Antara Corona, Lebaran, dan Surat Jalan

Oleh: Aris Wuryantoro

Lebih dari setahun lamanya wabah Corona Virus atau yang lebih dikenal dengan COVID 19 melanda bumi ini bahkan sudah menjadi sebuah pandemi. Seluruh belahan bumi ini terimbas oleh ulah Covid 19, begitu juga Indonesia. Hampir semua sendi kehidupan yang sudah bertahun-tahun berjalan baik, lancar dan mapan berhenti seketika. Sektor ekonomi, infrastruktur, perbankan, pendidikan, transportasi, dan sebagainya menjadi hancur lebur dan luluh lantak. Pusat-pusat perbelanjaan, seperti super market, mal, bahkan pasar tradisional pun berhenti beropersi.

Banyak sekolah, gedung perkantoran, sampai tempat ibadah ikut ditutup pula. Transportasi lumpuh, perusahaan jasa angkutan baik angkutan darat, laut dan perusahaan penerbangan pada gulung tikar karena tidak ada penumpangnya. Hanya sektor kesehatan dan bidang-bidang berbasis teknologi informasi yang mampu bertahan di tengah badai keganasan pandemi  Covid 19 ini. Sampai saat ini, per tanggal 4 Juni 2021,  total kumulatif kasus terkonfirmasi positif corona telah mencapai angka 1.843.612 pasien, angka kesembuhan mencapai 1.697.543 orang, dan pasien meninggal sebesar 51.296 orang. (TribunJogja.com).

BACA JUGA: Berguru pada Coronavirus

Hal ini membuat pemerintah dituntut untuk berpikir dan bekerja keras dalam memutus rantai penyebaran pandemi ini, antara lain dengan kebijakan work from home, social distancing, pembelajaran sistem daring (dalam jaringan), pelarangan kerumunan, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan penyekatan. Pada pertengahan Februari 2021, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang disebut dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro untuk Pulau Jawa dan Bali sebagai upaya agar Indonesia bebas COVID-19, yakni berupa pengetatatn kegiatan masyarakat sebagai upaya pengendalian penularan di tingkat terkecil (kelurahan/desa). Beberapa kebijakan tersebut sengaja dikeluarkan oleh pemerintah guna mencegah penyebaran wabah Covid 19 yang semakin lama semakin banyak memakan korban.

Sudah dua Lebaran, Lebaran tahun 2020/Idul Fitri 1441 H dan Lebaran tahun 2021/Idul Fitri 1442 H), pemerintah mengeluarkan larangan mudik bagi para pekerja, ASN, TNI dan POLRI. Lebaran adalah sebutan untuk perayaan Hari Raya Idul Fitri. Lebaran berasal dari bahasa Jawa, lebar, yang berarti habis, hilang  atau selesai. Dalam hal ini yang dimaksud dengan lebaran adalah habis, hilang dan usainya dosa-dosa kita apa bila kita telah saling bermaafan atau halal bihalal dengan cara saling bersalaman, seperti anak dengan orang tuanya, warga satu dengan warga lainnya, antara rekan kerja dan sebagainya.  Biasanya setelah selesai sholat Iedul Fitri, masyarakat secara berbondong-bondong untuk berkunjung ke tetangga dan sanak saudara untuk bersilaturahmi dengan cara bersalam-salaman guna meminta maaf agar dapat kembali fitri/suci.

BACA JUGA: Emansipasi yang Menginspirasi

Lebaran bagi masyarakat Jawa khususnya merupakan perayaan yang disambut dengan sangat meriah dan sukacita, dari masyarakat biasa sampai ke pejabat, dari kalangan elit (kalangan atas/orang kaya) sampai kalangan ekonomi sulit (kalangan bawah/tidak mampu). Berbagai pernak-pernik dipersiapkan oleh masyarakat kita dalam menyambut Lebaran ini, seperti kupat (ketupat), opor ayam, panganan bahkan sampai membersihkan peralatan rumah dan tembok rumah (melabur/mengecat rumah). Kupat dan laburan tidak dapat dilepaskan dari perayaan Lebaran ini karena dua istilah ini merupakan sasmita atau pesan yang disimbolkan.

Kupat adalah kata yang berasal dari ”ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan kita. Kupat adalah makanan dengan bahan dasar dari beras yang dimasukkan ke dalam selongsong kupat yang direbus hingga matang. Selongsong kupat berupa anyaman dari janur kuning, daun kelapa yang masih muda dan berwarna kuning yang berada di pucuk pohon kelapa. 

Janur kuning sendiri merupakan simbol dari “sejane nur kanthi lelaku kang bening” yaitukeinginan dari cahaya hati (hati nurani) dengan perilaku yang bening (ikhlas) tanpa meminta imbalan sedikit pun. Sedangkan selongsong kupat yang berupa anyaman menyimbolkan suatu jalinan tali silaturahmi antara anak dengan orang tua atau dari warga satu dengan warga lainnya.

Sementara laburan adalah mengecat rumah dengan menggunakan bahan kapur yang umumnya berwarna putih bersih. Hal ini menyimbolkan hati sang pemilik rumah yang putih bersih. Pendek kata bahwa hendaknya Lebaran ini kita sambut dengan sukacita dengan hati yang bersih, perilaku yang bening melalui silaturahmi agar makna dari Idul Fitri (kembali suci) dapat tercapai.

Bila bicara Lebaran tidak terlepas dari bicara mudik. Mudik atau pulang kampung adalah istilah yang diberikan untuk warga kampung/kota kecil yang merantau ke kota-kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya. Mereka pergi merantau ke kota besar dengan berbagai urusan, ada yang bekerja sebagai pegawai negeri, sekolah/kuliah, karyawan kantor perusahaan swasta, buruh pabrik, pedagang sampai sektor informal lainnya. Para perantau ini kebanyakan jarang pulang kampung, bahkan banyak pula mereka yang pulang kampung hanya sekali dalam setahun, yakni saat liburan pada Hari Raya Idul Fitri. 

Momen Lebaran inilah yang dinanti-nantikan oleh para perantau untuk mudik agar dapat berkumpul dengan keluarga, sanak saudara dan tetangga. Mereka rela berpanas-panasan, berdesak-desakan untuk dapat sampai daerah asalnya masing-masing. Dalam mudik ini, para pemudik menggunakan moda transportasi yang sangat beragam, seperti sepeda motor, mobil pribadi, bus, kereta apai dan sebagainya. 

Lebaran di era 2000an, pemandangan  para pemudik berjubel naik kereta api di setiap rangkaian gerbong bahkan tak jarang pemudik naik di atap gerbong menjadi suatu pemandangan yang umum bahkan menjadi suatu tontonan tersendiri bagi masyarakat yang dilalui rangkaian kereta api tersebut. Masa-masa menjelang Lebaran (H-) para pemudik memadati semua jalan untuk mudik ke kampung halaman (kota asal) yang dikenal dengan arus mudik.

Sebaliknya, pada masa setelah Lebaran (H+)  semua jalanan dipadati oleh para pemudik yang akan kembali ke kota-kota besar di mana mereka merantau untuk mengadu nasib, atau lebih dikenal dengan arus balik. Jalur-jalur utama, jalan tol dan jalan raya lainnya penuh sesak dengan berbagai jenis kendaraan, seperti sepeda motor, mobil pribadi, angkutan umum dan bus. Biasanya TVRI dan televisi-televisi swasta nasional lainnya menyiarkan secara langsung laporan arus mudik dan balik dengan programnya masing-masing. Program arus mudik dan balik ini menjadi suatu hiburan tersendiri bagi pemirsanya, termasuk si penulis.

Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) adalah suatu jenis surat yang dikeluarkan oleh suatu instansi tertentu yang diberikan oleh pimpinan kepada bawahannya guna melakukan suatu perjalanan dinas  yang berkaitan dengan kepentingan instansi tersebut dengan jangka waktu tertentu, seperti perjalanan dinas untuk mengikuti pelatihan, seminar, rapat dinas dan lain sebagainya. Jenis surat ini di kalangan masyarakat lebih dikenal dengan surat jalan.

Namun bila ditilik dari kedinasannya pastinya ada perbedaan antara SPPD dengan Surat Izin Perjalanan biasa. Surat jalan ini biasanya dikeluarkan oleh suatu instansi atau badan (misalnya kelurahan) yang diberikan oleh Kepala Desa/Lurah kepada warganya sebagai pernyataan kebenaran warga setempat untuk melakukan suatu perjalanan ke suatu tempat tertentu dengan keperluan tertentu pula.  

Pada Lebaran tahun ini, Surat Izin Perjalanan menjadi suatu benda yang sangat dicari-cari dan dibutuhkan oleh banyak orang karena kegunaannya yang sangat penting. Hal ini dikarenakan pemerintah mengeluarkan surat keputusan terkait pelarangan bepergian menjelang dan sesudah Lebaran (mudik dan balik) tepatnya tanggal 6 – 18 Mei 2021 yang sebagian daerah ada yang diperpanjang hingga 24 Mei 2021.

BACA JUGA: Internalisasi Nilai-nilai Patrap Triloka Ki Hajar Dewantara

Pada masa pelarangan mudik Lebaran tahun ini, di stasiun kereta api, misalnya,  calon penumpang kereta diwajibkan memiliki surat jalan atau keterangan jalan untuk dapat melakukan perjalanannya. Bilamana penumpang tersebut tidak dapat menunjukkan surat jalan, maka calon penumpang dapat membatalkan perjalanan atau menunda perjalanannya untuk memenuhi surat jalan tersebut.

Benar-benar merepotkan untuk melkukan perjalanan pada masa-masa mudik atau balik Lebaran di tahun ini. Penulis jadi teringat pesan almarhum ibu, bahwasannya “Di dunia ini serba mungkin”. Dahulu penutupan pantai (tempat rekreasi) pada masa Lebaran adalah sebagai lelucon belaka, namun saat ini jadi kenyataan.

Ungkapan, “Tidak jadi Lebaran” sudah menjadi kenyataan juga. Yang paling menjadi pertanyaan penulis khususnya dan kita semua adalah bahwa Corona, Lebaran dan Surat Jalan yang semula bukan suatu hal yang penting di masa-masa Lebaran telah menjadi hal yang sangat berkaitan dan penting. Semoga Corona lekas hilang dari bumi ini sehingga Lebaran yang dulu, mudik dan balik, dapat terulang kembali, tidak hanya menjadi kenangan belaka. Semoga…….

Madiun, medio akhir Syawal 1442 H.

*)Penulis adalah dosen di Universitas PGRI Madiun dan anggota Cebastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *