Senin, September 26, 2022

Kabupaten Malang Terima Rp 80 Milliar untuk DBHCHT Tahun 2021

Berita Khusus

Berita Lain

NUSADAILY.COM – MALANG – Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang sangat berkaitan dengan pembangunan daerah Kabupaten/Kota penghasil nyatanya masih belum merata pemberlakuannya, akan tetapi khusus Kabupaten Malang, menurut laporan DBHCT tahun 2021 yang diterima sebesar Rp. 80 Milliar dari total pendapatan DBHCHT Desember 2021.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Besaran dari penerimaan DBHCHT tersebut memang rutin pada setiap akhir tahun dan pembagiannya untuk daerah Kabupaten/Kota penghasil akan dilakukan diawal tahun berikutnya.

Hingga hari ini, masalah keberadaan rokok legal sebenarnya belum terselesaikan secara menyeluruh. Maka dari itu, sosialisasi pentingnya mengkonsumsi rokok legal terus digencarkan, seperti yang dilakukan Kantor Fungsional Cukai Malang.

Menurut Pejabat Fungsional Malang Bambang Triyanto, sebagian masyarakat pedesaan memang masih banyak yang membeli rokok illegal. Akan tetapi lain halnya dengan masyarakat perkotaan yang memiliki gengsi tinggi, sehingga merek memilih rokok harga mahal dan sudah jelas lega.

BACA JUGA: Bunuh Mantan Istri, Ali Menyerahkan Diri ke Polisi

“Kita kan mengawasi Malang Raya, dibagi menjadi 3 wilayah, khusus Kabupaten Malang ini banyak warga pedesaan yang masih membeli rokok illegal yang pastinya lebih murah, padahal ada beberapa pabrik rokok yang tersebar berada di Kabupaten Malang,” katanya hari ini, Kamis (4/6/2021).

Lanjut Bambang, ini menjadi keprihatinanya sebab harusnya Kabupaten Malang dapat menerima lebih banyak DBHCHT ketimbang daerah lainnya tetapi masih terkendala dengan pembayaran DBHCHT oleh para pengusaha rokok yang masih minim dan masyarakat pembeli rokok illegal yang masih tinggi.

“Semakin DBHCHT yang diterima, semkin besar pembagiannya untuk Kabupaten/Kota sebab menurut undang undang 2 persen digunakan untuk pembagunan daerah penghasil,” pungkasnya.

Oleh sebab itu, pentingnya sosialisasi tiap daerah mengenai hal ini harus rutin dilakukan.

“Kalau peredaran rokok illegal tinggi, bagaimana bisa rokok legal dapat dijadikan kebiasaan baru? Makanya kita harus rutin mengadakan sosialisasi agar lama kelamaan keberadaan rokok illegal semakin terkikis dan rokok legal semakin eksis,” tutup Bambang. (aje/kal)

- Advertisement -

Berita Terbaru