Sabtu, Desember 4, 2021

Melihat ‘Bangkrut Berjamaah’ Pengusaha Mal di Indonesia

Berita Khusus

Berita Lain

IMPERIUMDAILY.COM – JAKARTA – Selama pandemi, setidaknya tercatat sudah ada beberapa pusat perbelanjaan yang akhirnya harus terkena imbas sangat parah, baik diobral hingga tutup operasional.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

BACA JUGA: Eks Markas Pemadam Jadi Batu Tourism Mall

Korban pandemi terus berjatuhan, banyak pelaku usaha menjual asetnya.

Kini giliran pengusaha pusat belanja atau mal yang menjual aset properti, bahkan tidak sedikit yang berakhir harus tutup.

Cibinong Square

Cibinong Square menjadi nama teranyar pusat perbelanjaan yang masuk daftar jual. Lokasinya berada di wilayah Cibinong, Kabupaten Bogor atau yang terletak di samping Cibinong City Mal (CCM). Namun, aksi jual ini bukan hanya menyangkut mal, melainkan satu area komplek.

“Jual paket, bukan mal saja. Komplek itu ada pabrik, garmen dan futsal jadi dipaketin semua, semuanya,” kata broker dari The Premiere Audy Sanjaya, dikutip dari CNBC Indonesia, Senin (25/10/21).

Dari informasi yang disampaikan, komplek mal ini memiliki luas tanah 9.200 m2, luas bangunan 10.000 m2, lebar depan 25 m2, 5 lantai, 16 kamar mandi, menghadap ke selatan serta dengan sertifikasi Hak Guna Bangunan (HGB), penjual juga mengklaim izinnya sudah komplit.

“Nett Rp 550 miliar, nggak ada nego, pas. Karena bukanya di Rp 600 miliar,” kata Audy.

Ubertos Bandung

Sebelumnya, di wilayah Jawa Barat lain sudah ada rencana mal untuk dijual. Salah satu yang cukup disorot adalah Ujung Berung Town Square (Ubertos). Di sosial media beredar info mal ini dijual dengan harga Rp 450 miliar. Luas lahannya tercantum 26.010 meter persegi dan terdiri dari 4 lantai. Lahan parkir Mall Ubertos diklaim mampu menampung 500 mobil dan 1.000 motor.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Bandung Raya, Hadiyanto Lie tak menampik soal kabar ini. Ia bahkan mengakui bila kondisi makin sulit meski di tengah pelonggaran kegiatan bisnis, napas pengusaha mal sudah habis untuk bertahan.

“Nggak menutup kemungkinan itu terjadi kalau kondisi mal begini terus, karena pengusaha mana yang mana akan kuat, bukan cuma sektor mal, tapi industri juga banyak yang gulung tikar. Ekonomi nggak jalan,” kata Hadiyanto Lie kepada CNBC Indonesia, Jumat (27/8/21).

Ia menyadari bahwa melepas aset saat kondisi seperti ini tidak mudah. Banyak pengusaha yang lebih menahan diri untuk tidak ekspansi dibandingkan jor-joran investasi, utamanya di sektor yang mendapat banyak pembatasan.

“Karena kan jual mal nggak gampang, ratusan miliar, dengan kondisi gini pengusaha mana yang mau investasi seperti itu?” tanyanya.

Matahari Bogor

Pusat perbelanjaan yang harus tutup memang terus bertambah. Gerai ritel Matahari Department Store (LPPF) yang berdiri sendiri di Jalan Kapten Muslihat, Kota Bogor, Jawa Barat, juga resmi ditutup pada bulan lalu.

“Kami informasikan bahwa terhitung tanggal 16 September 2021 toko kami ditutup untuk umum. Terima kasih atas perhatian dan dukungan anda selama ini,” tulis manajemen di depan toko.

Direktur Independen LPPF Miranti Hadisusilo membenarkan kabar itu. “Iya benar, penutupan gerai di Bogor masuk dalam rencana penutupan 13 gerai Matahari di tahun ini,” ujar Miranti, saat dikonfirmasi CNBC Indonesia.

Miranti mengatakan, penutupan empat gerai ini sejalan dengan rencana perseroan menutup 13 gerai di tahun ini.

“Tahun ini sudah ditutup 4 gerai. Iya benar, penutupan gerai di Bogor masuk dalam rencana penutupan 13 gerai Matahari di tahun ini,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (23/9/2021).

Dijelaskannya, alasan penutupan gerai itu lantaran secara bisnis gerai yang ditutup itu belum memberikan keuntungan yang signifikan bagi perusahaan dan bukan terdampak pandemi Covid-19.

Golden Truly

Pusat perbelanjaan Golden Truly yang berlokasi di Jalan Gunung Sahari nomor 59, Jakarta Pusat juga resmi menutup operasionalnya. Ini dilakukan sejak 1 Desember 2020.

Pihak manajemen menyatakan bahwa mal itu akan dikelola dengan pengembang baru. Mereka pun mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan kesetiaan para pelanggan selama ini.

“Kepada seluruh customer loyal kami. Terima Kasih atas kepercayaan dan kesetiaan terhadap Mall Golden Truly selama hadir di Jl Gunung Sahari. Mulai tanggal 1 Desember 2020, Mal di Jl Gunung Sahari no 59 akan dikelola oleh pengelola gedung baru,” tulis pernyataan resmi di Instagram @goldentruly

Namun ternyata ada fakta lain di balik langkah tersebut. Hal itu disampaikan Anggota Dewan Pembina Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia Handaka Santosa dalam program PROFIT CNBC Indonesia, Kamis (3/12/2020).

“Memang Golden Truly saat ini ditutup sudah beberapa hari yang lalu tidak beroperasi lagi. Tapi kalau kita lihat peruntukannya sebetulnya mall Golden Truly ini kan sudah dijual sejak beberapa tahun yang lalu bukan pada karena pandemi ini,” ujar Handaka.

Ramayana

Masih teringat video viral sempat beredar terkait penutupan gerai Ramayana yang diwarnai tangis karyawan di gerai Depok beberapa waktu lalu.

Hal itu bagian dari langkah penutupan gerai juga dilakukan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. Sebanyak 13 gerai ditutup sementara karena penurunan penjualan akibat pandemi Covid-19. Aksi ini dilakukan sejak akhir Maret 2020 lalu.

Sebanyak 87 karyawan tetap Ramayana di Ramayana City Plaza Depok, Jawa Barat, terkena PHK. Kabar PHK itu awalnya berembus dari sebuah video yang viral dari akun Twitter @wawat_kurniawan. Video yang juga diperoleh CNBC Indonesia itu berisikan sejumlah karyawan yang berseragam merah muda-abu saling berpelukan dan menangis.

Informasi PHK itu pun dibenarkan oleh Store Manager Ramayana City Plaza Depok M Nukmal Amdar.

“Ada 87 karyawan, yang benar itu. Yang beredar ada ratusan, segala macam. Yang benar 87 yang kita proses PHK sesuai dengan ketentuan,” kata Nukmal, Rabu (8/4/2020).

Penyebab dari PHK yang dilakukan Ramayana ini terkait dengan dampak ekonomi dari virus Corona yang menekan penjualan gerai tersebut.

BACA JUGA: PPKM Level 4 Banda Aceh Melarang Anak Di Bawah Umur Masuk Mall

” Ya sudah tidak mampu menutupi lagi biaya-biaya operasional. Di tengah pandemi ini dengan prediksi sales kita ke depan ya sudah diperhitungkan memang sudah tidak mampu lagi,” tegas Nukmal.(han)

- Advertisement -
- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru