Senin, September 26, 2022

Payung Rajut Kreasi Warga Kota Batu Bergaung di Ajang Fespin 2022 Solo

Berita Khusus

Berita Lain

IMPERIUMDAILY.COM-KOTA BATU– Merajut menjadi aktivitas kreatif bagi Ernawati, warga Kelurahan Temas, Kota Batu. Perempuan berkerudung itu menekuni seni rajut sejak masih duduk di sekolah dasar. Baru, pada 2017 ia intens menggeluti proses kreatif itu.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Dari tangannya itu, Ernawati menelurkan karya payung rajut dengan pola empat motif batik dalam satu bingkai bundar. Karyanya itu dipilih sebagai pemenang kategori kreatif payung rajut dalam Festival Payung Indonesia (Fespin) bertema “Batik Nusantara” yang digelar di Puro Mangkunegaran Solo pada 2-4 September.

“Saya nggak nyangka menang kategori kreatif payung rajut. Soalnya karya-karya yang ditampilkan peserta lainnya bagus-bagus semua. Total ada 99 peserta yang ikut,” kata Erna saat ditemui di rumahnya di Jalan Pattimura gang 1 nomor 38B, Kelurahan Temas.

Warna krem dipilih sebagai pengisi latar payung berdiameter 80 centimeter dikombinasikan dengan warna coklat pada sisi tepi melingkar. Dari segi dekoratif, ia menggabungkan empat motif batik, yakni parang barong, mega mendung, kawung dan gajah uling. Keempat motif itu dikemas dalam satu bingkai melingkar dengan komposisi warna pas dengan latar.

“Ada empat kriteria yang dinilai dewan juri. Pilihan media, teknik, kreativitas dan keanggunan,” tutur Erna.

Teknik Tapesri Undang Ketertarikan Juri

Erna menerapkan beberapa teknik dalam proses kreatif pembuatan payung rajut. Salah satunya teknik tapesri yang mengundang ketertarikan dewan juri pada payung rajut buatan Erna. Payung rajut berangka bambu dengan diameter 80 centimeter dan jari-jari 20 buah itu digarap selama sebulan.

“Kalau rangka disediakan sama panitia, terus dikirimkan ke sini. Baru dapat inspirasi itu awal Agustus. Saat itu sudah mulai menuangkan kreasi,” tutur dia.

Kini payung rajut motif batik buatannya masih dibawa berkeliling ke berbagai daerah untuk diperkenalkan di setiap event sektor kreatif. “Beberapa hari lalu dipamerkan di Canggu, Bali. Terus nanti dipamerkan lagi di daerah-daerah lain. Mungkin setahunan dikembalikan ke saya,” ujar dia.

Fespin 2022 yang digelar di Solo menjadi pengalaman kedua bagi Erna. Pada 2019 lalu, dirinya pernah mengirimkan karya payung rajut di ajang Fespin bertema Sepayung Daun yang diselenggarakan di pelataran Candi Prambanan. Meski baru pertama berpartisipasi, karya payung rajut Erna mampu menembus 25 besar dari total 188 peserta.

“Itu masih pertama mencoba merajut payung dan langsung diikutkan Fespin 2019. Butuh kejelian merajut payung untuk membentuk pola yang proporsional. Karena bentuknya melingkar. Terus mulainya dari ujung paling kecil kemudian melebar ke tepi,” ungkap Erna.(wok)

- Advertisement -

Berita Terbaru