Membaca Bahasa Hegemoni Suami terhadap Istri dalam Budaya Patriaki

Sekelumit kisah nyata yang masih terjadi di masyarakat kita

Oleh: Muh. Fajar

Tulisan ini bisa dikatakan penyelia dari tulisan tulisan saya sebelumnya, artinya kurang ada hubungan dengan tulisan saya sebelumnya yang terus bersambung dengan topik bahasa bentuk bahasa marah yang beretika.

Sebetulnya dalam kesempatan ini, saya akan meneruskan tulisan sambungan saya tentang bentuk bahasa marah yang beretika. Tetapi karena ada dialektika yang menarik selama perjalanan di kendaraan dari Jombang menuju Surabaya. Maka saya berkeputusan untuk menunda sementara tulisan bersambung saya tentang bentuk bahasa marah yang beretika. Yang akan dilanjutkan ke tema bentuk bahasa marah yang tidak beretika.

Dialektika yang menarik tersebut merupakan dialog antara beberapa pria yang kesemuanya sudah beristri yang duduk di dalam sebuah minibus dalam perjalanan dari Jombang ke Surabaya.

Baca Juga: Makna Kreativitas dalam Sajak Muhammad Iqbal

Beberapa pria tersebut pada awalnya ngomong ngalor ngidul tanpa arah tentang hubungan masing masing dengan istrinya sendiri sendiri. Tapi ditengah-tengah ngobrol, ada seorang pria nyeletuk tentang hubungan dengan istrinya. Bahwa istri yang cerdas adalah istri yang tanpa disuruh oleh suami, akan menawarkan kepada suaminya bilamana setelah suami selesai makan. Maka si istri menawarkan kepada pria tersebut untuk mencucikan piring suaminya.

Dialog tersebut  terekam oleh memori saya sebagai berikut:

Pria 1   : wah….istriku itu lho…cuerdas !!!
Pria 2   : loh koq bisa..sampy mengatakan kalau istri sampy cerdas…pasti ada alasannya..

Pria 1   : Lha gimana nggak cerdas…lha setiap aku selesai makan..pasti  dia menghapiriku untuk mengambil piringku untuk dicucikan..
Pria 2   : loh…koq bisa begitu…

Pria 1   : iya…karena sebelum sebelumnya…aku ngomong ke istriku..bahwa menurut ajaran agama…kalau istri mau dianggap sebagai istri yang cerdas..maka istri seharusnya menawarkan dan mengambil piring suami setelah suami selesai makan untuk dibawa ke dapur untuk dicucikan…
Pria 2   : weleh…. weleh….enak tenan sampy yo….

Dari isi dialog tersebut, ada yang menarik untuk didiskusikan adanya dominasi nyata seorang suami kepada istrinya dengan mengambil atau memanipulasi dalil dalil keagamaan untuk membenarkan atau dianggap benar pendapat si suaimi tersebut.

Baca Juga: Ergonomi dan Pubing dalam Berliterasi, Sehat Membaca Menuju Masyarakat Cerdas

Padahal, kalau ditelaah dari sisi manapun, dalil yang dipakai oleh suami tadi tidak bisa ditemukan dalam dalil keagamaan, cuman si suami tadi dengan cerdasnya mengambil budaya patriaki yang masih berlaku di masyrakat kemudian memanipulasi dalil dalil keagamaan seolah olah merupakan dalil keagamaan yang benar  untuk membenarkan pendapatnya. 

Dengan demikian, jelaslah bahwa suami tersebut telah melakukan praktek kebahasaan yang mencerminkan adanya dominasi atau hegemoni suami tehadap istri atau kalau mengambil istilah kerennya dalam diplomasi bahwa suami telah melakukan soft power atau hegemoni.

Kenapa demikian, karena suami dengan cerdasrnya telah mempengaruhi pikiran si istrinya untuk melakkan apa yang diinginkan oleh si suami dengan cara yang halus lewat manipulasi kata kata. Karena peristiwa ini terjadi di Jawa, maka diskusi kita bisa dihubungkan dengan budaya patriaki yang sebagian masyarakat Jawa masih melakukan praktek praktek seperti ini.

