan informasi tentang kebahasaan dan kesastraan, kami keluarga besar Cebastra menyampaikan ucapan terima ksih yang tak terhingga. Nusadaily.com dan Cebastra memiliki misi yang sama, ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dengan terbit dalam empat bahasa, Indonesia, Inggris, Arab dan Cina, program-program kami telah dikenal oleh masyarakat dalam lingkup yang sangat luas. Selamat ulang tahun yang pertama kepada Nusadaily.com.

Semoga Nusadaily.com makin sukses dalam beramal-bakti dengan jalan menyebarkan informasi yang mendidik dan mencerahkan. Nusadaily.com akan selalu menyuarakan kebenaran, sesuai dengan moto media ini Tell the Truth.

Penulis adalah dosen Universitas PGRI Kanjuruhan Malang, dan Wakil Ketua 1 Bidang Kerjasama Perkumpulan Cendekiawan Bahasa dan Sastra (Cebastra).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *