Senin, September 26, 2022

Cinta yang Mengendap Bersama Gerimis Sore Hari

Berita Khusus

Berita Lain

Dr. Andri Pitoyo, M.Pd.

Puisi-puisi: Dr. Andri Pitoyo, M.Pd,

Sore hari, gerimis tafakur pasrah kepada hujan
bersama warna kelam yang mengendap dalam gelas
jagat yang pulas dalam rinai waktu
mengabur perlahan  menjadi bayang-bayang
yang runduk tak kenal musim

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

wahai, apakah yang bisa tinggal
selain menara-menara rapuh
dalam curam tebing paling bangsat?

Di sini, sore hari bersama gerimis
yang perlahan pasrah jadi hujan
waktu perlahan mengental
seperti ampas kopi  tertinggal
dalam gelas yang kusam
terlelap bisingnya kemelut zaman

Baca Juga: Terdampak Pandemi, Pedangdut Magetan Jualan Pecel

Risalah Pohon

tulislah di batangku,
tentang musim-musim ingatan
yang selalu melahirkan musim semi
serupa rajah goreskanlah surat cintamu
pada coklat warna batangku
sampai menusuk kabiumku
kenangan untuk setia menghikmati rindu
seperti para nahkoda yang bersiap menggulung layar
ketika melihat dermaga melambaikan tangannya di ujung cakrawala

tulislah di batangku
semburat warna jejakmu
yang semakin berkilau disorot cahaya
agar kau bisa membedakan kilau cahaya dan kedipan mata

Baca Juga: ‘Terima Kasih dari Pejabat Negeri’

Perjalanan

Di atas roda pesawat aku terbungkuk-bungkuk menenun puisi
Menjerit jerit ke langit menjelma isyarat dunia lain yang gaib
Rahasia waktu yang meronta-ronta dalam mantel warna abu-abu
Serupa tangis bayi yang merindu cinta rahim ibu

Baca Juga: Sajak Cinta Politisi

Epitaf Cinta di Nisan Tua Tanpa Nama

setiap pagi ada yang mati dan minum kopi
seperti angin selalu menepi membisikkan sunyi
di pucuk-pucuk dahan yang lunglai

“Kekasih biarlah aku mengabadi di jantungMU!”

Sampai Kau kumpulkan lagi aku bersamaMU

Baca Juga: Bukan Perindu Surga

Percakapan Rahasia

Daun yang berbisik pada ranting itu baru saja jatuh
Terantuk pelan pada gigir pohon
Bersama hembusan angin yang tak kenal lelah
Hingga di sudut batu
Tempat daun bertafakur khitmad, menghikmati usia yang hampir luruh

Mengapa kau ke sini, ucap batu sambil menggeserkan sudutnya
Daunpun diam bersama desir jantung yang tak pernah diam

Baca Juga: Menulis Puisi di Media Sosial, Bermula dari Iseng Bermanfaat untuk Berliterasi

Percakapan yang Tak Pernah  Rampung Diucapkan

pada subuh yang rapuh mendengarkan tembang sinom di warung kopi pojok dermaga
selepas malam yang gelisah bersama kelebat bayang dan kenangan
masih kuingat warna helai rambut dan ruap keringatmu
seusai percakapan tak tuntas-tuntas
telah kita ciptakan pasang surut sebuah lautan
kita mencoba sembunyi di palungnya yang diam dan dalam
menyimak bagaimana sepasang camar mencebur alun
bermain-main ujung gelombang lalu sembunyi di celah celah karang
berbatang kretek telah kubakar bercangkir kopi telah diseduh
tetap saja warna helai rambut ruap keringatmu berkelebat
bersama percakapan yang tak pernah rampung diucapkan

dosen Universitas Nusantara PGRI Kediri, dan pengurus DPP Cebastra.

- Advertisement -

Berita Terbaru