Kamis, Oktober 28, 2021

Siaga, BPBD Kota Batu Tambah 6 Alat Deteksi Longsor

Berita Khusus

Berita Lain

NUSADAILY.COM -KOTA BATU- Pergerakan tanah yang memicu bencana tanah longsor rawan terjadi di Kota Batu yang didominasi topografi perbukitan berkontur miring. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu telah memetakan beberapa wilayah di Kota Batu dengan kerawanan tinggi potensi longsor.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Kecamatan Bumiaji menjadi kawasan yang berpotensi tinggi rawan longsor karena topografinya berkontur miring. Titik-titik potensi longsor di Kecamatan Bumiaji berada di Sumber Brantas sisi timur laut, Tulungrejo, Gunungsari, Sumbergondo. Selain itu, satu titik berada di wilayah Songgokerto, tepatnya di kawasan wisata Payung.

Tindakan kesiapsiagaan dilakukan BPBD untuk meminimalisir dampak kerugian yang ditimbulkan bencana longsor. BPBD Kota Batu menargetkan 15 unit pemasangan early warning system (EWS) pendeteksi tanah longsor.

Kepala BPBD Kota Batu, Agung Sedayu mengatakan, saat ini 4 unit EWS telah dipasang. Keempat alat itu, satu berasal dari pengadaan melalui APBD.

Satu lainnya bantuan dari BNPB dan dua unit lagi bantuan dari Dinas ESDM Provinsi Jatim. Agung mengatakan, akan menambah pemasangan alat pendeteksi longsor secara bertahap untuk merealisasikan 15 unit EWS.

“Tahun 2021 akan dilanjutkan penambahan enam unit lagi. Usulan itu sudah dianggarkan dalam keuangan daerah 2021. Pihak legislatif juga mendukung hal tersebut sebagai bentuk perlindungan kepada masyarakat,” papar Agung.

Per unit alat pendeteksi longsor itu membutuhkan anggaran sekitar Rp 110 juta. Untuk ekstensometernya saja sekitar Rp 55 juta dan warning sistemnya sekitar Rp 47 juta.

Cara kerja alat ini mengidentifikasi pergerakan tanah yang dideteksi kabel baja ekstensometer. Kabel baja akan tertarik dan mentransmisikan sinyal ke alat warning system. Sehingga membunyikan alarm, pertanda adanya pergeseran tanah atau gerakan tanah.

“Pemasangan alat tersebut diprioritaskan pada lokasi yang berada di kelerengan yang rawan bencana. Dan di bawahnya lereng terdapat permukiman dan kerapatan vegetasi mulai berkurang atau jarang,’’ lanjut Agung.

BPBD juga telah menyiapkan langkah mitigasi, baik struktural maupun non struktural. Langkah struktural seperti penghijauan yang dilakukan di awal tahun lalu yakni penanaman rumput vertivier.

Sedangkan upaya mitigasi non struktural dilakukan dengan pemberian sosialisasi kepada masyarakat untuk memperhatikan lingkungan. Kemudian melakukan analisa kontinjensi.

Serta membentuk desa tangguh untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terutama pada daerah rawan longsor.

“Ada 15 desa/kelurahan desa tangguh di Kota Batu. Seluruh desa/kelurahan ditargetkan sebagai desa tangguh bencana,” terang Agung. (wok/wan)

- Advertisement -
- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru