Kamis, Januari 27, 2022

Kedigdayaan Koalisi Golkar-PD-PKS dalam Pilpres 2024

Berita Khusus

Berita Lain

IMPERIUMDAILY.COM – JAKARTA – Di era Presiden Jokowi, kedua parpol Demokrat dan PKS, kompak di luar pemerintahan di saat Gerindra dan PAN masuk koalisi Jokowi. Kabar yang beredar, Partai Golkar dan Partai Demokrat terbuka berkoalisi dengan PKS di Pilpres 2024 dengan koalisi religius-nasionalis.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai Demokrat dan PKS punya banyak kesamaan nasib politik, kedua partai solid dukung SBY dua periode.

BACA JUGA: GMPG Kritisi Turunnya Ektabilitas Partai dan Ketua Umum Golkar

“Bagi Demokrat, posisi PKS seksi. Bukan hanya karena nasibnya hampir sama, tapi berkoalisi dengan PKS itu ‘murah meriah’ dengan militansi kader yang sudah teruji. Variabel ini makin menambah kemungkinan Demokrat dan PKS akan berkoalisi di Pemilu 2024 nanti,” kata Adi kepada wartawan, Jumat (14/1/2022).

Koalisi PKS, Golkar, dan Demokrat dinilai sangat mungkin terjadi. Adi Prayitno menilai wacana memasangkan Ketum Golkar Airlangga Hartarto dengan Anies Baswedan ataupun Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono pun menguat.

BACA JUGA: Sahrul Gunawan Disebut ‘Kutu Loncat’ karena Pakai Jaket Golkar

“Sangat mungkin tiga partai ini bikin poros tersendiri, karena Golkar sangat terlihat ambisius majukan Airlangga di pilpres dan butuh banyak partai koalisi untuk maju,” ujar Adi.

“Apalagi, pada saat bersamaan sejumlah elite Golkar sering melontarkan isu soal kemungkinan Airlangga duet degan Anies, yang notabenenya dekat PKS, juga mewacanakan duet Airlangga-AHY. Jadi, kemungkinannya 100 persen ketiga partai bisa bikin poros baru di luar PDIP dan Gerindra,” lanjutnya.

Adi Prayitno menilai PDIP dan Gerindra tak terlampau melirik Airlangga untuk diduetkan dengan Prabowo atau Puan Maharani. Sehingga, dinilai tak ada pilihan lain bagi Golkar jika ingin tetap majukan Airlangga harus bikin poros sendiri.

BACA JUGA: Penjabat Gubernur DKI Jakarta Pilihan Gerindra-Golkar Pasca Anies

Sementara itu, jika poros Golkar-PKS-Demokrat terbentuk, Adi menilai paslon kuat adalah Anies-Airlangga. Pasangan ini, Anies sebagai capres dan Airlangga sebagai cawapres.

“Kalau dirangking yang terlihat Airlangga lebih kuat dengan Anies ketimbang AHY. Dengan satu catatan, Anies capresnya, bukan cawapres. Kalau AH (Airlangga) capres dan Anies cawapres agak susah mendorongnya,” ucap Adi.

“Problemnya, Airlangga mau tidak ngasih posisi capres ke Anies yang tak punya tiket partai?” tegas Adi.

Selain itu, Adi juga memberikan catatan apakah Anies bisa pertahankan elektabilitasnya setelah tak jadi gubernur. Tanpa itu semua, menurut Adi, Anies selesai tahun ini karena akan banyak figur lain yang bermunculan.

BACA JUGA: Kader Golkar Daerah Tuntut AH Mundur dan Gelar Munaslub

PKS sebelumnya membuka peluang membangun koalisi dengan poros nasionalis-religius di Pilpres 2024 nanti. Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan Golkar pasti akan membuka komunikasi dengan semua partai.

“Oleh karena itu, bagi Partai Golkar, membuka komunikasi dengan partai mana pun tentu sebagai bagian dari langkah politik untuk menyamakan persepsi dan kemungkinan penjajakan membangun agenda bersama terkait masalah kebangsaan,” kata Ace kepada wartawan, Jumat (14/1).

Ace mengapresiasi langkah PKS yang membuka peluang koalisi dengan poros nasionalis dan religius. Menurutnya, langkah itu bentuk penjajakan untuk menyamakan persepsi antarpartai.

BACA JUGA: Pamer Koleksi Mewah, Inul Daratista: Ini Modal Nyanyiku

“Langkah PKS membuka komunikasi dengan partai nasionalis religius di Pilpres 2024 harus dipahami sebagai bagian dari penjajakan untuk menyamakan persepsi dan menemukan titik temu,” ujarnya.

Sementara itu, Partai Demokrat tertarik dengan koalisi poros nasionalis religius di Pilpres 2024. Hal itu disebut sesuai dengan jati diri Partai Demokrat.

“Wacana koalisi partai berlatar belakang nasionalis dan religius pada Pilpres 2024 mendatang tentunya menarik, apalagi bagi Partai Demokrat yang memiliki jati diri sebagai partai nasionalis-religius,” kata Deputi Bappilu Partai Demokrat Kamhar Lakumani kepada wartawan, Jumat (14/10).

Partai Demokrat, kata Kamhar, terbuka dengan koalisi partai berlatar belakang nasionalis-religius. Meski begitu, saat ini Demokrat belum memikirkan koalisi untuk Pilpres 2024.

“Partai Demokrat adalah partai terbuka yang senantiasa menjaga komunikasi politik dan hubungan baik dengan partai politik lainnya. Sesuai dengan jati diri partai nasionalis-religius, secara prinsip tak ada hambatan atau faktor pembatas bagi Partai Demokrat untuk membangun kerja sama dengan partai yang berlatar belakang nasionalis maupun religius,” ujarnya.(han)

- Advertisement -

Berita Terbaru