Baca Juga: Memacu Kreativitas Menjelang Masuk Sekolah

Berbicara masalah patriaki, sebaiknya kita kutip makna dari Online Dictionary bahwa system patriarchy adalah  “a system of society or government in which the father or eldest male is head of the family and descent is traced through the male line. a system of society or government in which men hold the power and women are largely excluded from it.”

Atau bisa diterjemahkan sebagai berikut “sistem masyarakat atau pemerintahan di mana ayah atau laki-laki tertua adalah kepala keluarga dan keturunan dilacak melalui garis laki-laki. Sistem masyarakat atau pemerintahan di mana laki-laki memegang kekuasaan dan perempuan sebagian besar dikecualikan darinya”.

Definisi tersebut kemudian diperjelas oleh Rokhmansyah yang mengatakan bahwa Patriarki, berarti struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral, dan segala-galanya.

Baca Juga: Apa yang Harus Diketahui dalam Bermedsos dengan Facebook?

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa sistem patriarki membuat seorang laki laki bisa mendominasi hubungan antara laki laki dan perempuan sehingga akan terjadi kesenjangan dan ketidakadilan gender yang mempengaruhi hingga ke berbagai aspek kegiatan manusia.

Suami berperan sebagai tokoh sentral dalam hubungan keluarga terhadap istri. Sedangkan si istri hanya memiliki sedikit pengaruh atau bisa dikatakan tidak memiliki hak pada wilayah-wilayah umum dalam kehidupan keluarga atau institusi pernikahan. Hal ini menyebabkan si istri diletakkan pada posisi subordinat atau inferior.

Pembatasan-pembatasan peran si istri oleh budaya patriarki membuat si istri menjadi terbelenggu dan mendapatkan perlakuan diskriminasi. Ketidaksetaraan antara peran suami dan istri ini menjadi salah satu hambatan struktural yang menyebabkan individu dalam masyarakat tidak memiliki akses yang sama atau bisa dikatakan termarjinalkan.

Hal ini terjadi karena aspek historis dan budaya menempatkan perempuan sebagai pihak yang ditundukkan melalui hubungan kekuasaan bersifat patriarkat sejak zaman lampau sekali.

Dengan demikian, dialog tersebut sangat jelas menunjukkan adanya perilaku dominasi dari pihak suami  kepada istrinya dimana suami telah memanipulasi dalil dalil keagamaan bagaimana seharusnya memposisikan diri dalah kehidupan rumah tangga.

Hal ini terjadi karena budaya patriarki telah menciptakan sebuah konstruksi sosial bahwa si istri atau perempuan adalah pihak yang lemah. Dalam relasinya dengan laki-laki, pemaknaan sosial dari perbedaan biologis tersebut menyebabkan memantapnya mitos, streotipe, aturan, praktik yang merendahkan perempuan dan memudahkan terjadinya kekerasan.

Kekerasan dapat berlangsung dalam keluarga dan relasi personal, bisa pula di tempat kerja atau melalui praktik-praktik budaya. Potret budaya bangsa Indonesia yang masih patriarki sangat tidak menguntungkan posisi seorang istri atau perempuan.

Sampai saat ini budaya patriarki masih langgeng berkembang di tatanan masyarakat Indonesia. Penyebabnya masih klasik, karena ranah seorang istri atau perempuan masih dianggap terlalu domestik.

Sehingga walaupun ada manipulasi dalil keagamaan untuk membenarkan atau seolah olah benar perkataan suami, maka manipulasi tersebut akan dianggap benar oleh sebagian masyarakat kita.

Akhirnya, semuanya dikembalikan ke pihak istri atau perempuan bagaimana bersikap tentang hal ini. Kalau si istri atau perempuan tersebut bersikap permisif, ya silahkan saja.

*Muh. Fajar adalah Dosen Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Jombang serta Pengurus DPP CEBASTRA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *