Senin, September 27, 2021

Seruan Aksi Nasional Jokowi End Game Ramai di Medsos, Ini Kata Jamiluddin Ritonga

Berita Khusus

Berita Lain

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Merebaknya Sebaran Aksi Nasional yang bertitelkan Jokowi End Game yang rencananya akan digelar hari ini Sabtu (24/7/2021) dengan seruan melakukan aksi long march dari kawasan Glodok hingga Istana Oresiden ditanggapi oleh Pengamat Komunikasi Politik Esa Unggul Jamiluddin Ritonga.

Dirinya mengatakan jika memang aksi itu memang terlaksana, menurutnya hal itu dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak puas terhadap pemerintah, khususnya dalam penanganan Covid-19. Mereka tampaknya kecewa atas pelaksanaan PPKM yang membuat kehidupannya semakin susah.

“Dari hasil survei terbaru juga menunjukkan semakin banyaknya anak bangsa yang tidak puas atas kinerja pemerintah, karena sebagian masyarakat menilai hidup makin susah dan semakin banyaknya pengangguran, ” ucapnya kepada Nusadaily.com, Sabtu (24/7/2021).

BACA JUGA: Jalan Sekitar Monas Ditutup, Antisipasi Demo Jokowi End Game

Tidak hanya itu, Jamiluddin juga merinci dari hasil survei tersebut adanya penurunan pendapatan per kapita pada tahun 2020 US$ 3.870. Padahal pada tahun 2019 lalu pendapatan per kapita mencapai sebesar US$ 4.050.

“Sehingga, Indonesia turun kelas ke negara berpendapatan menengah ke bawah (lower middle-income country, ” Ujar Jamiluddin.

Ia menambahkan, hal Itu menunjukkan daya beli masyarakat semakin rendah. Ini tentu menggambarkan semakin sulitnya kehidupan masyarakat.

“Selain itu, sebagian masyarakat juga merasakan adanya penurunan kebebasan berekspresi, ini terlihat dari merosotnya indeks demokrasi di Indonesia,” urai Jamiluddin.

Tampaknya, kata Jamiluddin membuat anak bangsa kecewa, sehingga mendorong mereka untuk menyampaikan aspirasi.

“Dalam negara demokrasi tentu penyampaian aspirasi dijamin oleh konstitusi. Karena itu hak, maka tidak boleh ada yang menghalanginya,” tegasnya.

BACA JUGA: Beredar Seruan ‘Jokowi End Game’ di Medsos, Polisi: Kuburan Penuh!

Namun demikian, dia menilai mengingat saat ini kasus Covid-19 masih sangat tinggi, dikhawatirkan aksi semacam itu menimbulkan kerumunan dan situasi seperti ini memberi peluang penularan corona semakin tidak terkendali.

“Tentu tidak ada anak bangsa yang menginginkan pandemi Covid-19 terus tidak terkendali di Indonesia. Semua anak bangsa ingin pandemi ini cepat berlalu. Karena itu, perlu dipikirkan ulang apakah momen aksi semacam itu dapat dilaksanakan disaat penularan corona yang masih sangat tinggi ? Kiranya ini menjadi pertimbangan bagi inisiator aksi untuk mengurungkan niatnya melaksanakan aksi tersebut,” pungkasnya.(sir/lna)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru