Makna Kreativitas dalam Sajak Muhammad Iqbal

Oleh: Dr. M. Mudlofar

Muhammad Iqbal lahir di Sialkot, Punjab pada 22 Pebruari 1873 M.  Pendidikan dasarnya di Scottish Mission School pada tahun 1895.

Setelah itu, ia melanjutkan studinya ke Lahore pada Government College,  lulus pada tahun 1897. Gelar M.A. dalam bidang filsafat diraihnya pada tahun 1899.

Aktivitasnya ialah sebagai penulis produktif dan menjadi dosen di perguruan tinggi pemerintah setempat, Government College.

Pada masa itu, selain kegiatan ilmu pengetahuan umum, perkembangan ilmu sastra begitu pesat. hampir seluruh anak benua India banyak didirikan perkumpulan sastra, sanggar atau teater.

Baca Juga: PDIP: Semoga Waisak Bawa Kedamaian Bagi Umat Manusia

Acapkali diadakan pertunjukan-pertunjukan dan simposium-simposium mengenai bahasa dan sastra Urdu, khususnya dalam ilmu persajakan atau puisi. Hal itu, turut mewarnai pikiran-pikiran Muhammad Iqbal.

Dalam sebuah kesempatan di sebuah organisasi sastra terkemuka di Lahore yang beranggotakan tokoh-tokoh sastra terkemuka, Muhammad Iqbal mendeklamasikan sajaknya yang terkenal bertajuk Himalaya.

Penampilannya dan sajak yang dibawakannya kala itu sangat memikat dan isinya dianggap mewakili pemikiran baru yang berbeda dengan yang sudah lazim.

Sajaknya yang berisi pemikiran baru itu diadopsi sebagai materi pertumbuhan bahasa Persia klasik yang penuh semangat baru.

Baca Juga: Gus AMI: Masyarakat Perkokoh Kemanusiaan dan Persaudaraan

Oleh karenanya, saat itu ia dapat memikat perhatian para hadirin  sehingga mendapat sambutan yang luar biasa. Sajak-saja Muhammad Iqbal yang dibacakan itu kemudian berulang-ulang diminta, untuk dimuat di majalah Machan, sebuah majalah yang bergengsi yang berbahasa Urdu. Melalui majalah tersebut nama Muhammad Iqbal menjadi viral. 

Kehidupannya memang penuh kontroversi, akan tetapi ide-idenya tetap dipakai oleh kebanyakan orang.

Pikiran-pikiran Muhammad Iqbal itu diungkapkannya melalui bait-bait sajak, sehingga kesan estetika sangat mewarnai dan berbaur dengan kandungan makna yang amat dalam.

Baca Juga: Memacu Kreativitas Menjelang Masuk Sekolah

Berikut salah satu sajak Muhammad Iqbal yang viral saat itu:

Segala sesuatu dipenuhi luapan menyatakan diri
Setiap atom merupakan tunas kesabaran
Hidup tanpa gejolak meramalkan kematian
Dengan menyempurnakan diri
Insan mengarahkan pandang kepada Tuhan
Kekuatan individualitas mengubah biji sawi setinggi gunung
Kelemahannya menciutkan gunung sekecil biji sawi
Engkaulah semata
Realitas di alam semesta
Selain engkau hanyalah maya belaka.

Dalam sajak itu, Muhammad Iqbal berpendapat bahwa /luapan menyatakan diri/ adalah hakikat manusia yang mengusung ego yang  terpusat pada dirinya manusia. Bahkan /setiap atom/ pun memiliki tunasya sendiri yang akan memunculkan egonya sendiri.

Dalam baris berikutnya Iqbal secara tegas menyataanbahwa /hidup tanpa  gejolak akan meramalkan kematian/. /Gejolak / adalah substansi kehidupan yang dinamis yang terartikulasi dalam bentuk kreativitas.

Baca Juga: Ergonomi dan Pubing dalam Berliterasi, Sehat Membaca Menuju Masyarakat Cerdas

Inilah hidup yang ideal yang bagi Muhammad Iqbal yang akan dapat menyongsong kesempurnaaan. Sebab, dengan begitu akan didapat timbangan yang akan menempatkan posisi manusia di hadapan Tuhannya.

Manusia yang hidupnya diisi dengan kreativitas yang bermakna akan menggiring manusia itu untuk dapat dinilai oleh Tuhan.

Sekecil apapun aktivitas dan kreativitas yang dimunculkan dan dihasilkannya akan tetap dilihat dan dinilai, sebab bukan kuantitas yang dipandang oleh Tuhan akan tetapi bukti kehidupan yang merujuk kualitas.

Baca Juga: Hal Menarik Terkait Tidak Diundangnya Ganjar Pranowo dalam Pengarahan Pilpres di Jateng

Bagi Muhammad Iqbal, hal itu sejalan dengan pesan moral Sayyid Zaenal Abidin bin Husen (cicit Rasulullah) yang mewasiatkan bahwa:

  • (a) janganlah kau remehkan amal yang kecil
  • (b) janganlah kau remehkan dosa kecil
  • (c) janganlah kau remehkan orang kecil. Sebab, bisa jadi yang kecil itu akan menorehkan nilai yang sangat besar di hadapan  Sang Khalik.

Karena itulah Muhammad Iqbal menyatakan /kelemahannya/ manusia ialah /menciutkan gunung sekecil biji sawi/.

Banyak manusia yang memandang kehidupan ini dengan sebelah mata, tanpa mengisinya dengan sesuatu yang bermakna.

Padahal sejatinya, /engkaulah semata/, manusia adalah pengukir bagi dirinya dan penentu warna di alam semesta.

Baca Juga: Inul Daratista Naik Pitam! Semprot Tingkah Neno Warisman

Di sinilah posisi manusia. Ia ditentukan oleh dirinya sendiri dalam bentuk kreativitas yang nyata dalam kehidupan.

Kreativitas itulah yang membawa makna esistensi manusia sebagai bagian dari alam semesta.

Tanpa kretativitas maka manusia hanya /maya belaka/, adanya sama dengan tidak ada (wujuduhu kaadamihi), demikian pepatah Arab. Wallahu a’lam.

*Penulis adalah dosen Universitas Qomaruddin Gresik, dan Wakil Ketua 1 Bidang Badan Otonom DPP Cebastra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *